
Dira terbangun lagi tengah malam. Kali ini bukan karena keresahan, ia bangun untuk memeriksa keadaan istrinya. Bia beberapa kali bergeser seperti mencari posisi nyaman. Dengan sigap Dira mengambil bantal dan menyimpannya di sisi kiri punggung Bia. Menurut artikel yang ia baca, katanya itu membuat ibu hamil lebih nyaman - padahal maksudnya ketika hamil tua.
"Tidur nyenyak, ya? Sehat selalu. Aku pasti jagain kamu," ucap Dira pelan sambil membelai rambut Bia. Tak lama tangannya berpindah ke perut. Apa yang Dira lakukan ternyata cukup berhasil. Bia terlihat tidur dengan tenang.
Melihat wajah damai Bia ketika tidur membuat Dira tersenyum. "Gak sangka, sahabatku yang dulu gak bisa pakai sepatu sendiri, makan belepotan, sampai gak bisa nyerut pensil, kini jadi ibu anakku. Ibu yang luar biasa," puji Dira. Ia kecup kening Bia lagi. "Makasih banyak, istriku."
Matanya teralih ke arah pintu. Samar-samar pintu terlihat karena yang menyala hanya lampu tidur yang kini bentuknya sudah kotak semua. Dira turun dari tempat tidur. Kakinya berjalan tanpa alas kaki menuju pintu dan membukanya.
Suasana rumah sepi karena hanya beberapa ada Dira, Divan, Bia dan Mrs. Carol yang tinggal di sana. Sementara para pelayan jika malam beristirahat di paviliun rumah.
Kaki Dira terus melangkah, melewati rak televisi juga sofa di ruang keluarga dan sampai di pintu kamar Divan yang pintu putihnya digantungi hiasan pororo. Pelan-pelan Dira membuka daun pintunya. Divan terlelap tidur sambil menutup tubuhnya dengan selimut sampai leher.
Tak cukup hanya mengecek Divan, Dira berjalan menuju putranya. Ia duduk di sisi tempat tidur, mengusap rambut Divan lalu mengecupnya. Garis-garis wajah putranya itu sangat mirip dengannya saat kecil dulu. Bahkan sikapnya juga sama. Meski ada satu hal yang Dira syukuri, Divan tak pernah memendam perasaan seperti dirinya.
"Maaf, ya. Sekarang kamu harus berbagi dengan adikmu. Divan jangan takut, rasa sayang papah gak berubah. Divan sama adik sama-sama papah sayang. Divan segalanya buat papah," ucap Dira.
Matanya tanpa sengaja melihat buku dongeng di atas tempat tidur. Seingat Dira sebelum Divan tidur, ia sudah menyimpan buku itu di rak. Dira tersenyum. "Kamu diam-diam bangun dan baca buku sendiri?" tanyanya meski tak ada jawaban dari Divan.
Dira terperanjat mendengar suara pintu kamar Divan seperti dibuka lebih lebar. Ia berpaling ke pintu dan menemukan Mrs. Carol di sana.
"Tuan Muda belum tidur?" tanya Mrs. Carol.
"Belum, Bu. Khawatir sama Divan, jadi ke sini. Ibu istirahatlah, nanti lelah. Divan aktif sekali sekarang pasti," saran Dira.
Mrs. Carol menggeleng. "Jangan terlalu khawatir dengan Bia dan Divan sampai sakit. Sebentar ...." Mrs. Carol meninggalkan kamar Divan.
Dira masih menunggu di sana sambil mengusap rambut Divan. Tak lama Mrs. Carol kembali sambil membawa sebuah buku dengan sampul plastik hitam berpola kulit jeruk.
"Coba lihat ini, mungkin akan sedikit mengurangi apa yang jadi beban Tuan Muda," saran Mrs. Carol.
Setelah Mrs. Carol meninggalkan kamar Divan, Dira naik ke tempat tidur putranya dan duduk dengan kaki terlentang di samping Divan yang tengah terlelap. Dira membuka buku dengan sampul hitam itu. Ia tertegun, itu foto Bia dan Divan saat putranya itu lahir.
