Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Pria Yang Pintar Memasak


Ketika terbangun, Bia nyengir sendiri. Tangan Dira yang memiliki otot-otot kekar masih menggerakkan jemari menyentuh dada Bia meski matanya masih menutup. Semalaman mereka sempat berdebat tentang salah satu bagian sensitif milik Bia itu. Bia bilang ukurannya tetap sama karena ukuran pakaian dalam yang ia gunakan tetap C. Namun, Dira kukuh jika bagian itu lebih besar.


Bia menepis tangan Dira. Ia meraih-raih handuk di nakas untuk menutupi tubuhnya yang kehilangan cangkang akibat perbuatan Dira semalam. Bia berjalan ke kamar mandi. Ia kaget, di sana sudah disiapkan alat-alat mandi yang berpasangan. "Apa sejak awal dia sudah berencana agar kami tinggal di kamar yang sama?" Bia berharap jawaban pertanyaannya adalah iya.


Selesai mandi, Bia naik kembali ke tempat tidurnya. Ia menyandarkan kepala di punggung Dira yang tidur menelungkup.


"Sekarang tubuhnya jauh lebih besar dan tegap," batin Bia. Prianya sudah jadi orang yang benar dewasa. Bahkan ketika mereka bermain gendong-gendongan semalam, Bia bisa melihat perut Dira yang kotak-kotak hingga enam potongan. Persis roti sobek di mini market terdekat tempat Bia menukar voucher hadiah deterjen dengan piring cantik.


"Dir! Bangun! Masakin aku, donk!" pinta Bia sambil mencubit-cubit pipi Dira. Ia lupa jika libur tak ada yang bisa membangunkan suaminya.  Namun, Bia tak menyerah begitu saja. Sengaja ia cium bibir Dira. Berhasil, pria itu langsung terbangun. Sayangnya, Dira malah menarik tangan Bia dan memeluknya erat.


"Kenapa? Mau sesi selanjutnya?" canda Dira.


Bia manyun. "Mau dimasakin, hari ini aku ulang tahun, lho!" tagih Bia.


Giliran Dira yang manyun. "Gak ada yang lebih menyengkan daripada masak apa?" protesnya.


"Apa?"


"Gak keluar kamar seharian."


Kesal, Bia menepuk keras lengan Dira. Pria itu malah cengengesan. "Gak, Divan masih kecil. Belum saatnya punya adik."


Dengan susah payah Bia bangkit. Ia tarik lengan Dira dan memaksanya bangun. Jahilnya, Dira sengaja menyingkap selimut. Bia langsung menutup mata! "Apa sih? Bikin malu saja!"


Jelas sekali Dira tertawa lepas. Sengaja ia turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi tanpa sehelai pakaian. Bia menutup mata dengan bantal. "Dira! Nyebelin kamu!"


"Lha, semalaman saja lihat gak malu!" ucap Dira sambil menutup pintu kamar mandi. Setelah terdengar suara pintu tertutup, Bia langsung turun dari tempat tidur.


"Bia!" panggil Dira yang mengintip dari daun pintu. "Ambilkan kemeja biru di lemari."


Bia mengangguk. Ia berjalan ke salah satu pintu di ruangan itu. Setelah mandi, Bia mengenakan pakaian yang sama dan baru berganti di kamar Divan. Karena itu, Bia tak melihat isi walking closet Dira. Begitu pintu ruangan itu terbuka, mata Bia terbelalak. Betapa banyaknya pakaian di ruangan itu hingga Bia kesulitan menemukan kemeja yang Dira maksud.


Jas-jas berbagai warna tergantung di lemari kiri dan kaos serta kemeja berada di sebelah kanan. Di depan ada lemari sepatu dan di tengah ruangan ada rak etalase tempat aksesoris dan jam tangan.


"Pakaian sebanyak ini apa bisa ia pakai semuanya?" Bia menggaruk kepala meski tidak gatal. Ia mulai mencari di bagian kemeja. Hingga baru sadar jika kemeja-kemeja itu di susun sesuai warna. Masalahnya yang warna biru banyak.


Bia berlari ke luar ruangan lalu mengetuk pintu kamar mandi. Lumayan lama hingga Dira membuka pintunya. "Apa?" tanya Dira.


"Kemeja biru yang mana? Merk apa?"


"Yang mana saja, pokoknya biru," tegas Dira.


"Biru apa? Ada biru tua, baby blue, navy," Bia mengabsen hampir semua warna biru.


"Kamu sukanya aku pakai yang mana? Terserah kamu."


Bia mengangguk. Ia kembali berlari ke walking closet. Begitu melihat tumpukan kemeja biru, Bia kembali bingung. Biru yang mana paling cocok dengan suaminya. Akhirnya Bia menyanyikan lagu "London Bridge is falling down" hingga berkali-kali untuk menentukan pilihan.


...🍁🍁🍁...


Tak tahu karena wajah atau otot-otot kekar di tangan. Pemandangan Dira saat tengah memasak begitu indah dipandang mata. Jemarinya lincah memainkan spatula dan frying pan. Mungkin ini yang dimaksud rahim hangat oleh para deterjen budiman.


