
"Bau apa ini, kenapa seperti bau cuka?" Sindir Lily.
"Tidak ada cuka, jangan mengarang," kilah Aric, ia tahu istrinya itu sedang menyindir dirinya.
"Lihatlah, ayahmu sangat suka makan cuka. Jangan seperti itu saat kau sudah dewasa ya," ucap Lily sambil mengusap perutnya.
Aric mengerutkan keningnya, Adam tidak ada di sini. Dengan siapa istrinya itu bicara.
"Siapa yang kau ajak bicara Sayang?" tanya Aric.
"Tentu saja anakku?"
Aric semakin tidak mengerti dengan ucapan Lily. Ia mengangkat kepalanya, menatap Lily dengan penuh tanya.
"Ada Aric kecil di sini." Lily menarik tangan Aric, lalu meletakkan di atas perutnya yang masih rata.
Mata Aric melebar, ia Masih berusaha mencerna kalimat yang membuat jantung Aric berdetak begitu kencang.
"Apa kau tidak suka?" tanya Lily cemas, ia takut Aric tidak menginginkan kehamilannya.
"Suka aku tidak suka. Tapi sangat Menyukainya, terima kasih ... terima kasih Sayang." Aric menghujani wajah Lily dengan ribuan kecupan.
Aric tidak menyangka ia bisa memiliki anak lagi dalam waktu secepat ini. Ia sangat bahagia, akhirnya dia bisa menghabiskan waktu untuk merawat Lily di saat sia mengandung. Kesempatan yang pernah terlewatkan olehnya.
Namun, dibalik rasa bahagianya. Ada rasa khawatir yang menyusup di hatinya. Lily belum mengenal Aric sepenuhnya, bagaimana pria itu berjibaku di dunia hitam.
"Aric hentikan," ucap Lily sambil berusaha mendorong tubuh Aric menjauh.
Bukannya menjauh, Aric malah menarik Lily dalam pelukannya. Aric merubuhkan diri, hingga sang istri ikut terbaring dalam dekapannya.
"Hey ini sudah hampir pagi, sebaiknya kita bangun."
"Masih hampir, biarkan aku memelukmu lebih lama lagi." Aric menyusupkan wajahnya di ceruk leher Lily.
Menghirup kuat aroma tubuh Lily yang begitu manis. Lily pun mengalah, tidak ia pungkiri. Lily juga sangat menikmati dekapan tangan kekar Aric.
Pagi yang hampir menjelang, sang Surya telah bersiap untuk menggantikan sang malam. Dua sejoli itu masih menikmati kehangatan tubuh masing-masing, meluapkan cinta tanpa kata.
.
.
.
.
.
Setelah satu purnama berlalu.
Satu persatu markas white Clown du serang. Namun, Aric masih tenang meski para anak buahnya sudah sangat gerah dengan tingkah Marquis Kang, yang begitu terang-terangan menyatakan perang pada mereka.
"Tuan, kenapa kita hanya diam. Banyak anggota kita yang jatuh dan menjadi korban, audah saatnya kita bergerak untuk membalasnya!" Teriak salah satu anggota.
"Ya .. Balas dendam!"
"Serang Bandit-bandit itu!"
"Mereka penghianatan! Pantas dibakar!"
Sahut yang lain dengan menggebu, sudah sangat banyak korban dari white Clown yang berjatuhan. Kerugian material yang mereka alami juga tidak sedikit, beberapa kali pengiriman barang terganggu karena serangan Helena dan Marquis Kang.
"Tenang." Aric mengangkat tangannya mengisyaratkan agar semua diam, ruangan itu pun seketika hening.
"Kita harus punya rencana yang matang untuk menyerang, anggota kita sudah berkurang lebih dari separuh. Kita harus memperoleh sekutu untuk memenangkan perang ini!"
Para anggota pun saling berbisik, benar apa yang di katakan A. Tidak mudah untuk menyerang disaat seperti ini, mereka kekurangan anggota. Apalagi Kelompok Marquis mendapatkan dukungan penuh dari Helena Martinez, kelicikan Kang ditambah kekuatan Martinez akan membuat white Clown kewalahan.
Jika mereka menyerang tanpa perhitungan yang matang, itu sama saja mereka menyerahkan diri dengan sukarela mengantarkan nyawa.
