Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Ingin Pulang


Livetown kembali gempar. Media siang itu kembali sibuk mencari informasi akan sebuah postingan kakak tertua Dira, Daren Kenan. Pasalnya di instastory pria itu memposting foto-foto Dira yang sedang mengenakan jas berwarna putih dan tertera tanggal pernikahannya sekitar beberapa bulan lalu.


Berbagai komentar menghiasi media social hingga situs berita online. Beberapa fans bahkan mengadakan aksi membuang album Dira ke tempat sampah. Poster, kaos fans hingga lightstick dibakar sebagai wujud kekecewaan. Beberapa fans sampai berniat bunuh diri karena hal itu.


Dia memang hebat, dalam hitungan hari membuat dunia kecewa.-


Aku pikir dia pria paling sempurna, nyatanya ia pembohong.-


Dia baru menikah beberapa bulan, anaknya sudah sebesar itu. Apa keluarganya tak malu memperlihatkan anak itu pada public?.-


Lebih dari itu, fans Cloena juga ikut ramai. Tagar "stay strong princess" mengisi trending pertama tagar di berbagai media social di Livetown. Mereka tak bisa menyerang kolom komentar Instagr*m keluarga Kenan juga Dira karena terkunci. Dalam hitungan detik banyak fans yang meninggalkan klub penggemar Dira.


Kasihan Cloena, selama ini dia ditipu. Bagaimana perasaanya begitu tahu pria yang ia cintai punya anak dari wanita lain?-


Harusnya kau bertanggung jawab pada ibu anak itu sejak lama? Bagaimana bisa kau mempermainkan perasan Cloena Parviz?-


Wanita itu tidak tahu diri, kalau ingin dinikahi harusnya muncul sejak dulu!-


Membaca semua komentar itu rasanya membuat Melvi kesal. Ia bahkan tak hentinya mengeluarkan kata-kata kasar. Sampai Jared yang sedang mengepel beberapa kali tersentak kaget.


"Kamu kesurupan, Mel?" tanya Jared.


Melvi mendengkus. "Dira ngapain, sih? Bia dikomen segini jahatnya malah diam saja. Kasihan kan Bia," protesnya.


Jared menggeleng. Padahal komentar jahat pada Dira bisa jauh lebih banyak. "Mereka pasti sudah memperkirakan ini. Aku yakin pasti mereka punya cara sendiri mengatasinya. Kau jangan terburu-buru begitu," saran Jared.


Melvi sedang asyik menjawab banyak komentar jahat. "Bahkan mereka bilang kalau Divan itu bukan anak Dira. Apa mereka gak punya hati? Anak sekecil itu ikut dikatai," protes Melvi.


Jared menggeleng. Netizen benar-benar aneh, baru kemarin melihat Divan jalan-jalan, mereka memuji betapa tampan dan lucunya Divan. Hari ini melihat foto-foto pernikahan Dira, mereka mengatai anak itu.


Hai kalian yang cuman bisa komentar! Kamu pikir orang gak punya masalah? Memang cuman wanita itu yang hamil di luar nikah?Pikirkan adik atau kakakmu juga yang mungkin bersikap kotor di luar sana! Begitu balasan Melvi atas komentar yang banyak menyudutkan Bia. Ia terkaget ketika tiba-tiba ponselnya bordering. Ada nama Bia di sana. Lekas Melvi angkat.


"Bia! Kamu baik?" tanya Melvi.


"Iya, Mel. Aku mau ngabari kalau lusa aku pulang ke Emertown. Aku dan Dira memutuskan kembali ke sana. Ia juga sudah resmi keluar dari agensi," jelas Bia.


Melvi ber-oh. "Memang di Heren kenapa?" tanya Melvi.


Bia termenung. Ia juga tak masalah tinggal di kota ini. Hanya saja Dira sudah keras pada pendiriannya. Bia hanya bisa mengikuti keputusan Dira. Bagaimanapun, ia hanya seorang istri. Tentu harus berbakti pada suami.


Melvi melirik ke luar. Ada berita aneh apapun, Emertown selalu tenang. Anak muda di kota ini lebih peduli dengan bermain di perkebunan dan warnet dibandingkan mengurusi masalah artis. Rata-rata dewasa muda juga meninggalkan kota dan memilih bekerja di kota besar.


"Sepi saja," jawab Melvi.


