Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
PLJJ


Tawa Dira terdengar dari sambungan video call malam itu. Bia hanya sendiri di kamarnya. Divan dan Diandre tertidur pulas di kamar sebelah. Malam di Heren masih ramai di tengah kota, tapi tidak di komplek perumahan tempat Bia tinggal.


"Malah ketawa. Gak kasihan sama anak kamu? Dia nangis sampai sesegukan sendiri. Persis kamu waktu kecil dulu, suka nangis diam-diam sendiri," protes Bia. Ia memainkan kursi yang ia duduki hingga terdengar suara ketukan dilantai dengan tempo yang sama.


Dira juga bingung bagaimana menimpalinya. Genetik tidak akan membohongi. Anak bukan selembar kertas kosong, nyatanya mereka membawa potensi masing-masing yang didapat dari genetik orang tua. Kebanyakan turun dari ibunya. Potensi itulah yang harus ditemukan dan diasah agar mendukung masa depan anak nanti.


"Besok aku telpon dari sini. Lagipula sebelum pergi aku sudah tanya sama dia, apa gak apa-apa aku pergi. Jawabnya iya sambil sok bilang sudah besar, gak akan nangis asal dibeliin oleh-oleh," timpal Dira. Ia agak memundurkan kursi kerjanya.


Kamar hotel yang Dira tempati memiliki empat ruangan. Dari ruang tamu, kamar mandi, kamar tidur juga ruang kerja. Kamar yang cukup besar dan harga sewanya juga mahal. Terlebih karena berada di daerah urat nadi perekonomian negara ini.


Bia belum menutup gorden kamarnya. Ia ingin merasakan angin dari luar malam ini. "Jadi kamu beneran dua minggu ada di sana?" tanya Bia sambil menunduk sedih. Ia tak biasa jauh dari Dira setelah menikah. Biasanya juga kalau Dira pergi ke luar kota ia ikut. Hanya saja sejak ada Diandre, ia jadi harus sering mengalah.


Dira mengangguk. "Maaf, ya? Kalau Diandre sudah besar pasti aku ajak. Aku juga gak mungkin bawa Divan. Kalau aku kerja, di sini sama siapa?" Divan juga bukan anak yang mudah betah jika ditinggal tanpa keluarga. Dia pintar mengakali pelayan dan itu membuat Dira khawatir jika meninggalkannya sendiri.


Bia mengangguk. Ia mengerti keadaan pekerjaan Dira. Rasanya kalau begini lebih baik dia jadi artis saja. Paling sibuknya kalau sedang mengeluarkan karya baru. Selama jadi pengusaha, ia malah lebih sering pergi ke luar kota.


Bia menggerakkan kamera ke arah tempat tidur. "Sepi banget gak ada kamu. Gak bisa koprol," celetuk Bia. Kontan itu membuat suaminya tertawa terbahak-bahak.


Dira tak mau kalah. Ia menyorot bagian kamar tidur yang bisa terlihat dari pintu ruang kerja. "Di sini juga sepi. Aku juga gak bisa koprol," timpalnya.


Bia tertawa kecil. Tak lama ia menarik napas lalu menggerak-gerakan bibirnya. "Rasanya hening gini jadi sedih terus. Mau lupa juga keingat," tambah Bia.


"Aku juga sedih, sayang. Takut kamu di sana pergi keluar, ketemu pria ganteng terus oleng," ucapnya.


Bia manyun. "Yang ada, kamu yang oleng sama sekretaris cantik di sana atau staff ngegemesin," sewot Bia. Dia sampai mengalihkan pandangan ke sisi lain.


"Banyak sih sekretaris cantik sama staff gemes. Ngangenin pula wajah mereka itu," canda Dira.


Bia menunjukkan tinjunya ke arah layar. "Awas kamu, kalau macam-macam. Lebih baik aku antar ke kuburan daripada diselingkuhi!" ancam Bia.


