
"Ini papah? Danteng Divan, ya?" komentar Divan saat melihat album foto ketika Dira kecil. Ia menempati kamar yang sering menjadi tempat Dira menginap waktu kecil dulu. Di sana masih tersimpan album foto Dira juga foto yang tergantung di dinding.
"Kalau ini mamah," tunjuk Bia pada foto gadis kecil yang Dira peluk di ayunan.
Divan nyengir dan matanya menyipit. "Dali dulu jelek," komentarnya lagi terdengar menyebalkan sampai Bia menggelitikinya. Divan tertawa terbahak-bahak. Mereka baru bangun pukul sebelas pagi akibat kelelahan ketika tiba di Emertown.
Lembaran foto berganti pada masa mereka SMP. Ada satu foto yang menyimpan kenangan, saat Dira menembaknya pertama kali dulu dengan memberikan karangan bunga dan coklat.
Bia tersenyum geli. Dulu ia tak menyangka Dira akan menyatakan cinta. Habis semakin besar mereka semakin sadar diri jika hubungan mereka hanya sahabat. Sampai suatu ketika Bia ditembak seorang pria bernama Sunny. Akibat Dira sangat tidak peka pada perasaannya, ia terima saja cinta pria itu.
Sayangnya hubungan Bia dan Sunny tak berlangsung lama. Baru satu bulan pacaran, Sunny ketahuan selingkuh dengan teman Bia sendiri. Dari sana Bia jadi stress, ia sering makan banyak dan dalam tiga bulan berat badannya naik lima belas kilogram.
Masa keemasan Bia sebagai gadis remaja cantik hilang. Tak ada pria yang mendekatinya lagi. Justru si sahabat lak nat yang tiba-tiba menyatakan cinta dan jadi suaminya kini.
"Mamah undut, ya?" Divan menggaruk kening. Ia melihat ibunya lalu foto masalalu Bia.
"Makanya papah sering ledekin mamah kayak beruang," jelas Bia.
Divan mengangguk-angguk. Ia turun dari sofa lalu berdiri di depan Bia. "Papah mana?" tanya Divan.
Iya juga, pas bangun tidur, Bia tak melihat keberadaan Dira. Pria itu kalau sedang rajin bangun lebih dulu. Kalau sedang malas, meski diguncang-guncang tetap saja tidur lelap.
"Ayok cali!" ajak Divan sambil menarik tangan Bia. Ia menuruti saja keinginan putranya. Bia berjalan keluar kamar Divan. Ada seorang pelayan tengah membersihkan ruang keluarga.
"Lihat Dira gak, Miss?" tanya Bia.
"Ada di halaman belakang Nyonya. Tuan muda sedang minum kopi," jawabnya.
Lekas Bia berjalan ke halaman belakang tempat ia dulu belajar merajut dengan Nenek Benedith dan Dira bermain basket. "Papah itu!" tunjuk Divan.
Dira berdiri di tengah lapangan sedang menelpon. Sambil menunggu, Bia duduk di kursi santai. Ada setengah gelas kopi masih hangat di atas meja. "Divan duduk sini dulu. Kalau Papah sedang telpon jangan diganggu, ya?" saran Bia. Divan mengangguk setuju.
"Jadi kamu masih di Sculleaf?" tanya Dira. Ia sedang menelpon Hugo untuk menanyakan kepastian soal keberadaan Hugo kemarin sore.
"Sudah seminggu aku di sini buat shooting video klip," jawab Hugo.
Dira mengembuskan napas. Ia melangkah dua langkah ke depan. "Kamu gak ada urusan apapun dengan Haley Alvonz?" tanya Dira lagi.
"Bukannya aku sudah sejak bulan lalu digantikan sebagia model jaringan selulernya."
Semua ini semakin rumit bagi Dira. Ia mengingat USB yang Haley berikan padanya. "Apa kamu tahu dia punya hubungan apa dengan Amber?" tanya Dira. Ia berharap Hugo bisa memberi informasi.
Hugo memanggil managernya. Crimpton, manager Hugo terkenal paling handal mencari informasi di kalangan para staff.
"Crim bilang gak ada. Kenapa sih kamu nanyain tentang dia?" tanya Hugo penasaran.
"Nanti aku cerita," ucapa Dira.
