
"Ada apa sih? Wajahmu itu makin lama makin tua aku lihat? Banyak pikiran tuh!" ledek Daren.
Dira duduk di kursi yang berhadapan dengan Daren di meja kebesaran kakaknya. Ada sebuah papan nama bertuliskan nama lengkap Daren dengan jabatannya, chairmain of Kenan Grouph.
"Kapan ya aku duduk di situ?" tanya Dira jahil.
Daren mendengkus. "Heh! Diam-diam kamu mikirin kudeta juga, ya? Gak puas apa kamu? Label baju sukses, pabrik sukses, sekarang punya agensi. Masih niat rebut posisi tertinggi di perusahaan?" sindir Daren.
Dira melipat tangan di dada. "Biar keren saja. Nama jabatannya bikin yang duduk di situ berasa ganteng. Aku gak suka kamu sok ganteng!" ledek Dira.
Kalau saja ibunya tak sedih kehilangan Dira, sudah Daren lenyapkan adiknya ini pakai hidrogen cair. "Sudah, kamu ke sini mau ngapain? Jangan bikin kesel!" protes Daren.
Dira mengambil ponsel dan menyimpannya di atas meja Daren. "Sayangnya pasti kamu kesel. Aku saja tadi kesel, lihat wajah kamu gak lagi. Habis kayak komedi," ledek Dira.
Daren tak menanggapi humor adiknya lagi. Ia langsung mengambil ponsel Dira. "Tonton videonya," ungkap Dira.
Tangan Daren menekan button play di layar ponsel Dira. Ia menelaah setiap adegan di video itu. "Ini papah?" tanya Daren. Dira mengangguk. Satu tarikan napas Daren terasa berat. "Sumpah, milih selingkuhannya gak niat banget. Mendingan model-model di majalah. Lebih hot," celetuk Daren.
Dira menepuk jidat. Sudah ia duga Daren tak akan menanggapinya dengan serius. Hanya Daren bukan orang yang cuek. Meski menanggapi dengan bercanda, ia akan menuntaskannya hingga ke akar.
"Mungkin bukan ibunya, tapi anaknya. Namanya Ceril, usianya masih sembilan belas tahun. Ia dikeluarkan dari agensiku karena kasus video asusil yang menyebar. Dalam video itu dia tidur dengan pria yang tiga puluh tahun lebih tua," info Dira.
Daren bertepuk tangan. "Aku ralat! Papah ternyata cerdas. Aku bangga jadi anaknya. Hanya punya ibu tiri terlalu muda tak enak juga. Hatiku lemah, aku takut jadi perusak rumah tangga papahku sendiri."
Kali ini Dira hanya bisa tertawa perih. Apalah dayanya menghadapi kegilaan kedua saudaranya. Dalam kisah keluarga mereka memang hanya Dira yang paling normal.
"Kalau mamah tahu bagaimana?" tanya Dira. Ia sungguh sangat khawatir dengan kondisi psikologis ibunya. Selama bertahun-tahun menikah, Maria selalu setia dengan suaminya. Bisa dibilang bahkan lebih memprioritaskan suami daripada anak. Kini, ia diselingkuhi begitu saja.
"Kasihan Dustin. Ia pasti lebih syok. Bagaimana perasaan adik kita kalau tahu calon ibunya lebih tua setahun darinya," celoteh Daren lagi.
"Sumpah! Aku gak peduli!" maki Dira saking kesalnya.
Daren memanggil salah satu staff kepercayaannya. Pria jangkung berkumis itu tak lama menghadap kedua kakak dan adik yang otaknya agak bergeser ini.
"Siang, pak!" sapa staff itu. Dira balas mengangguk.
Daren mengirimkan video dari ponsel Dira ke ponselnya. Kemudian Daren kirim ulang pada staff yang ia berikan tugas. "Kamu cari tahu siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan papahku. Satu lagi, namanya anaknya ... siapa tadi?"
"Ceril, usia sembilan belas tahun dan mantan trainee di agensiku. Video asusila yang sedang ramai di televisi, dia pemerannya," jelas Dira.
Staff itu mengangguk. Tak butuh waktu lama, ia langsung meninggalkan ruangan. "Butuh berapa lama?" tanya Dira tak sabaran.
"Kamu mau ngorek informasi apa mau ngorek kotoran telinga? Gak mungkin sebentar! Lama-lama aku beneran kubur hidup-hidup, terus Bia aku jodohkan dengan CEO tampan yang kaya raya," ancam Daren.
Dira benar-benar melepas sepatunya dan melemparkan pada Daren. "Gak bisa! Fansku banyak. Mau dihujat kamu!" umpat Dira.
Ada mungkin sekitar lima belas menit. Narasinya di skip karena pertengkaran kakak dan adik ini sama sekali tak patut dikonsumsi publik. Staff itu akhirnya kembali ke dalam ruangan. Dira dan Daren langsung memasang konsentrasi mendengar temuannya.
"Nama wanita itu Mayen Regi. Ia punya anak perempuan bernama Ceril Malia Regi. Hingga saat ini, anak itu tak memiliki status hukum yang sah. Dalam akta kelahirannya hanya tercantum nama ibunya. Dia lahir dan besar di Heren. Saya melihat seluruh transaksi rekening milik Mayen Regi. Banyak transfer dana terhitung sejak tahun 2010. Pengirimnya adalah Mr. Valent," ujar staff itu.
Baik Dira dan Daren sama-sama mengambil napas panjang. "Mr. Valent itu sekretaris papah," tegas Daren. Ia mulai panik.
"Apa mereka berselingkuh sejak lama? Maksudku apa jangan-jangan anak itu, anaknya papah?" tebak Dira. Lagi-lagi ia berpikiran buruk.
"Kalau memang begitu, kenapa papah biarkan anaknya melakukan sesuatu yang kotor. Apalagi videonya sampai menyebar," timpal Daren mencoba meyakinkam diri jika anggapan Dira salah.
"Tepat beberapa menit yang lalu video itu hilang dari peredaran. Pemerintah melarang berita apapun membahasnya karena dianggap gadis itu masih di bawah umur." Staff itu malah memberikan kabar paling buruk.
Dira mengusap wajah. Ia tatap wajah Daren yang sudah terlihat kaku. "Anak itu usianya sudah terhitung dewasa. Satu lagi, yang memiliki kekuasaan hingga mengatur pemerintah begitu cepat hanya kemampuan Ernesto Kenan," terka Dira karena dulu juga papahnya yang menghentikan skandalnya dengan Cloena.
🍁🍁🍁