Dira tertawa. "Nih, ya. Kata orang, laki-laki itu harus selingkuh sekali biar tahu rasa jadi setia. Aku sudah pernah selingkuh jadi sudah kenyang," tegasnya.


Bia mengeluarkan suara decakkan dari mulutnya. "Dih, kamu itu alasan saja! Yang tadi belum kamu lanjutin, beneran gak bayangin wajah sekretaris cantik sama staff gemes itu, kan?" omel Bia masih belum puas.


Dira menggeleng. "Bercanda. Lagian juga mereka mana mau sama aku. Gak enak, sudah punya anak dua. Nanti warisannya harus dibagi sama anak tiri," celetuk Dira membuat Bia langsung tertawa.


Dira mengangguk. "Memang sibuk apa, sih?"


Bia juga bingung. Belakangan ini ada hal aneh yang dilakukan Cynthia, Matteo dan Kalvis. Mereka biasanya ribut digrup chat. Jadi Bia, Dira, Matteo dan Kalvis punya grup chat sendiri. Isinya tak perlu dijelaskan. Hanya obrolan tak jelas agar hidup tak terasa hambar.


Matteo selama ini mengurus jadwal update youtube Dira, editing video hingga menerima pekerjaan di bidang keartisan. Karena itu dia sering sibuk seperti Dira. Biasanya sesibuk apapun, dia masih sempat kirim chat lucu di grup. Belakangan malah tak pernah.


"Mungkin dia lagi mikirin konten apa untuk Divan nanti," tebak Bia.


Dira menggeleng. "Aku sudah suruh dia jangan mikirin itu. Divan lebih kreatif daripada dia. Ikuti saja Divan maunya ke mana, kan?" saran Dira.


Bia mengangguk. "Ya, mungkin ingin suasana baru. Besok aku antar Divan ke acara talk show juga, ya? Kamu nonton streaming dari sana, kan?" tanya Bia.


Dira mengangguk. "Kalau besok dia nangis, tolong peluk saja dia. Batalin acaranya. Jangan maksa. Lebih baik ganti rugi daripada bikin psikis anak kita terluka," nasehat Dira.


"Iya lah, anak itu bagian hidup. Uang cuman sebatas kebutuhan. Kebutuhan bisa diganti, tapi hidup hilang ... sama saja mati," tegas Bia.


"Ya sudah, kamu tidur sana. Sudah malam. Nanti sakit. Aku pulang dari sini pasti kangen pengen ngucek-ngucek kamu. Kalau kamu sakit mana bisa."


"Apa sih! Mana bisa! Kamu kalau pulang pasti dimonopoli anak-anak. Sampai mereka tidur mana akan dilepas. Sekali dilepas kamunya pasti lelah."


Dira berdiri dari meja kerja di kamar hotelnya. Ia berjalan ke balkon dan memperlihatkan pemandangan Manhattan dari sana. "Bagus, ya? Lebih keren daripada Heren," tunjuk Dira.


Bia mengangguk. "Sambil baringan sana lihatnya," pinta Dira.


Bia ikut berdiri dari kursi. Ia berjalan ke atas tempat tidur dan berbaring sambil menutup setengah badan dengan selimut. Di tangannya, ponsel masih menyala dan terlihat dari layar lampu-lampu indah dari kota besar di negara bagian New York itu, tepatnya di county Manhattan.


"Aku gak mau lihat lampu. Aku mau lihat kamu boleh, gak?" pinta Bia. Kamera Dira ganti ke arahnya. Pembagian waktu New York dan Livetown memang sama. Hanya saja jika di New York baru masuk waktu malam, Heren masuk tengah malam.


"Tidur, aku lihatin dari sini," ucap Dira.


🍁🍁🍁


Nulis part ini, kok bikin aku gak rela namatin ya? 😭😭🤧 Tamatin jangan sih? Bingung. Kalau dilanjut sampai Februari gak apa-apa? Nunggu kalian bosen aja? Apa gimana, nih? Bingung. 🙂🙂 Aku takut dihujat. Aku ini lemah lembut seperti kapas kena formalin.