Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
nungguin ini ya ...


Ia menjadi yang paling senang ketika mendengar selama seminggu Divan pergi dengan ayah dan ibunya. "Maafkan ya Divan. Bukan Papah egois, tapi Papah perlu waktu berdua sama mamah juga," ucap Dira sambil menyetir.


Syukur ia bisa pulang lebih awal. Pukul sembilan mobil Dira sudah menepi di sisi terasnya. Dira keluar dari mobil dengan balon di tangan kiri dan kue di tangan kanan. Ia sempat-sempatnya membeli semua itu demi Bia. Bagaimana ia lupa jika istrinya hari ini ulang tahun yang ke dua puluh satu.


Begitu tiba di kamar, ia kaget Bia tak ada di sana. Dira mendengus. Mungkin karena Bia masih terbiasa tidur di kamar Divan.


Dira meminta pelayan menata kado, kue dan balon di kamar. Setelah semua rapi, ia mematikan lampu dan pergi ke kamar Divan yang hanya terpisah oleh lorong menuju balkon utama di lantai dua.


Menuju kamar Divan, Dira tak mengetuk pintu. Ia sengaja ingin membuat Bia kaget. Hasilnya malah ia yang terkejut. Dira jelas melihat Bia menangis. Begitu sadar Dira datang, Bia lekas menghapus air matanya.


Wajah Dira langsung terlihat gusar. Ia hampiri Bia dan duduk di sampingnya sambil memeluk perempuan itu. "Istriku kenapa malam ini? Apa aku buat salah lagi? Rindu sama Divan?" Dira menanyakan kemungkinan yang terjadi.


Bia menggeleng. Kesedihannya ini tak akan ada yang mengerti. Kali ini Bia berusaha menahan air matanya. Ia menggeser tubuh agar membuat jarak dengan Dira.


"Sekarang karena aku lagi, kan? Kenapa? Maaf aku gak peka. Karena itu aku butuh penjelasan kamu." Dira meraih tangan Bia.


Wanita di sampingnya memeluk lutut. Bia menenggelamkan wajah diantara lututnya. Justru itu semakin membuat Dira khawatir.


"Kita ini sudah menikah. Apa kamu akan terus tertutup padaku begini? Kamu tahu melihatmu begini aku merasa terbebani dan benci diriku sendiri?" Dira menggeser tubuhnya mendekati Bia dan memeluk perempuan itu. Mendapat sentuhan begitu hangat dan perhatian dari suaminya, Bia merasa pertahanannya hampir jatuh.


Dira mengusap rambut Bia. "Apapun kesedihanmu, bagi bersama denganku."


Kali ini tanggul Bia benar-benar hancur. Perempuan itu menangisย  lalu memeluk suaminya. "Jadi tadi siang aku jalan-jalan. Ada ibu-ibu yang membicarakanmu dengan Cloena Parviz. Mereka memaksa jika ingin kau kembali padanya. Lalu aku marahi saja mereka," adu Bia.


Dira meneguk salivanya. "Kau sedih karena ucapan mereka?" tanya Dira.


Bia menggeleng. "Bukan, aku merasa berdosa karena memarahi orangtua. Kasihan mereka, tapi mau balik lagi malu," jawab Bia.


Mendengar itu, Dira bingung juga. Ia antara kasihan juga ingin tertawa. "Kalau kau marah, itu hakmu. Kau itu istriku meski mereka tah tahu. Kadang kita juga harus mengungkapkan kekesalan agar orang yang ada di lingkungan kita mengerti. Apalagi kalau ucapan mereka benar sudah keterlalu. Jadi, jangan merasa bersalah," nasehat Dira.


Bia mengangkat wajah. Ia pandang wajah suaminya yang terlihat memberinya semangat kemudian menghapus air matanya. "Sekarang bukan waktunya menangis. Ikut aku ke kamar," ajak Dira.


Ia menuntun Bia menuju kamarnya. Bia bingung ketika masuk, kamar Dira justru gelap. "Tunggu di sini, aku nyalakan lampu," saran Dira membiarkan Bia berdiri kebingungan di tengah ruangan.


Begitu lampu menyala, Bia kaget luar biasa. Ada banyak kado, balon dan kue. "Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun. Bahagia selalu istriku, semoga panjang umur!" Dira menyanyikan lagu ulang tahun.


Bia merasa tersentuh. Ia peluk Dira dengan erat. "Terima kasih," ucap Bia.


