
Pagi ini matahari bersinar lebih terang dari pada biasanya, jarum jam di pergelangan tangan Guntur masih menunjukkan pukul sembilan. Namun, keringat pria berusia enam puluh tahun itu sudah bercucuran, sesekali ia mengusap keningnya dengan tisu.
"Apa kita tidak bisa menunggu di saja, panas gini bisa gosong kulit ibu, Yah," keluh Ana yang berdiri di samping suaminya.
Guntur melirik sang istri, kemudian menarik nafas dalam.
"Kita harus menunggu pemilik perusahaan yang baru," sahut Guntur.
Ana mencebikan bibirnya kesal. Hari ini mereka berdua datang ke perusahaan Wiguna, pemilik perusahaan yang baru ingin bertemu dengan mereka secara langsung. Tentu saja Guntur tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan bertemu dengan orang itu, dia berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk bekerja lagi di perusahaannya. Tidaklah mudah bagi Guntur mencari pekerjaan di usianya yang mulai senja. Dan Guntur juga sangat penasaran dengan sosok orang itu.
Selama ini Guntur hanya tahu kalau sebuah perusahaan asing ingin berinvestasi di Wiguna corp. Perusahaan itu selalu mengirimkan asisten kepercayaannya Tuan Hakim, Mereka sangat baik bahkan juga menawarkan bantuan, berupa pinjaman lunak, meskipun bunganya tinggi Guntur menerimanya.
Ia berpikir dengan meminjam uang kepada perusahaan itu, Guntur akan bisa memajukan bisnisnya. Namun, naas harapan tak seindah kenyataan.Guntur tidak dapat mengembalikan pinjaman, perusahaan mulai goyah. Belum lagi gaya hidup istri dan anaknya yang begitu hedon, mereka bisa menghabiskan ratusan juta hanya untuk fashion atau liburan bersama grup sosialita.
Guntur sudah berulang kali mengatakan pada kedua wanitanya untuk berhemat, tetapi anak dan istrinya tidak mempedulikan. Dengan alasan klise, gengsi.
Hutan yang semakin menumpuk, membuat Guntur tak punya pilihan lain selain menyerah perusahaan pada perusahaan asing yang memberikannya pinjaman itu. Setidaknya dia bisa menyelamatkan beberapa aset pribadi yang ia simpan untuk masa pensiun, tentu saja tanpa sepengetahuan Ana. Jika tidak bisa saja wanita itu langsung menghabiskannya dalam sekejap.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan Guntur dan sang istri. Seorang laki-laki yang Guntur turun dan bergegas membuka pintu mobil untuk atasannya.
Pria berwajah keturunan Pakistan turun dengan gagah, setelan jas berwarna hitam membalut tubuh atletis pria itu. Pria itu kemudian menunduk dengan tangan terulur. Seorang cantik memakai dress hamil selutut, dengan rambut tergerai dan kacamata hitam menggenggam tangan itu, saat ia turun. Mata Guntur terbelalak melihat wajah yang sangat ia kenal.
"Li-Lily," ucap Ana dengan tergagap. Matanya hampir saja keluar saking kagetnya.
Mendengar namanya di panggil Lily menoleh, Ibu hamil itu tak kalah terkejut dengan kedua orang tua angkatnya itu. Sejurus kemudian Lily menatap wajah Aric yang sedang tersenyum dengan penuh tanya.
"Surprise," ucap Aric sambil mengecup pipi istrinya yang masih terbengong.
"Ingat, kau bukan lagi Lily Valencia Wiguna. Kau adalah Lily Valencia Mahadev istri dari Artama Aric Mahadev," bisik Aric.
Lily mengangguk, meskipun masih bingung dan shock. Lily tahu Aric mengisyaratkan agar dia tidak lagi lemah seperti dulu. Aric benar, semua telah berubah. Lily tidak boleh lagi berhati lunak seperti dulu.
Aric melingkarkan tangannya di pinggang Lily, yang sudah mulai melebar. Mereka berdua berjalan mendekati Guntur dan Ana, yang melihat mereka dengan cara yang berbeda.