Dira mengusap wajah istrinya di foto yang terlihat begitu damai menatap wajah mungil Divan yang baru saja lahir ke dunia. Air mata menetes ke foto. "Aku mau di sana. Aku mau ada di sana, sama kamu. Meluk kamu, gendong Divan," ucapnya sambil meneteskan air mata.
Ia buka lembaran selanjutnya. Foto-foto Divan saat sedang menelungkup, duduk hingga merangkak ada di sana. Moment yang sangat ingin Dira lihat, akhirnya bisa ia lihat meski dalam foto. Dira melirik ke arah Divan. Ia mengusap air matanya.
Tanpa sengaja ketika Dira menggeser album itu, sebuah flash disk jatuh dari sekat fotonya. Lekas Dira mengambil flash disk. Karena penasaran, pria itu membawa flash disk ke ruang kerja.
Tiba di meja kerjanya, Dira membuka laptop dan menyambungkan USB itu pada laptopnya. Ada beberapa video di sana lengkap dengan tanggal kapan video itu diambil. Sepertinya flash disk ini dibuat Bia karena begitu rapi diberi judul dan waktu. Dira membuka file video paling lama.
Ini video ketika Divan berusia satu bulan. Ia mulai membuka tutup matanya dan menguap serta menggerak-gerakkan tangan. Wajah ovalnya dengan pipi tembem nampak lucu memakai topi warna kuning.
Video selanjutnya memperlihatkan saat Divan belajar menelungkup, sampai saat dia belajar merangkak. Bagian paling menyentuh saat ia mulai berceloteh mengeluarkan satu kata.
"Mamah, papah! Papah!" ucapnya sambil menunjuk ke arah pintu karena layar kamera Bia sorotkan ke pintu.
"Bukan papah, itu bunny," ralat Bia. Karena memang di pintu rumah itu ditempeli gambar Bugs Bunny.
Hati Dira tersayat lagi. Harusnya saat Divan panggil begitu, Dira akan datang dan memberikan pujian serta pelukan hangat. Ia tak ada saat itu.
Video selanjutnya terlihat Bia menuntun Divan jalan-jalan. Anak itu berceloteh menyebutkan banyak benda meski salah.
"Toeyi!" tunjuk Divan pada strawberri yang dijual di toko buah.
"Betul, itu strawberry. Divan suka strawberry?" tanya Bia.
Divan menatap ke arah video dengan mata bulatnya yang berbinar. "Makan. Hap!" tunjuknya ke arah mulut mungilnya yang tengah terbuka.
Divan berjalan lagi. Ia mengucap kata 'wah' setiap kali melihat sesuatu yang membuatnya takjub. Hingga ia menunjuk di tengah keramaian orang-orang di taman. "Papah!" panggilnya. Napas Dira terasa sesak.
"Bukan, itu bukan papah. Itu papah orang lain," jelas Bia.
"Papah! Papah!" panggil Divan sambil menunjuk semua pria yang tengah bersama anak kecil di sana.
Bia mengusap rambut Divan. "Iya, nanti ketemu papah, tapi itu bukan papah."
"Hmm ... papah!" Divan tetap bersikeras.
Malam ini Dira berderai air mata. Ia usap layar laptopnya. "Apa, Nak. Ini papah," ucapnya. Penyesalan, kekecewaan pada dirinya kembali mengerubungi. "Maafin papah, ya?" ucapnya.
Dira berdiri dari kursi kerjanya. Ia berlari menuju kamar Divan. Dipeluknya putra kecilnya itu. "Divan, papah janji ... kapan Divan panggil papah, pasti papah datang. Janji!" ucapnya.
🍁🍁🍁
Episode ini mengandung bawang. Harap pembaca bijak. Kalau nangis, tissue bekas ingusnya dibuang ke tempat sampah, jangan ke tempat mantan. Apalagi ke wajah suami, dosa.