
"Biasa kalau anak seumuran begitu memang sedang labil. Harus banyak sabar, bukan artinya kalau kita harus nurut apa yang dia mau. Menangis hanya senjata untuk melemahkan orang tua," saran Bia.
Ia sedang berdiri di balkon dan bercakap-cakap di telpon dengan Cloena. Dari polisi yang ia nikahi, Cloena akhirnya punya seorang anak laki-laki. Lalu bagaimana dengan ibu kandung Bia? Ironi dalam hidup ini, ada saja pelakor yang hidupnya bahagia dengan berkecukupan. Sedih? Tentu, apalagi Bia sebagai seorang istri merasa kasihan dengan keluarga laki-laki yang direbut Ceril meski Ceril adiknya sendiri.
Hukuman sosial mungkin akan membekas pada seseorang. Hanya ketika hati sudah tak memiliki empati dan simpati, rasa malu dihujat tak jadi masalah bagi Ceril selama hidupnya tercukupi.
"Terus kalau dia nangis gitu gimana?" tanya Cloena bingung.
"Aku sering menempatkan kamar anak tanpa barang pecah belah. Sehingga kalau dia mengamuk cukup diamkan saja di kamar. Ada dua cara mengatasi anak tantrum, mengusap punggungnya atau biarkan hingga dia tenang," tambah Bia.
Cloena mengangguk. "Makasih banyak, Bia. Aku gak tahu harus bagaimana lagi kalau bukan tanya sama kamu."
"Sama-sama." Selesai sharing, Bia menutup telponnya. Hari libur ini ketiga anaknya menghabiskan waktu dengan bermain monopoli. Rasanya baru kemarin Bia ingat permainan itu dimainkan olehnya juga Dira.
"Dian, jalan!" tegas Divan dan Dinia.
Dian menggeleng. Ia mendapat nilai tiga dari kedua dadunya. "Gak mau, ah! Sudahan saja." Dian berdiri dan langsung ditarik oleh Divan.
"Kebiasaan, setiap kalah pasti kabur," protes Divan.
Terpaksa Dian menjalankan bidaknya dan masuk ke dalam tanah milik Dinia. "Ni, getoknya jangan keras-keras atau aku tuker sama kaos kaki Kak Kris mau gak? Lumayan buat ngirim guna-guna," tawarnya.
Dinia meraih kerah Diandre. Ia mengepalkan tangan lalu meniup kepalan tangannya. Dengan mata penuh dendam mengingat dijewer kemarin. "Siap, Diandre?"
Dalam hitungan detik, Diandre berteriak kesakitan terkena getokan keras adik perempuannya.
"Mereka ini kupikir akan cepat dewasa. Sudah dewasa saja tetap masih kanak-kanak." Bia duduk di samping suaminya yang tengah membaca majalah bisnis.
"Kalian sudah beres-beres belum? Ingat besok kita ke Livetown," tanya Bia mengingatkan.
"Kak Emelie beneran jadi nikah?" tanya Divan.
"Iya, Kak. Calon suaminya mana tentara ganteng. Divia jadi pengen punya suami tentara juga." Dinia dengan gemas memukuli bantal sofa.
"Kamu sudah ditandai Kris, noh! Yakin gak mau sama calon Chairman KY?" Divan mencubit pipi Dinia.
"Karena nikah sama tentara gak mungkin, aku sama Kak Kris saja," tegasnya.
"Diandre gak tuh. Dian masih ingin berpetualang mencari keindahan dunia. Wajah-wajah cantik dari aneka bangsa dan suku dan menulis cerita romansa dengan mereka," kilah Diandre.
Divan dan Dinia menggeleng. "Dasar buaya ompong!" ledek kedua saudaranya.
Diandre meninggalkan permainan. Ia berpindah ke sofa dan memeluk mamahnya. "Diandre tahu kalau Kak Divan dan Dinia nikah, mamah pasti kesepian. Biar Diandre yang nemenin mamah saja."
Dira terbatuk-batuk. "Ada papah di sini, mohon maaf!"
Tangan Diandre menarik tangan Dira. "Iya biar kalian jadi orang tua Dian seorang," tegasnya.
Bia mengusap rambut Dian dengan lembut. "Iya, anak mamah yang gantengnya selangit Manhattan ini memang anak yang sayang sama orang tua."
Mata Divan dan Dinia saling lirik. "Rekam, sebarin di sekolah. Biar tahu semua anak di sana kalau Diandre anak mamih!" ledek Divan.
Ketiga anaknya sudah besar. Bukan artinya perjuangan Dira dan Bia berakhir. Mereka masih harus menguliahkan mereka, memberi semangat agar mereka tak menyerah mengejar karir dan menyeleksi calon pasangan mereka.
Terkadang Bia sering ingat masa itu, saat ia dan Dira harus berjuang membagi waktu antara me time dengan family time. Kadang mereka bertengkar saat tubuh dan pikiran lelah. Begitulah, pernikahan tak selalu penuh romansa, kadang masalah silih berganti datang dan membuat mereka harus berdebat.
"Kamu ingat gak? Waktu mamah sama papah berantem, Diandre ikut sama papah tinggal di apartemen lain. Setiap hari Diandre sampai ikut ke kampus di mana papah kuliah S2," cerita Bia pada Divan.
Divan mengangguk. Saat itu dia sudah SD kelas 2 dan Dian masih TK. Dinia masih bayi. Mungkin karena lelah, Bia jadi sering emosi. Dira juga sama, bekerja dan kuliah membuatnya lelah sehingga saat itu keduanya tak mau mengalah.
"Terus mamah susul papah ke kampus buat ambil Dindre, tapi papah nangis minta balikan," tambah Dian.
"Romantis," puji Dinia.
"Makanya Divan mau nikah muda. Biar punya anak besar, Divan masih muda juga. Jadi bisa romantis terus kayak mamah sama papah," tegas Divan.
"Van, nikah kapanpun yang paling penting adalah banyak belajar. Bukan hanya belajar jadi orang sukses atau orang pintar, tapi juga jadi orang tua yang baik," nasehat Dira.
"Banyak pasangan siap menikah dan siap jadi istri atau suami. Hanya sebagian kecil yang siap jadi orang tua," tambah Bia.
🍁🍁🍁