Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Bia Kecil dan Pangeran Ukulele


Malam ini Dira pulang. Lagi-lagi ia tak membangunkan Bia. Dira selalu memeriksa keadaan Diandre dan Divan. Kadang jika Diandre ngompol, pasti Dira yang menggantinya. Hanya malam ini Bia memang sengaja berjaga. Ketika mendengar suara mobil Dira, Bia pura-pura tertidur dan melihat apa yang dilakukan suaminya.


Hingga ia lihat Dira membuka laptopnya, Bia bangun dan duduk di tempat tidur sambil melihat ke arah Dira. Melihat istrinya bangun, Dira terkejut.


"Kenapa bangun? Tidur lagi sana," saran Dira.


Bia meremas selimut yang menutup setengah tubuhnya. Ia merasa kesal karena suaminya itu selalu berpura-pura seolah kuat. "Aku sedari tadi tidak tidur. Kamu pikir, kamu saja yang bisa menahan lelah? Aku juga bisa."


"Bia," panggil Dira karena suara istrinya cukup kencang, padahal ada Diandre dan Divan sedang tidur di sisi Bia.


Lekas Bia turun dari tempat tidur. Ia hampiri Dira di meja kerja yang berada di sisi lain kamar mereka. Mata Dira terus mengikuti langkah Bia. Hingga istrinya kini berdiri di sampingnya.


"Sini, aku mau peluk kamu," pinta Bia. Dira tersenyum geli. Ia tatap kedua putranya yang tengah tertidur. "Ayo, sini aku peluk."


"Kalau anak-anak bangun bagaimana?" tanya Dira malu-malu. Bia menggeleng kemudian dengan paksa memeluk suaminya dengan erat. "Bia, jangan peluk. Aku bisa lupa nanti."


Bia tak peduli. Ia ingin memeluk Dira dengan erat. Mungkin itu bisa menyembuhkan apa yang selama ini mengusik batin suaminya. Dira menarik Bia dalam pangkuan. Ia sandarkan kepala di dada istrinya dan itu membuatnya nyaman. Apalagi saat Bia mengusap-usap pelan kepalanya juga menepuk punggungnya.


"Dira, kamu suami dan ayah yang hebat," puji Bia. Dira hanya menimpali dengan senyuman meski Bia tak melihatnya.


Ruangan putih itu hanya disinari cahaya remang-remang dari lampu tidur di kamar. Orang mulai merindukan aroma pantai, juga semangka. Bulan ini ada dua orang yang akan ulang tahun secara bergantian. Mereka saling ingat hanya masih sama-sama merahasiakan kejutan masing-masing.


Bia mengecup kening Dira. "Hei, lanjutkan cerita kemarin," pinta Dira.


Bia tertawa. Malam lalu ia ingin bercerita tentang seorang anak gadis yang suka menari. Hanya saja karena tiba-tiba Diandre menangis, cerita itu terputus tengah jalan.


"Jadi Bia kecil yang suka menari berhenti menari karena radio kecilnya rusak. Ia menangis di ayunan hingga anak lain melihatnya dan mengatai dia cengeng."


"Lalu ada pangeran kecil datang mengusir anak-anak usil itu. Pangeran itu memeluk Bia kecil dan bilang, 'kamu jangan nangis. Kalau nangis jelek. Ada aku yang jagain kamu. Jangan takut.' Kata-kata itu membuat Bia kecil berhenti menangis."


Dira tahu siapa pangeran kecil yang Bia maksud. Itu dirinya, Dira Kenan. Pria yang selalu bersama dengan Bia sejak lahir ke dunia. Kemana pun ia selalu diam-diam mengikuti Bia hingga tahu kesulitan apa yang dialami wanita itu.


"Pangeran kecil itu membawa Bia kecil ke taman bunga matahari. Tak lupa ia membawa ukulele yang dipinjamkan kakeknya. Di sana pangeran itu memainkan ukulele. Tanpa sadar Bia kecil mulai menggerakkan tubuhnya dan menari. Bia kecil senang sampai menari sambil tertawa bahagia," lanjut Bia.


Dira rindu masa itu. Masa di mana ia tak punya beban pikiran. Meski orang tuanya jauh, ia tak merasa sedih karena akan bermain hingga sore dengan Bia di kebun bunga matahari milik keluarga Kenan. Main masak-masakan, main alat musik hingga kejar-kejaran. Ketika pulang, Dira selalu merasa senang.


"Apa Bia kecil itu sekarang masih suka menari?" tanya Dira dengan tatapan nakal.


Bia tertawa. "Tidak. Ketika remaja, ia mulai jadi gadis pemalu. Ia tak suka menari lagi."


"Ia lebih suka makan coklat dan kue hingga badannya seperti beruang yang lucu. Itu semua hanya karena ia diputuskan oleh pangeran kodok yang pergi dengan sahabatnya sendiri. Sehingga pangeran ukulele yang menjadi temannya," timpal Dira sambil tertawa puas.


Bia tak kesal. Ia justru ikut tertawa karena ucapan suaminya. "Pangeran ukulele yang selalu membuat dia bahagia. Mengajak nonton ke bioskop, melindungi jika dibully hingga menyuapinya setiap makan siang," tambah Bia.


Dira berhenti tertawa. Dia menunduk dan memperlihatkan ekspresi sedih. "Lalu pangeran ukulele itu juga pergi. Dia egois dan hanya memikirkan cita-cita juga ambisinya. Hingga Bia tak tertawa lagi dan hidup kesulitan."


Bia terdiam. Bia akhirnya melihat sisi itu Dira perlihatkan dari balik ruangan yang Dira simpan di dalam batin. Ruangan terkunci yang coba ia sembunyikan dari luar, tapi selalu Bia temukan. Karena Bia terlalu mengenal Dira Kenan.


"Dira, kamu bilangkan. Jika kita selalu terbebani dengan rasa bersalah, itu juga menyiksa orang lain. Kamu tahu, aku selalu bahagia melihat kamu bahagia. Melihat kamu sedih dan terluka seperti ini, aku juga sedih. Karena itu, jangan terbebani dengan rasa bersalah dan merasa sedih. Aku juga akan merasakan hal yang sama."


🍁🍁🍁