"Tuan Guntur, perkenalkan ini adalah atasan saya Tuan Artama Aric Mahadev. Beliau adalah CEO dari L&A juga pemilik baru perusahaan ini, dan beliau adalah istirnya, Nyonya Mahadev," ujar Hakim memperkenalkan.
Lily menatap lekat wajah pria tua itu dibalik kacamata hitam yang ia pakai, ada setitik rindu yang menyeruak sesaat. Sebelum kilasan balik malam di mana Lily diusir kembali berputar di memori otaknya.
"Tuan Aric, sungguh suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda." Guntur mengulurkan tangannya. Aric mengabaikan tangan laki-laki itu.
"Maaf Tuan Guntur, Tuan Aric tidak terbiasa bersentuhan dengan orang lain," ujar Hakim segera.
Guntur tersenyum kecut, dia kemudian kembali menarik tangannya dengan canggung. Sebenarnya Guntur ingin mengulurkan tangan untuk menyalami tangan Lily, tetapi ia yakin Lily tidak akan mau menjabat tangannya.
"Hemp, sombong," gumam Ana sangat lirih. Namun, Lily masih mendengarkannya.
"Sayang, panas," ucap Lily dengan suaranya yang dibuat manja.
"Kita ke dalam." Dengan satu tangan yang masih melingkar di pinggang Lily, Aric berjalan masuk.
Mereka berdua menjadi pusat perhatian di sana, semua karyawan memperhatikan mereka. Terutama Lily, ya sebagian besar karyawan di sana mengenal Lily. Wanita itu pernah berkerja di perusahaan ayah angkatnya itu, bukan posisi yang bagus. Ia hanya bekerja sebagai staf biasa, Lily seorang yang riang, ramah dan perkerja keras. Semua orang menyukainya.
Guntur berjalan di belakang mereka, tatapannya masih tak fokus pada Lily. Ada rasa penyesalan dan rindu di sorot matanya, berbeda dengan Guntur, Ana menatap sinis pada Lily. Melihat dandan Lily yang begitu elegan dan suami yang kaya raya membuat darah Ana mendidih. Seharusnya tidak seperti ini, seharusnya Lily membusuk di kolong jembatan bersama anak haram itu.
Aric menaik lift khusus untuk sampai di kantor, semester Guntur dan Ana yang hendak ikut masuk dicegah oleh Hakim.
"Kenapa kami tidak boleh masuk!" protes Ana.
Hakim tersenyum.
"Apakah Anda lupa? Anda hanya tamu, bukan lagi pemimpin perlu ini."
"Sudah, kita naik lift karyawan saja." Guntur segera menarik istrinya untuk mengantri bersama karyawan lain di lift yang tak jauh dari sana.
Dengan terpaksa Ana mengikuti suaminya, beberapa karyawan menatap Ana dengan sorot mata merendahkan. Wanita itu selalu angkuh saat Guntur masih berkuasa, dulu dia bahkan tidak mau menjawab ataupun menoleh pada karyawan yang menyapanya. Tetapi sekarang lihat, dia bahkan harus mengantri lift bersama mereka.
Ana berusaha mengabaikan, semua orang yang menatapnya dengan remeh. Ana masih mengangkat tegak kepalanya.
"Sayang apa maksud semua ini? kenapa kita ke perusahaan ini?" tanya Lily saat mereka sudah berada di ruangan Presdir.
Aric tersenyum, ia melingkarkan tangannya di perut Lily yang mulai membuncit. Lily mengedarkan pandangannya, ruangan itu masih sama. Foto keluarga Wiguna masih terpasang di salah satu sudut tembok, tetapi tak ada Lily di foto itu, Lily tersenyum getir. Mereka memang tidak pernah menganggap Lily ada.
"Ini hadiah untukmu." Aric mengecup lembut pipi sang istri.
"Hadiah," beo Lily, ia sedikit mengerakkan wajahnya kearah Aric yang sedang bersandar di bahunya.
"Ya, hadiah. Seperti yang aku janjikan, perusahaan Wiguna kini adalah milikmu."
"Milikku!" pekik Lily terkejut.
"Pelan-pelan, Sayang." ucap Aric sambil mengusap telinganya yang berdengung.
Lily menyengir tanpa rasa bersalah, jelas saja telinga Aric terasa sakit. Lily memekik keras tepat di telinganya.