Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
PENEMUAN


Mau bagaimana lagi. Dira mengerti kenapa Matteo takut mengundang papahnya. Ia tahu benar Ernesto itu sangat kaku seperti spageti belum dimasak. Dira sendiri kadang malas berbicara dengan papahnya karena alasan itu, apalagi orang lain.


"Mau ke mana?" tanya Bia saat turun dari lantai atas karena penasaran dengan tujuan Matteo dan Cynthia datang ke rumah.


"Nganterin Matteo ke rumah papah. Katanya malu kalau ke sana sendiri. Mau ngundang karena mereka mau nikah," jelas Dira.


Bia terkekeh. "Padahal undangannya sudah jadi lama, kenapa baru ngundang papahnya sekarang?" tanya Bia merasa aneh.


Dira memandang Matteo. "Katanya beres tiga hari lagi? Terus kenapa Bia bisa tahu kamu mau nikah sementara aku tidak?" tegur Dira.


Matteo sudah memberi kode, rupanya Bia tidak mengerti kode itu. "Aku kirim sample undangan ke Nyonya Dira. Maksudku minta masukan apa yang kurang. Sampai sekarang belum beri komentar juga, makanya terlambat," keluh Matteo.


Bia menggaruk kening. "Jadi itu sample?" tanya Bia sambil nyengir.


Matteo dan Cynthia tertawa. "Lha, memang Nyonya gak lihat di kertas undangannya ada watermark samplenya?"


Bia menunduk malu. Dia terlalu pusing dengan dua anak balita hingga perhatiannya hilang untuk lingkungan sekitar. "Maklum ibu-ibu!"


"Pantesan ditunggu komentarnya tetap sepi," keluh Matteo.


Dira yang manyun. Di sini hanya dia yang tidak tahu apa-apa. "Ayo pergi, sebelum aku kesal karena tak dianggap, nih!" keluh Dira.


"Maaf, pah. Abis kamu lagi di luar negeri. Terus besoknya kamu nelpon, aku kesenengan jadi lupa," alasan Bia.


Jadilah Dira dan Matteo pergi ke kediaman keluarga Kenan sementara Cynthia masih berada di rumah Dira menemani Bia. "Dir, papahmu bakalan ngatai aku, gak?" tanya Matteo masih ragu.


"Kamu pernah bicara sama dia, kan? Sekarang masih hidup kamu tuh," ledek Dira.


Matteo mendengus. Ia masih berkonsentrasi pada mobilnya. Hanya lima menit mereka akan tiba di rumah besar itu. Tak jauh dari gerbang rumah, tepatnya 10 meter sebelum Dira melihat gerbang rumahnya, ia melihat seorang wanita berdiri di sisi jalan.


Mata Dira cukup tajam dan daya ingat semakin membantu. Dira menepuk lengan Matteo. "Teo! Berhenti di depan, lebih maju sedikit. Jangan pas depan rumahku. Berhenti di seberangnya," saran Dira.


Matteo mengangguk, ia kemudikan mobil lebih ke sisi kiri - melebihi gerbang rumah Ernesto kira-kira dua meter atau tepat di depan gerbang rumah di seberangnya.


"Tuh, kamu juga ragu ngasih tahunya, kan?" todong Matteo. Dira menyimpan telunjuk di depan bibir. "Ada apa sih, Dir?" tanya Matteo bingung.


"Matikan lampu mobil!" titah Dira. Matteo mengangguk. Lekas Matteo mematikan mesin mobil juga lampunya. Dira pindah ke belakang sampai melangkahi sandaran kursi mobil. Matteo garuk-garuk kepala melihat perilaku Dira.


"Heh, Dir. Kalau mau mesum, aku masih normal," sindir Matteo.


Dira menoyor kepala Matteo lalu mengintip dari jendela belakang. Ia ingin turun, tapi takut ketahuan. Dari posisi ini saja wajah perempuan itu lumayan jelas. Dira mengambil ponselnya. Ia gunakan kamera ponsel canggihnya yang memang memiliki teknologi low light. Dari layar ponsel terlihat jelas wajah wanita itu.


