Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Orang tua vs anak


Malam itu, Bia dan Dira tertawa sampai terasa perut sakitnya. Divan sedang minum susu formula dalam kemasan kotak. Anak itu duduk di atas motor mainan yang bisa maju dan mundur sendiri dengan menyalakan mesin. Namun, mungkin karena terlalu nyaman, Divan tertidur sambil duduk dan memegang kotak susunya.


Dira mencoba mengambil kotak susu itu, tapi Divan tetap memegangnya erat. Lucunya saat dibiarkan, bibirnya diam sambil mengulum sedotan susu. Begitu coba diambil, Divan buru-buru menyedot susu lalu diam tidur lagi.


"Gimana ini?" tanya Bia bingung sambil menahan tawa. Pipinya sampai terasa kaku saking puasnya menertawakan kelakukan Divan.


"Diambil langsung nangis dia. Kalau sudah ngantuk dan maksa bangun pasti gini," komentar Dira sambil duduk bersila di samping Divan.


Lagi, keduanya tertawa begitu Divan semakin maju dan hampir terjungkal lalu Divan bangun, duduk tegak, menyedot susu lagi dan tidur lagi. Hebatnya, sedotan susu masih betah di mulutnya dan kotak susu masih ia pegang erat.


"Kasian juga, sih. Pindahin saja, ya?" saran Dira. Ia lekas meraih Divan dan mengangkatnya.


"Susu Divan!" rengek Divan begitu Bia mengambil susu dari tangannya. Hanya semenit merengek, ia kemudian tertidur lagi.


Dira menepuk-nepuk punggung Divan hingga anak itu kembali terlelap kemudian memindahkannya ke tempat tidur. Syukur, Divan langsung lelap berbaring sambil memeluk gulingnya.


"Sudah? Kita ke kamar," ajak Dira. Bia mengusap rambut Divan.


"Tahu gak, rambut dia waktu lahir lebat banget tahu. Sampai sekarang juga masih lebat," ucap Bia. Ia meraih tangan mungil Divan dan mengecupnya.


Dira duduk di samping Bia. Ia kecup kening putranya. "Waktu pertama aku lihat dia lahir, rasanya itu ... gak bisa diungkapin. Tangannya megang pipi dan hangat sekali." Bia tersenyum. Saat itu, Divan membuka tutup matanya sambil meraih-raih wajah Bia.


"Aku pikir dia gak akan segede dan secerewet ini," ucap Bia. Ia sentuh pipi Divan.


"Kalau bukan ingat Divan butuh kasih sayang kita, aku mau punya anak lagi. Aku mau jaga kamu waktu hamil, cemas nunggu di ruang bersalin dan gendong anakku untuk pertama kali. Namun, Divan lebih butuh kita sekarang. Kalau punya adik, ia makin merasa gak diperhatikan. Kadang-kadang saja kita sering lupa, kayak tadi siang," curhat Dira.


Bia mengangguk. Karena itu dia ikut program menunda kehamilan meski harus terjerat dalam masalah berat badan cepat naik. Bia ingin fokus pada Divan sampai anak itu lima tahun.


"Maafin papah, ya. Papah gak ngajarin kamu jalan, gak ajarin kamu bicara. Maafin papah baru ketemu kamu sekarang," ucap Dira. Ia mengusap rambut Divan dengan lembut.


Adegan itu hampir selalu mereka ulang setiap kali membaringkan Divan tidur di kamarnya. Setelah itu, mereka pergi meninggalkan Divan di kamar sendirian dan mulai sibuk berdua lagi - orang tua.


Bia naik ke tempat tidur dan langsung di susul Dira. "Besok berangkat jam berapa?" tanya Bia.


"Dua belas," jawab Dira pendek sambil nyengir kuda.


Bia melotot lalu berkacak pinggang. "Pasti nanti malam, aku tidur kamu bangun dan main games, kan?" todong Bia.


Dira menggeleng. Hanya wajahnya benar-benar tidak bisa dipercaya. "Ini, kamu mentang-mentang dekat sama sepupu-sepupu kamu sampai maen games setiap hari. Sampai lupa makan, lupa istri, lupa anak. Datang ke kantor juga terlambat. Kamu mau dipecat?" omel Bia.


"Lha, aku yang punya pabriknya," timpal Dira sombong.


"Pabrik kamu malah makin pailit kalau kamu gitu terus."


"Malah sejak aku di sana, mulai dapat untung, kok," Dira kembali melawan.


Karena kesal, Bia meraih bantal lalu memukul Dira dengan itu. Sayang, Dira berhasil menepis bantal. Ia raih lengan Bia lalu menarik wanita itu dalam pelukannya.