"Akhirnya kita sebaya lagi," ucap Dira. Mereka memang lahir di bulan yang sama. Dira lahir di awal bulan sementara Bia di akhir bulan.


Berdua mereka memotong kue dan saling suap. Dira juga meminta Bia membuka kadonya satu per satu. Ada isinya sepatu, tas, gaun hingga yang paling lucu lingerie.


"Apa-apaan ini?" tanya Bia kesal melihat baju tidur transparan berwarna merah menyala.


Bia mencubit pipi Dira. Ia terkekeh. "Kalau aku pakai kamu mau kasih apa?" tanya Bia.


Dira membuka kancing paling atas kemejanya sambil mendekat ke wajah Bia dan berbisik, "jiwa dan ragaku."


Divan malam itu dalam perjalanan menuju peternakan kuda mahal. Sementara kedua orangtuanya sedang dalam perjalanan malam romantis mereka.


Meski tak memakai lingerie dari Dira, Bia nampak seksi dengan dress tidur warna hitamnya. Mereka duduk di sofa. Keduanya saling tatap dan menikmati segelas wine.


"Senang?" tanya Dira. Bia mengangguk. Terasa usapan halus tangan Dira di lengan Bia.


"Sekarang apalagi?" tanya Dira. Bia menggeleng. "Divan pergi seminggu, loh," pancing Dira.


"Lalu?" tanya Bia kura-kura dalam perahu.


"Kalau gak mau tidur sendiri, aku siap menemani." Kali ini tangan Dira membelai rambut panjang Bia. Pria itu memajukan wajahnya mendekati wajah Bia. "Kalau aku minta malam ini mau kasih?" tanya Dira meminta jatahnya.


Bia tak mau pura-pura tak peka lagi. Apa yang Dira inginkan sekarang, sudah Bia nantikan sejak malam pernikahan. "Mau malam ini saja?"


Seakan mendapat sambutan yang tepat, Dira semakin berani masuk. "Malam setelah-setelahnya juga aku mau," timpal Dira.


Pria itu memeluk Bia erat. Mereka saling berpandangan dan dalam hitungan detik, bibir Dira menyerang bibir Bia dengan penuh ambisi. Kedua bibir itu bersentuhan dan bergerak dengan irama sempurna.


Sejalan dengan bibirnya yang sedang traveling di mulut Bia, tangan Dira menyusuri punggung hingga turun semakin bawah dan memainkan bagian sensitif paling belakang tubuh Bia.


Lenguhan terdengar dari mulut Bia disela sentuhan ganas Dira di bibirnya. Tenggelam dalam lautan api membara, Bia dan Dira mulai masuk ke dalam alam pikiran bawah sadar. Hanya ada mereka di pikiran masing-masing. Ah, Bia merindukan sentuhan itu.


"Mau kenalan dengan tempat tidur kita?" tawar Dira begitu melepaskan bibir Bia. Perempuan itu bernapas dengan berat tanda Dira sudah memberikannya kenikmatan yang ingin ia lanjutkan.


Bia pasrah saja, ia biarkan tubuhnya dibawa Dira ke atas tempat tidur. Mereka berciuman lagi untuk mengulang ritual malam mereka ini. Selesai dengan bibir Bia, ciuman Dira bergeser ke leher, dada, perut hingga bagian yang paling menuntut kenikmatan malam itu.


Dira mengangkat rok dress Bia. Ia terlihat bersemangat melihat segitiga bermuda yang menutup palung dalam tempat timun lautnya bermain nanti.


Pelan-pelan Dira menurunkan jendela terakhir demi melihat seindah apa palung yang sempat ia tinggalkan dulu kini.


Begitu ia lihat pusarannya. Dira memutuskan bibir dan lidahnya duluan bermain di sana. "Rasanya tetap sama meski Divan sempat keluar dari sini," ucap Dira dengan kedua tangannya menikmati kelembutan di kulit p*ha Bia.


Istrinya meracau. Bia tak bisa menjabarkan sensasi yang ia rasakan. Ia hanya mengeluarkan kata-kata meminta Dira berhenti, tapi ia tekan kepala pria itu agar tetap di sana.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


๐Ÿ˜’ Dari kemarin nanyain ini, kan?? Awas kalo komennya gak tiga ratus biji, loh! Entar aku kasih episode cloe sampe 10 chapter baru tahu rasa.