Tak ada yang bisa mengalahkan binar di mata Bia saat melihat hasil masakan Dira. Jika begini ia merasa gagal jadi perempuan. "Kau memang calon istri yang sempurna. Sudah lebih cantik dariku, lebih pintar masak," komentar Bia.


Dira menggetok kepala istrinya. "Aku cowok tulen, Nyonya!" Dira duduk di samping Bia. Ia mengacak rambut Bia dengan gemas. "Memang kau tak merasakannya semalam?"


"Apa sih Dira!"


Bia tertawa. "Katanya gimana aku!"


Bia menyendok makanan di piring dan memakannya. "Hmm, enak banget!" puji Bia.


Dira mengecup pipi Bia. "Masakan kamu lebih enak," ralat Dira.


Mereka mulai sarapan pagi. Awalnya tak ada yang mengusik batin Bia hingga tiba-tiba sebuah rasa mulai memanggil rasa penasarannya.


"Dir, aku boleh tanya?" Bia menghadap ke arah Dira. Sepertinya Dira tak merasakan jika istrinya sedang gundah.


"Katakan saja. Aku sudah janji akan terbuka, kan?"


"Kamu masih suka dia, kan? Cloena Parviz." tembak Bia. Jelas Dira langsung mematung. Mata Dira berpaling pada Bia. Melihat sorot mata Bia yang serius, Dira tahu jika itu masih menghantui perasaan Bia selama ini.


"Aku harus jujur?"


Pertanyaan Dira seolah memberikan pertanda negatif bagi Bia. Namun, Bia mengangguk saja demi membuat semuanya jelas.


"Waktu kita berpisah dan aku pacaran dengan Cloe, tidak dalam sehari aku melupakanmu. Saat kita bertemu, aku sadar masih punya perasaan padamu. Begitu juga pada Cloena. Tak mungkin dalam dua minggu aku melupakannya. Bagaimanapun, ia pernah menemaniku selama tiga tahun."


Bia menghela napas. Berat rasanya mendengar itu sendiri dari mulut Dira. Namun, semuanya berjalan sudah seperti itu dan tak bisa terulang kembali ke tiga tahun lalu.


Dira mengusap rambut Bia. Ia kecup bibir istrinya. "Aku mungkin gak bisa janji. Namun, semakin hari semakin aku terbiasa tanpa dia dan tak membutuhkannya. Pelan, tapi pasti aku akan melupakannya. Hanya aku minta kesabaran istriku."


Bia mengangguk. Ia menurunkan matanya. "Kadang Bia juga masih ingat pada Sunny. Apalagi kalau tanpa sengaja bertemu dan sedang dengan Divan, aku pasti malu dan sembunyi," aku Bia.


Ketika ia mengangkat mata, ia kaget dengan tatapan Dira yang tajam. "Apa sih? Kenapa malah kesal? Kamu juga susah lupain orang. Apalagi Bia!"


"Wajarlah, Bi. Aku sama Cloe hidup bersama selama tiga tahun. Sedang kamu pacaran dengan Sunny hanya satu bulan, putusnya juga karena diselingkuhi. Masa masih punya perasaan?"


Dira tak terima dengan perasaan yang masih membekas dari Bia pada mantan pacar pertama Bia sebelum Dira.


"Hidup bersama?" Sayangnya Bia malah menangkap satu kata yang janggal dari mulut suaminya. "Apa maksudnya hidup bersama? Jangan bilang apa yang kamu maksud juga sama dengan apa yang aku pikirkan!"


Dira menggigit bawah bibirnya. Bola matanya sempat melirik ke samping kemudian kembali menatap Bia. "Kami pernah tinggal bersama."


Bia menutup mulutnya. "Selama itu hubungan kalian seperti apa? Selayaknya suami istri?" Dira mengangguk. Bohong jika Bia tak merasa sakit di ulu hati. "Dan kamu meninggalkan dia begitu saja? Di mana pertanggung jawaban kamu?"


Dira memegang bahu Bia. "Sebelumnya dia sudah pernah tinggal dengan mantannya yang lain. Kenapa hanya aku yang dimintai pertanggung jawaban?"


"Kalian para lelaki bagaimana bisa berpikir begitu tentang perempuan. Kalian mungkin bisa mengandalkan nafsu dalam berhubungan badan, tapi kami punya perasaan. Kami percaya pada kalian akan menjadi penjaga."


Dira mengangguk. "Sayangnya tak semua manusia sama. Cloe dan kamu itu berbeda. Bagi kamu punya kelurga dan menjadi istri yang baik sudah lebih dari kebahagiaan. Bagi Cloe, selama aku bisa memenuhi kebutuhannya, ia juga tak keberatan memenuhi kebutuhanku. Dibanding seperti suami-istri, bukannya itu lebih seperti dua manusia yang saling membutuhkan."


Bia tak mampu berkata lagi. Seperti apa Cloena hingga Dira sendiri bisa menilainya seperti itu?


🍁🍁🍁


🤧 kepada readers yang budiman, tolong yang masih punya sisa-sisa poin sumbangkan dengan cara vote novel ini. 🙏 Terima kasih atas dukungan kalian semua.


ig dan wp author sama ya : elara_murako


klo mw liat visual ada di ig, feed juga story. follow sj dulu nanti aku terima. 😉