"Apa sih?" tanya Bia merasa risi karena Dira semakin erat memeluk.


"Kamu cantik," bisik Dira di telinga Bia.


"Makasih."


"Bilang saja, deh. Kamu maunya apa sekarang? Main kereta apa antar barang?" terka Bia.


Dira menggeleng. Ia dudukan Bia dalam pangkuan. Tanganya mengusap lembut rambut istrinya. "Aku gak bisa tidur," ungkap Dira.


Ia menenggelamkan wajah di lekukan leher istrinya. "Kalau tengah malam pasti bangun. Aku sering ingat kejadian itu lagi."


Bia mengusap rambut Dira. "Aku sudah bilang jangan minum lagi obat tidur, kan?" saran Bia.


Dira mengangguk. "Sudah, tapi tetap saja kepikiran terus. Aku itu rasanya gak sanggup, Bia. Papah selalu saja mempercayakan urusan yang sulit padaku. Aku gak mau bikin dia kecewa, tapi aku juga takut gagal. Aku gak sempurna," keluhnya.


"Dengar, ya. Kalau ada orang yang mempercayakan kamu akan sesuatu, bukan artinya dia ingin kamu memberikan yang terbaik. Ia hanya ingin kamu membantu sebisa kamu. Papah juga begitu. Dia sayang kamu, kamu juga tahu itu," nasehat Bia. Dira mengangguk.


"Kan aku sudah bilang, kalau malam kamu bangun, bangunkan juga aku. Biar kita ngobrol sampai kamu tidur lagi," saran Bia.


Mereka sudah sering melakukan itu hingga lama-lama Dira merasa kasihan pada istrinya yang jadi sering ketiduran ketika siang hari. "Nanti kamu capek. Aku gak mau kamu sakit," tolak Dira.


Bia menggeleng. "Buat apa aku ada, kita harus lewatin semua kesulitan sama-sama, kan?"


Dira mengangguk. Ia peluk Bianya dengan erat. "Bulan madu, yuk?" ajak Dira.


Bia tersenyum malu. "Divan gimana?"


Beberapa menit Dira berpikir. "Ada Mrs. Carol, ada kakek dan neneknya juga. Malah dia lebih nurut sama orang lain. Sedang aku, cuman punya kamu," ucap Dira nakal sambil mencolek pipi Bia.


Bia tertawa. "Kamu gak dengar anak kamu bilang apa? Kamu itu ...," kalimat Bia terpotong.


"Papahnya Divan," lanjut Dira kemudian mereka tertawa.


Jemari Dira menggenggam tangan Bia. Ia dekatkan wajahnya. "Minta bibir," ucapnya. Wajah Bia merona, tapi tetap ia dekatkan wajahnya pada Dira. Bibir mereka bertautan. Lumayan lama kedua organ itu saling sentuh. Dira melepas ciumannya.


"Pantas Sunny, dekatin kamu. Istriku memang terlalu cantik," puji Dira.


"Kalau berdua saja muji-muji. Kalau ada orang pasti ledekin aku terus," protes Bia.


Dira terkekeh. "Tahu sendiri gimana sewotnya Divan kalau kita mesra-mesraan. Belum lagi, malu tahu! Kita bapak-bapak sama ibu-ibu, tapi bucin-bucinan," jawab Dira.


"Waktu sama perempuan itu kamu gak malu, pamer mesra terus," protes Bia.


Dira mendelik. "Waktu itu belum tahu kalau sudah jadi bapak-bapak. Lagipula, kamu tahu gak? Aku gak pernah cemburu sama dia, tapi sama kamu ...," kali ini giliran kalimat Dira yang terpotong.


"Sama anjing tetangga saja kamu cemburu sampai kamu takut-takutin dan gak mau balik lagi ke sini," protes Bia.


Dira tak tahan menahan tawa akibat kelakuannya. "Iyalah, anjing itu baru juga datang sudah berani kamu uyel-uyel. Aku kapan?" protesnya.


🍁🍁🍁


Hari Selasa aku sudah mulai up 2 episode lagi yak. Jadwalnya kalau review lancar jam 06.00 dan jam 12. Jangan protes kalau tulisannya sedikit loh, itu jumlah katanya sama. 😒


Lagian buat apa nulis panjang-panjang kalau intinya masalahnya cuman itu-itu saja. Malah pusing yang baca kan chapternya jadi melantur. Ouh iya, Bride of the heir aku stop dulu di wp. Kalian bisa baca di NT nanti pas ADA tamat. Okeh! Satu lagi. Aku istrinya Jaehyun dan gak mau bagi-bagi. Jadi jangan godain dia lagi 😐