"Tentu saja tidak, Aku akan menemukan sekutu untuk menambah kekuatan kita!"
.
.
.
Markas Darren.
Seorang laki-laki tertawa dengan lepas, setelah mendapat laporan bahwa white Clown di ambang kehancuran. Semuanya berjalan seperti yang ia inginkan. Menyingkirkan A dan kelompoknya, dan mengambil alih markas pusat white Clown.
"Kau puas sekarang?" tanya Marquis Kang. Laki-laki berambut panjang itu menyesap wine miliknya.
"Sangat puas, tapi ini belum cukup! Aku ingin melihat Badut itu hancur dengan tanganku sendiri. Aku akan menembakkan peluru tepat di jantung A," ujar Darren dengan menggebu-gebu.
"Lalu apalagi yang kita tunggu. Kita serang markas mereka malam ini, untuk apa menunda lebih lama."
"Kau benar," sahut Darren setuju.
"Siapkan semua anggota, kita hancurkan Badut itu malam ini juga!" seru Darren yang disambut penuh semangat oleh anak buahnya.
Marquis hanya tersenyum sinis melihat itu, semangat mereka untuk membalaskan dendam pada membuat mereka buta akan kemenangan kecil ini, mereka mengira semua terjadi dengan baim sesuai rencana. Mereka tidak menyadari adanya rencana besar dibalik ini.
Angin malam ini berhembus lebih dingin, bulan pun sangat enggan untuk menunjukkan pesonanya. Malam ini begitu pekat, awan tebal menyelimuti langit. Membuat suasana semakin mencekam.
Anak buah Darren bersiap untuk menyerang, semua anggota tanpa terkecuali. Darren dan Marquis Kang berdiri di mobil dengan atap terbuka yang memimpin mobil-mobil lainnya, ada ratusan orang di belakang mereka.
Dor ....Dor ...
Darren melepaskan tembakan pada penjaga yang berdiri diluar gerbang markas white Clown. Ia tertawa terbahak-bahak saat mobil yang membawanya berhasil masuk, setelah menabrak pagar markas white Clown.
Anggota white Clown bersiaga, mereka melepaskan tembakan dari atap markas.
"Serang!" teriak Darren.
Anggota Darren turun dari kendaraan yang membawa mereka, kedatangan mereka di sambut hangat dengan peluru-peluru penembakan jitu White Clown. Meskipun anggota white Clown berkurang tapi kecakapan anggota di markas utama tidak bisa di remehkan begitu saja. Mereka semua adalah orang-orang terpilih dengan keahlian khusus.
"Mati kau!" teriak Darren sebelum menembak salah satu anggota white Clown yang mencoba menyerangnya.
Brugh
Brugh
Pertarungan terjadi dengan sengit antara dua kubu. Sementara pada anak buah mereka saling baku hantam, Darren dengan leluasa berjalan masuk ke pintu utama markas putih itu, ia sungguh tidak sabar melihat wajah A yang pucat ketakutan karena serangan dadakan darinya.
Brakk
Pintu besar itu di buka dengan satu tendangan oleh Darren. Dalam markas hanya ada A yang sedang duduk sambil memainkan belati kecil kesayangannya.
"Hahahaha .... Aku akan membunuhmu!" tanpa basa-basi Darren mengacungkan senjatanya.
A terlihat santai tanpa ada pergerakan untuk menghindar, ia masih fokus memainkan belatinya.
"Kau mau membunuhku? Apa mau bisa, dulu saja kau tidak bisa merebut berati ini dariku Darren," ucap A dengan santainya.
"Diam! kau hanya Badut peliharaan Benjamin!" teriak Darren.
"Aku Badut peliharaan Benjamin yang berharga, lebih berharga dari pada murid kesayangannya. Dia bahkan memberikan kursi kekuasaan ini padaku, Darren. Bukan pada murid kesayangan yang pengecut seperti mu," sindir A.
Marquis hanya diam memperhatikan, drama yang bagus. Dengan tenang Marquis melipat kedua tangannya sambil bersandar di tembok ruang itu.
Darren menatap nyalang pada A, laki-laki itu datang dan merebut semuanya, hari ini Darren akan merebut semua miliknya kembali.
Dor.
Darren melepaskan tembakan tepat di dada A.