"Kenapa?" tanya Matteo semakin penasaran.


"Kamu tahu trainee yang kena kasus video asusila?" tanya Dira. Matteo mengangguk. "Dia ibunya. Aku ingat jelas. Sudah dua kali aku lihat wanita itu."


Matteo bisa langsung percaya pada Dira. Ia tahu Dira cerdas dan mudah mengingat wajah orang. "Ngapaian dia di depan rumah orang tua kamu? Apa dia pikir kamu tinggal di sana dan mau mohon-mohon?" tebak Matteo.


Dira menggeleng. Anggap saja begitu, hanya banyak yang tahu jika Dira tak tinggal di rumah itu. Mana mungkin dia tak mengeceknya dulu. Dira masih di sana menikmati kegelapan dalam mobil bersama Matteo demi mengetahui jawaban atas keberadaan wanita itu.


Tak lama sebuah mobil lewat. Mobil hitam dengan merk terkenal mahal. Dira mengenali mobil itu dengan baik. Hanya mobil papahnya, karena Ernesto sangat tabu berganti mobil kurang dari satu tahun. Ia juga tak pernah menukar mobilnya dengan mobil lain yang ada di rumah, juga tak membiarkan siapapun meminjam mobilnya.


Dira mengangkat alis. Apalagi melihat mobil papahnya menepi tepat di depan wanita itu. Jantung Dira berdebar dan memburu. Terasa tak tenang mengusik hingga bagian terdalam sanubari.


Kaca mobil hitam bagian belakangnya terbuka. Wanita itu mendekati mobil dan sedikit menunduk. "Jal*ng! Anak sama ibu gak ada bedanya!" umpat Dira. Dia tak ingin salah sangka, hanya sudah salah sangka. Meski diusir rasa curiga itu pun, tetap saja curiga.


Perempuan itu terlihat menangis sambil mengusap air mata. Dira meremas ponselnya. Hari ini dia mengalami tiga peristiwa menyebalkan sekaligus. Video asusila menyebar membawa nama agensinya, masalah Zayn dan Divan, sekarang misteri hubungan ibu mantan traineenya dengan papahnya.


"Apa di dunia ini gak ada orang normal? Sudah tua saja gak tahu diri!" maki Dira.


Matteo melihat adegan itu juga dari kursi kemudi. "Mau turun terus melabrak?" tanya Matteo.


Dira menggeleng. "Biar aku kumpulkan bukti dulu. Kalau begini pasti papah berkelit. Dia bukan sainganku. Bisa-bisa aku yang kalah. Cantikan Mamah Maria kemana-mana!" umpat Dira.


Matteo tak bisa berkomentar karena itu urusan internal keluarga Dira. "Jangan marah dulu, sebaiknya dibicarakan," saran Matteo.


"Anak mana yang terima mamahnya diselingkuhi. Aku harus beri tahu Daren dan Dustin. Ini gak baik," tegas Dira. Ia mengambil video. Kamera iph*ne 12 max pro memang canggih hingga mengambil video dengan jelas di cahaya intensitas rendah.


Perempuan itu mundur. Kaca mobil dinaikan kembali lalu mobil Ernesto belok masuk ke dalam gerbang rumah. Dira merasa semakin kesal melihat wanita itu nampak senang. Belum lagi ada sebuah amplop di tangannya yang diberikan Ernesto.


Dira mematikan video. Ia telpon Daren lebih dulu. Dustin terlalu berisik, apalagi dia ada di rumah. Pasti dia sudah membesarkan masalah duluan sebelum jelas.


"Daren, ada di rumah gak?" tanya Dira.


Daren manyun. "Adik laknat! Nelpon bukannya nyapa atau nanya kabar langsung sikat saja!" protes Daren.


"Aku masih di kantor. Ada apa?" lanjut Daren.


"Aku ke sana sekarang," tegas Dira.


🍁🍁🍁