Tak lama ia mematikan ponselnya. Padahal ia ke Emertown untuk menenangkan diri, malah terpaku dengan pernyataan Bia. Akhirnya Dira ditelan rasa penasaran. Lebih dari itu, ia takut Haley mengkhianatinya, meski tahu Haley akan rugi sendiri kalau berurusan dengan keluarga Dira.
"Dir! Makan dulu," panggil Bia dari kursi santai. Dira berbalik lalu mengangguk. Divan melambai-lambai memanggil.
"Divan jangan cepat gede, ya? Nanti papah kangen," keluh Dira. Menanggapi itu, Bia hanya tersenyum.
Divan mengangguk. Ia mengusap tangan pada kaos bergambar dinosaurusnya. "Kalau Divan gede kayak gini," tunjuknya.
Dira mencubit gemas pipi Divan. Hanya satu bulan lagi, anak itu resmi berusia tiga tahun. "Nanti Divan ulang tahun, kita naik pesawat ke luar negeri, ya?" ajak Dira.
Mata Divan berkaca-kaca mendengarnya. Ia selalu ingin naik pesawat. "Divan dah naik helikoloptel cama kakek. Kelen deh papah. Nanti naik petawat uga. Wow!" serunya.
Sarapan hari ini sandwich dengan salad hijau. Udara di halaman belakang sangat sejuk. Jauh di balik pagar ada pepohonan pinus yang menyediakan banyak oksigen.
Dira melihat jam tangannya. Sudah semakin siang. Dia mengambil ponsel, tapi dilarang oleh Bia. "Makan dulu sampai habis. Baru nelpon lagi," saran Bia. Dira mengangguk.
"Aku mau suruh Matteo dan Kalvis stay dulu di Heren. Aku ingin mereka mencari informasi," Dira membuka obrolan.
"Tentang?" tanya Bia bingung.
"Aku curiga pada Haley Alvonz."
"Karena dia muncul dari lift di lantai apartemen Cloena?" tanya Bia memastikan.
Dira mengangguk. "Lebih dari itu. Waktu aku ke rumahnya. Aku tahu dia lulusan SMA yang sama dengan kakakku. Kamu tahu Cloena juga lulusan dari SMA itu? Dia dan Haley satu angkatan," jelas Dira.
Bia yang tadinya hendak minum terdiam. "Apa mungkin mereka saling kenal?" tanya Bia lagi.
Dira mengangguk. Itu yang ia pikir. Kemungkinan mereka .... "Sial!" pekik Dira. Bia sampai kaget sendiri mendengar suara kencang Dira.
"Papah kasal, ih. Dak kacih contoh baik sama Divan!" Dengan kesal Divan mengomel menunjuk-nunjuk Dira.
Kali ini Dira tersenyum malu. Ia mencubit pipi Divan gemas. "Maafkan ya, lain kali gak lagi."
Bia mengedipkan mata. "Bi, operator seluler yang kamu pakai waktu SMA itu apa?" tanya Dira.
Bia berpikir sejenak. Ia mengambil ponsel dan melakukan pencarian. "Sekarang CEOnya adalah Haley Alvonz." Bia menunjukkan hasil pencarian.
Dira meneguk ludah. "Tak mungkin Cloena bisa mendapat nomor seseorang tanpa bantuan orang besar. Apa orang itu Haley?"
Bia menyimpan sendok di atas piringnya. Ia ikut berpikir. Masih bekas dalam ingatan Dira saat ia melihat isi chat Bia meminta Dira tak menghubunginya lagi. "Benar, sih. Regulasi di Livetown membuat kita sulit mendapat nomor baru. Apalagi kalau nomor itu sempat dimiliki orang. Apa mungkin Haley Alvonz yang membantu Cloena? Kenapa?" pikir Bia.
Dira memijiti keningnya. Misteri ini semakin rumit saja. "Kalau benar Haley dulu membantu Cloena, kenapa sekarang membantuku? Apa dia hanya jadikan itu perangkap?"
"Apa dia ada niat menghancurkan keluarga Kenan?" tebak Bia.
Dira mengangguk. "Itu terlalu mengada-ngada kalau tujuan dia hanya aku. Jika tujuannya keluarga Kenan, Daren mungkin lebih tepat jadi sasaran."
🍁🍁🍁
silakan mikir keras. 😉 Belakangan ini gtw knp MT eror smp ketahan review berjam-jam. jadi pengen nangis 😭