Bia mengangguk. Berarti persis seperti perhitungan Dira. Salah satu alasan pulang ke Emertown adalah agar bisa tenang dari berbagai gosip di luar sana dan juga Cloena Parviz. "Baguslah. Setidaknya di sana aku bisa main ke luar rumah. Di sini aku harus seperti burung dalam sangkar. Setiap hari hanya main dengan Divan dan Dira."


Melvi tersenyum geli. "Main apa dengan Dira?" tanyanya nakal.


Bia manyun. "Sudahlah! Aku hanya mengabari itu. Setelah di sana aku berikan alamatku. Katakan juga ada Mrs. Carol. Aku ingin dia tinggal dengan kami," pinta Bia. Melvi mengangguk saja.


Setelah itu Bia langsung mematikan ponselnya. Dari balkon, ia melihat mobil Dira masuk ke dalam gerbang dan mulai menepi ke sisi teras. Lekas Bia berlari ke dalam. Ia melangkahkan kaki di ruang tengah lantai dua dan turun ke lantai satu. Dira sudah terlihat berjalan masuk ke entrance. Senyum terkembang di wajah Dira begitu melihat istrinya begitu cantik mengenakan dress bermotif bunga.


"Padahal tadi pagi baru lihat, tapi sudah rindu lagi," ucap Dira sambil memeluk Bia dan mengecup bibirnya. Bia menunduk malu. Ia tekan-tekan pelan telunjuknya di kancing kemeja Dira. "Bagaimana dengan rapatnya?" tanya Bia.


Tadi pagi Dira resmi menandatangani pemutusan kontrak dengan labelnya. Meski ia tak bisa menarik saham dari sana. Orang-orang juga tidak tahu jika dana investasi Dira masuk ke sana. "Pokoknya banyak uangku yang dibayar untuk ganti rugi. Sayang, padahal untuk beli kapal pesiar cukup," katanya sambil nyengir.


Bia hanya bisa menarik napas lalu menenangkan perasaanya meski sebagai istri merasa keberatan uang suaminya menguap tanpa hasil. "Yang penting beres dan kita bisa pulang dengan tenang."


Dira dan Bia berjalan sambil berpegangan tangan ke kamar. "Anakku mana?" tanya Dira yang merasa heran rumah terasa sepi. Biasanya mainan Divan berserakan di mana-mana.


"Tidur. Dia tadi tak mau tidur siang karena Emelie datang. Kau tahu dia tak pernah punya teman main. Sejak ada Emelie dia terlihat senang. Nanti pulang ke Emertown dia kembali tak ada teman," keluh Bia.


Bia membuka pintu kamar, keduanya berjalan menuju sofa. Di sana Dira menyandarkan punggungnya yang terasa lelah. Bia memijiti bahu Dira yang terasa tegang akibat banyaknya pikiran. "Matteo bilang tadi pagi ia bertemu Cloena. Seperti biasa dia menanyakanmu. Matteo bilang padanya tentang pernikahan kita."


Dira berpindah. Ia mengangkat kedua kakinya ke sofa dan tidur dengan menghadap ke samping. Kepalanya direbahkan di pangkuan Bia. Dira terdiam sementara Bia mengusap lembut rambutnya. "Kenapakau bahas wanita itu, sih?" tanya Dira.


Bia terdiam. Ia ingin menanggapi serius, tapi keadaan ini terlalu kaku. "Kangen, ya?" ledek Bia.


Dira terkekeh. "Kalau kangen kenapa?" tanya Dira sambil menarik tangan Bia sampai wajah wanita itu berada dekat dengan wajahnya. Bia menutup mata, ia sudah siap dicium suaminya. Nyatanya, Dira malah tertawa. "Ngarepin apa kamu?" tanya Dira. Karena kesal Bia kembali duduk tegak lalu memukul lengan suaminya.


"Kasih semangat, donk. Besok aku siap menghadapi publik. Aku akan buat klarifikasi soal kita berdua juga Divan agar kita bisa pulang dengan lebih tenang. Meski aku tahu mereka tak akan mudah memahami," ucap Dira.


🍁🍁🍁


Aku masih mw ingetin, yg blm baca jodoh 50 ribu dan punya apk WP, yuk follow wp aku elara_murako. ikutan gesrek bareng Dedek Sheila dan Oom Andre.