
Beda dengan Heren, kali ini keluarga kecil itu harus tinggal di apartemen. Harga rumah di Manhattan memang sangat mencekik. Apartemen lebih murah, sedikit. Apartemen ini dari lantai 20-40 merupakan milik perusahaan untuk para pegawai KY holding. Terutama pegawai dengan jabatan tertinggi.
"Jendelanya gak bisa dibuka, kan?" tanya Bia. Tinggal di rumah biasa sejak kecil, ia agak seram tinggal di apartemen. Apalagi punya anak bayi yang pintar bersembunyi.
"Jendela tentu harus dibuka agar oksigen masuk. Karena itu kita pastikan baik Divan dan Diandre tak bisa sampai ke jendela," saran Dira.
Bia mengangguk-angguk. Ia melihat ke kaca jendela tebal apartemen dan melihat pemandangan yang tercipta dibalik kaca itu. Bia terasa seperti dihempaskan. Efek awal jika takut dengan ketinggian.
Hari itu mereka sibuk menata barang juga memberikan beberapa pelayan tugas. Syukur, pelayan di rumah juga sudah disediakan perusahaan.
"Kayaknya kamu spesial banget, ya?" tanya Bia. Diandre dan Divan sudah tidur. Mereka lelah setelah seharian membantu ibunya beres-beres. Diandre juga baik sekali mau membawakan barang yang ringan.
"Tuan Darwin ingin membuat terobosan. Ia menyasar hampir sektor-sektor kreatif seperti fashion, teknologi hingga properti. Kebetulan aku pernah bekerja di bidang hiburan, jadi tahu bagaimana perkembangan fashion," jelas Dira.
"Jadi D-zone resmi dibeli KY?"
Dira mengangguk. Merk itu akan dipromosikan oleh artis-artis papan atas di Amerika. Kemungkinan seperti yang Dira perkirakan, pasarnya akan semakin luas.
"Divan akan diundang di acara launching kedua D-zone. Bagaimana juga, merk ini atas nama Divan."
Bia sangat bangga pada suaminya. Ia sudah memperhitungkan nasib anak-anaknya kelak. Meski Divan belum bisa bekerja, ia memiliki banyak pendapatan dari penjualan D-zone. Selama merk itu terjual, uang Divan akan semakin bertambah. Bisa dibilang ia salah satu balita kaya.
"Aku juga sedang memikirkan membuat merk mainan atas nama Diandre. Itu masih dalam rencana. Mr. Hang, CEO KYH menyetujui rencana itu dan masih dalam tahap penyusunan rencana pengajuan."
Malam semakin larut. Ketika pagi datang, Dira melihat cahaya mentari muncul dari balik jendela kamar. Bia sudah tak ada di atas tempat tidur. Dira bangkit dan lekas menuju kamar mandi. Hari ini dia ada pertemuan dengan Chairman grup perusahaannya, Darwin di rumah kediamannya.
"Pergi sekarang?" tanya Bia melihat suaminya sudah rapi mengenakan jas juga kemeja. Dira juga sudah sarapan ditemani Divan.
"Iya, Tuan Darwin orang yang sangat tepat waktu. Banyak orang yang ingin bertemu dengannya. Mana mungkin aku berani kesiangan," jawab Dira.
Setelah memberikan kecupan perpisahan pada Bia dan keluarganya, Dira berjalan keluar apartemen. Seorang staff dari KYH sudah menjemputnya. Kediaman Darwin berada di kawasan privat dekat Southampton Beach.
Jujur, seperti seorang gadis, rasanya Dira berdebar mengingat akan bertemu dengan salah satu Billionare dunia itu. Lumayan menghabiskan banyak waktu menuju rumah itu karena jaraknya lumayan jauh dari pusat Manhattan.
Mobil itu menepi di teras rumah. Dira turun dari mobil dan menapaki jalan dengan tanah putih. Rumah mewah yang bahkan lebih besar daripada milik Keluarga Kenan. Tentu saja, dari penghasilan dan kelas perusahaannya saja sudah berbeda.
Ruangan pertemuan itu layaknya ruang kerja pribadi. Hanya saja ada rak-rak tinggi dengan banyak buku. Desainnya klasik seperti ruang kantor pribadi dalam sinema bos di acara channel Amerika.
"Selamat pagi, Pak," sapa Dira.
Pria itu seperti pertama Dira bertemu dengannya. Begitu tampan dan berkelas dengan kemeja Biru bergaris putih dan celana hitamnya. Wajahnya kharismatik. Seandainya Dira tak tahu, ia pasti akan berpikir Darwin seorang lajang. Wajahnya tak sesuai usianya yang sudah 29 tahun. Malah seperti seusia dengan Dira.
"Duduk Tuan Kenan," pinta Darwin. Berbeda dengan pengusaha lain, Dylano sangat ramah. Tak sesuai dengan desas-desus tentang dirinya yang haus kekuasaan dan penghormatan.
"Tuan Muda Kris, saya melihatnya tadi di ruang tengah," ucap Dira.
Darwin mengangguk. "Dia sedang di rumah. Minggu depan dia berangkat ke Indonesia dengan neneknya. Musim dingin kemarin kami tak sempat mengunjungi makam ibunya di Indonesia," cerita Darwin.
Dira mengangguk-angguk.
"Tadinya aku berharap Divan ikut juga hari ini."
Dira merasa tak enak. Ia memang sudah janji akan mempertemukan kedua anak itu. "Dia tak pernah naik pesawat sejauh ini, jadi jet lag dan sudah sarapan langsung ketiduran di sofa," jelas Dira.
Darwin tertawa. "Lucu sekali," komentarnya. Benar, Darwin sangat ramah.
"Saya juga tak bisa menunggu lama. Saya dengar anda akan ke Indonesia juga dalam waktu dekat," tambah Dira.
"Iya, ada sesuatu yang harus aku raih di sana. Jika aku tak turun tangan sendiri, tak akan bisa," jawab Darwin.
"Pekerjaan, kah?" tebak Dira.
"Perasaan."
🍁🍁🍁