Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Tahap 1


Veronica menatap tidak suka pada Lily, wanita itu ingin merebut posisinya sebagai menantu kesayangan Hadid. Veronica sudah susah payah jadi menantu di rumah ini, bukan hal yang mudah untuk mendapatkan kepercayaan mertuanya.


Ditambah lagi sikap Ahnan yang membuat rumah itu menjadi seperti neraka. Namun, Veronica harus bertahan. Ia tidak ingin pergi begitu saja dari tambang emas itu dengan tangan kosong.


Ia harus mendapatkan keuntungan dari sini. Semuanya berjalan dengan baik, apa lagi Aric tidak menunjukkan tanda-tanda tertarik untuk menjalani sebuah hubungan dengan wanita lain. Veronica semakin yakin dengan posisinya


"Awas saja, aku akan menyingkirkanmu secepatnya." Mata Veronica mengekor kemana Lily mengerakkan tubuhnya.


Wanita cantik beranak satu itu, masuk kedalam kamar yang di siapkan Hadid untuknya. Kamar yang luas dengan ranjang berukuran besar, yang pastinya di siapkan untuk Lily dan suaminya.


Lily menghempaskan tubuhnya terlentang di atas ranjang empuk itu. Tiba-tiba saja ia teringat sang suami, ingin rasanya ia menelfon Aric sekarang. Sejak kehamilannya, Lily memang suka menempel pada Aric, hanya saja kadang Lily masih enggan untuk mengatakannya.


Ia melirik jam dinding, masih jam setelah setengah sebelas siang, terlalu dini untuk menanyakan perihal makan siang.


Ia berdecak sebal, sebab tidak menemukan alasan yang tepat untuk menghubungi Aric. Lily hanya menatap foto profil Aric di aplikasi hijau, foto kebersamaan mereka saat di pantai beberapa waktu lalu.


"Agh ... Terserah, aku mau dia sekarang!" Lily pun mengeser logo gagang telepon.


Namun, semua tidak seperti yang ia harapkan. Aric tidak mengangkat teleponnya, bahkan setelah Lily mencoba beberapa kali. Aric tetap tidak mengangkatnya.


"Dasar suami nggak peka, awas saja kalau pulang. Jangan harap aku akan membiarkannya tidur di ranjang!" teriak Lily kesal.


Aric yang sedang memimpin jalannya rapat, tiba-tiba merasa merinding. Seperti sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Saya rasa rapat hari ini cukup sampai di sini," ucap Aric menutup rapat bulanan.


"Baik Tuan, terima kasih," ujar para karyawan yang mengikuti rapat itu.


Satu persatu dari mereka keluar dari ruang rapat dan menyisakan Aric seorang diri. Laki-laki itu melihat ponselnya yang ia silent selama rapat berlangsung.


Matanya hampir saja keluar, melihat rentetan panggilan tidak terjawab dari istri tercintanya. Belum lagi sebuah pesan yang cukup mengancam kesejahteraan malamnya.


Aric menelan ludahnya, masalah ini tidak bisa dibiarkan. Ia harus segera menyerahkannya, jika tidak bisa dipastikan ia meringkuk kedinginan malam ini.


"Hais, kenapa tidak di angkat. Sayang jangan marah, tadi aku sedang rapat." Aric mengirimkan pesan suara pada Istrinya, setelah beberapa kali ia menelfon tetapi Lily me-reject nya.


.


.


.


.


Lily yang masih sebal, sengaja meninggalkan ponselnya di kamar Lily pergi ke dapur untuk menyibukkan diri.


"Bi Asih, lagi masak apa? Lily boleh bantu nggak?" tanya Lily pada Bi Asih.


Wanita paruh baya itu terlihat sedang sibuk membersihkan beberapa sayuran.


"Tidak usah nyonya, biar saya saja yang masak. Nyonya istrirahat saja, Nyonya sedang hamil tidak boleh terlalu capek," tolak Bi Asih.


"Tapi Nyonya.-"


"Bi Asih benar Kak, Kakak ipar ikut aku aja ke taman belakang yuk. Jangan capek-capek di sini, biar pembantu aja yang masak," Potong Veronica cepat.


Lily seketika menoleh ke belakang, adik iparnya itu entah datang dari mana dan tiba-tiba menyela pembicaraannya dengan Bi Asih.


"Tapi Ver, Kakak pingin bantuin masak," ujar Lily sungguh-sungguh, ia ingin memasak sesuatu untuk mertuanya.


Mau cari muka, jangan harap.


Veronica menarik tangan Lily, mengajaknya berjalan menjauh dari dapur.


"Ayolah Kak, temani aku. Aku selalu sendiri di rumah besar ini, nggak ada teman ngobrol," bujuk Veronica dengan terus menarik Lily agar mengikuti langkahnya.


Lily hanya bisa menurut dan mengikuti langkah Veronica. Kedua wanita itu pun sampai di halaman belakang, mereka duduk di bangku santai yang ada di tepi kolam renang.


"Kakak sudah lama menikah dengan Aric?"


"Lumayan," jawab Lily kikuk.


"Lumayan ya, kenapa kalian tidak mengadakan resepsi? bahkan Aric juga tidak memberi tahu kami kalau kalian sudah menikah?"


"Ehm ... kau bisa menanyakannya pada dia, nanti."


"Apa dia masih suka melepaskan atasan piyamanya saat tidur?"


Lily mengerutkan keningnya, bagaimana wanita itu tahu kebiasaan suaminya dengan baik.


"Dia tidak pernah berubah," imbuh Veronica.


"Kakak ipar pasti sangat sayang padamu kan Kak? dia pasti sangat memanjakanmu?" tanya Veronica dengan tatapan kosong.


"Biasa aja," jawab Lily datar.


Ia merasa pertanyaan Veronica bermakna lain, bukan sekedar pertanyaan biasa. Ia seolah mengenal Aric dengan baik.


"Biasa ya, dulu saat bersamaku dia sangat manis. Aric


memperlakukanku seperti ratu. Semua yang aku inginkan dia akan memenuhinya. Aric pria yang sangat manis" ujar Veronica dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


Deg.


Lily merasa sesak mendengar ucapan Veronica. Apa maksudnya dengan saat bersamaku? Apa mereka pernah bersama?


"Ah ... Kak, maaf. Itu hanya masa lalu, jangan di pikirkan Anggap saja aku tidak pernah ngomong apa-apa. Panas banget ya, aku masuk dulu."


Veronica bergegas bangkit dari duduknya, ia berjalan dengan tergopoh-gopoh seolah menghindari Lily.


Veronica menyeringai licik, meninggalkan wanita yang sedang duduk termenung setelah ucapnya.