
Pria itu tersenyum melihat wanita dengan rambut pendek melebihi bahunya duduk di sebuah restoran. Ia datangi gadis itu dengan senyum terkembang di wajah. Dengan jari, Divan menekan pipi gadis itu dengan gemas.
"Nungguin, ya?" tanya Divan.
Gadis itu berbalik. Ia melihat Divan ada di sana. Namun, hanya senyum kecil yang ia perlihatkan.
"Jangan marah, donk. Aku terlambat karena acaranya molor. Ingin cepat ke sini ini juga. Tahu ada yang gak sabar lihat langsung wajah tampanku." Divan duduk di depan Davina dengan wajah memelas.
"Van, aku boleh minta sesuatu?" tanya Davina.
"Bilang saja. Gak apa-apa," ucap Divan.
"Kamu tahu aku tinggal dengan orang tua tiri. Dia membiayaiku dari kecil, sedang ayahku sendiri setelah menikah lagi, tak ingin mengakuiku. Papah tiriku punya anak perempuan, kakak yang aku sayang. Dia sedang sakit parah," cerita Davina.
Ekspresi wajah Divan berubah iba. "Aku sayang kakakku. Kemarin, dia bilang kalau dia suka sama kamu. Dia bilang kamu harapan hidupnya. Bisakah kamu berusaha dekat dengannya. Aku gak bisa maksa kamu suka sama dia, tapi coba saja sebentar," pinta Davina. Air matanya mengalir.
"Terus kamu pikir itu baik untuknya? Kalau suatu hari dia tahu, kalau aku dekati dia karena permintaan kamu ... apa dia akan baik-baik saja?" tanya Divan.
Davina tertegun. "Setidaknya selama kakakku hidup," lanjut Davina.
Divan mendengkus. "Berapa lama? Setahun, dua tahun ... dan selama itu dia harus hidup dalam perasaan palsu? Kamu tega?"
Ucapan Divan mampu membuat Davina terdiam. "Dengar, cinta akan jadi harapan hidup kalau itu cinta sejati. Kalau kamu beri dia kepalsuan, itu hanya racun yang kamu simpan untuk membunuhnya suatu hari."
"Memang kamu gak bisa cinta sama dia?" tanya Davina. Divan terdiam. "Kakakku cantik, loh. Semua pria banyak yang mengejarnya."
"Kamu tahu perempuan yang pernah mengejarku seperti apa, kan? Apa aku bergeming, tidak. Aku tetap cinta pada perempuan yang sama. Aku datang ke sini untuknya."
Tangis Davina semakin pecah. "Tapi ...." Ia bingung, antara meyakini nasehat Divan atau keinginannya.
"Tanyakan hatimu sendiri. Apa kamu tega?" Divan semakin menyudutkannya. "Aku bukannya tak mau menolong, hanya perasaanku tak bisa dipaksakan."
Davina mengangguk. Ia hapus air matanya. "Maafkan aku, permintaanku ini memang tak tahu diri." Davina menunduk.
Divan terdiam. Keadaan sepertinya tak memungkinkan untuk mengungkap rasa. Hanya, ia tak bisa terus menunda. "Kamu gak nanya siapa wanita yang aku sukai?"
"Siapa?"
Divan meraih kotak cincin di sakunya. Ia buka dan simpan kotak itu di atas meja. "Kamu. Aku datang ke sini untuk melamarmu. Aku ingin menikahi kamu, bukan wanita lain," ungkap Divan.
Ucapan itu membuat Davina kaget. Ia tak menyangka akan dirinya yang Divan pilih meski sempat ia memimpikan itu. Sejenak kemudian, Davina menunduk. "Tapi aku gak bisa menyakiti kakakku," keluh Davina. Ia menarik tangannya dari genggaman Divan.
"Aku tahu kamu akan bilang begini. Hanya perlu kamu tahu, aku menunggu sudah sangat lama untuk ini. Aku gak bisa memenuhi keinginan kamu. Apa dengan ini kamu menolak penantianku selama bertahun-tahun?"
"Itu hak kamu untuk menolak. Aku gak bisa maksa. Kalau memang begitu, lebih baik aku pergi agar kakak kamu lupa denganku. Maaf, aku gak bisa menolong. Mungkin memang cintaku harus berakhir begini. Selamat tinggal Davina," pamit Divan. Ia masih menyimpan cincinnya di atas meja.
Pria itu berdiri dan berjalan keluar restoran. Davina terdiam menatap cincin berlian yang dibeli Divan di atas meja. Hatinya sakit, harus merelakan pria yang sangat ia cintai dan mencintainya.
Mata Davina tertutup beberapa detik. Ia menenangkan pikirannya. Kemudian ia raih cincin itu dan berlari mengejar Divan. Ia terkejut, Divan tak ada di teras luar. Melirik ke sisi kiri dan kanan, Davina tak menemukan Divannya.
"Divan!" panggil Davina lalu turun dari teras restoran dan berlari melewati parkiran tempat makan. Ia melihat sebuah mobil ke luar dari parkiran restoran. Davina mengejarnya. "Divan! Maafin Vina! Jangan pergi lagi, aku mohon!" panggil Vina.
Tangisnya pecah. Tak bisa mengejar mobil, Davina duduk di pelataran parkir. Ia menangis dengan penyesalan. Air mata membasahi wajahnya. "Divan, aku cinta kamu. Aku juga nunggu kamu selama ini. Aku juga gak bisa hidup tanpa kamu. Maafin aku. Divan," ungkap Vina.
"Aku janji gak akan maksa kamu deketin kakakku lagi. Asal jangan tinggalin aku," pintanya. Davina menutup mata dengan kedua tangan.
Angin meniup rambutnya. Ia masih sesegukan sendiri di sana. "Divan!"
"Apa?" suara seseorang yang memeluknya dari belakang membuat Davina kaget. Gadis itu berbalik dan melihat Divan berjongkok sambil memeluk lehernya.
"Divan? Kamu gak pergi?" tanya Davina bingung.
Divan menggeleng. "Mau lihat saja gimana kamu kalau aku pergi. Dih, jangankan merelakan aku dengan wanita lain, aku tinggal saja kamu nangis," ledek Divan.
Davina mengusap air matanya. Ia pukul lengan Divan. "Kamu jahat. Bikin aku takut," keluhnya.
"Kalau aku gak gitu, kamu masih terus nolak aku kan?"
Davina mengangguk. Ia remas lengan kemeja Divan. "Aku takut menyakiti kakakku," keluh Davina lagi.
"Lalu? Masih mau aku tinggalin?"
Davina menggeleng. "Gak mau. Aku sudah kamu tinggalin lama. Hanya, tak apa ya jika kakakku jangan sampai tahu. Aku gak mau menyakiti dia."
Divan mengangguk. Ia peluk Davina. "Kamu ngajakin aku backstreet ini?" tanya Divan. Davina mengangguk. "Sampai kapan?"
"Sampai aku siap bilang ke Kak Silvina," jawab Davina. "Kamu gak apa nunggu dulu?"
"Aku sudah nunggu tujuh belas tahun, kenapa harus gak bisa?"
🍁🍁🍁
Episode selanjutnya jam 11. 30.
🙏🙏🙏