Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Sore Itu Di Dalam Mobil


Sore itu Dira dan Bia harus keluar rumah keluarga Ernesto Kenan tanpa Divan. Tak tahu apa yang dikatakan Ernesto hingga Divan sendiri tidak mau ikut dengan kedua orangtuanya. Bia bahkan tidak berhenti menangis di dalam mobil.


"Gimana? Anakku ... aku harus bagaimana?" tanya Bia sambil mengguncang lengan Dira.


Dira yang sedang menyetir mengembuskan napas berat. "Kita terima syarat Papah. Aku urus-urus surat pernikahan kita. Lagi pula Papa hanya meminta syarat menikah tidak ditekankan secara agama atau negara. Paling penting kita nikah," jawab Dira. Dia berusaha tenang karena selama ini tergesa-gesa malah salah langkah.


Bia berbalik sambil memukul lututnya. "Tahu begini lebih baik jangan bawa Divan!" ucapnya menyesal.


Tangan kiri Dira mengusap rambut Bia dengan lembut. "Sabar, ini aku juga usaha. Apalagi aku yang baru bertemu dengannya lalu tiba-tiba harus diambil."


Bia berpaling pada Dira lagi. "Kita menikah saja secara agama besok!" tekan Bia ingin cepat-cepat bertemu Divan lagi.


Dira terbatuk. "Sabar dulu. Aku belum membicarakan ini dengan agensi. Besok aku akan bicara dengan mereka lewat telpon dan tetapkan waktu. Pokoknya sebelum satu minggu."


Tangan Bia mencubit Dira gemas. Jelas Dira langsung berteriak kesakitan. "Kita mau kehilangan anak dan kamu masih mikirin agensi?" ucap Bia kesal.


"Bu, sabar kenapa. Ini bukan karena aku egois. Kita harus dapat jalan terbaik. Kalau tergesa-gesa apalagi sampai bocor yang akan kena hujat kamu bukan aku. Kamu tahu fans zaman sekarang, kan?" nasehat Dira.


Bia bergidik. Ia ingat pernah ada lima remaja mampir ke toko. Mereka fans berat salah satu penyanyi papan atas di Heren. Ketika tahu artis itu pacaran, mereka menyusun inisiatif meneror pacar si artis. "Terserah kamu, deh. Pokoknya kita harus bisa ambil Divan lagi!" Bia mengusap lengannya yang berubah dingin. Ia juga menghapus air matanya.


"Aku tahu kamu paling gak tahan dibully," ucap Dira pendek sambil menatap ke kaca mobil untuk memperhatikan jalan.


Bia menyandarkan sikutnya di pintu mobil Dira. "Aku gak tahu kenapa manusia suka mengucapkan kata-kata kasar pada orang lain. Mengatai sesuatu yang hanya bisa mereka lihat dalam bingkai, tanpa masuk ke dalamnya. Sedih saja, seolah aku hidup harus sesuai keinginan mereka. Sementara mereka tak mau dikritik," jelas Bia. Hidup memang tak adil karena tak semua orang tahu apa itu empati.


Dira tersenyum kecil. "Kedepannya hidup denganku pasti akan dapat hujatan. Sebaik apapun, ada saja yang menilai negatif. Kau kuat?" tanya Dira meminta kesiapan Bia.


"Aku sudah sering dicemooh saat mengandung Divan dan menggendongnya di depan orang. Padahal mereka tahu aku tak bersuami," tekan Bia.


"Baguslah. Aku pikir kamu masih takut." Dira memutar kemudinya untuk membawa mobil merah mahal itu menuju rumah Bu Suli.


Bia meneguk ludah. Ia tak memikirkan apa kata netizen julid nantinya. Tinggal berhenti menonton televisi dan melihat berita di internet. Kekhawatirannya hanya satu itu saja. "Dir, Cloena itu ada bibit-bibit psikopat, tidak?" tanya Bia.


Bia bergidik. "Takut saja dia sanggup mutilasi orang. Kan serem, Dir. Kayak di film-film gitu. Kalau dia masih setipe pelakor di sinema televisi, aku gak masalah."


Dira mengusap rambut Bia. "Sementara kamu belajar jambak orang, biar aku lindungin kamu dan Divan dulu. Kecuali, dia beneran bisa mu tilasi aku, baru kamu maju."


Sempat ada jeda di antara mereka. Langit mulai gelap dan lampu-lampu menyala di sisi jalan. Bangunan Neo klasik masih menjadi pemandangan di mata Bia. Cat gedung-gedung di sana tidak diperbolehkan menggunakan warna selain putih dan gading. Tidak heran jika Emertown begitu seragam.


"Divan kok gak nangis aku tinggal, ya?" tanya Bia bingung. Anak itu sempat bilang agar Bia lekas bertaubat. Mengingat itu, Bia nyengir sendiri.


Dira sempat melihat hal itu. "Kok malah senyum?" tanya Dira.


"Aku ajak dia pulang, kupikir akan mempan dan buat Oom izinkan dia ikut kita. Divan malah nasehatin aku. Tahu katanya apa?" jawab Bia. Dira menggeleng. "Mamah, cepet tobat. Dangan nakal telus. Kacian kakek sama nenek keliput," lanjutnya meniru cara bicara Divan.


Dira ikut tertawa. "Baru beberapa jam sudah rindu," keluhnya. Malam ini dia tidak bisa memeluk Divan ketika tidur. "Lagian dia bicara kayak ibu-ibu begitu siapa yang ajarkan, sih?"


Bia melipat tangan di depan dada. "Melvi. Kalau libur pasti Melvi ke rumah ajarin dia yang aneh-aneh. Kadang juga dia mendengar Mrs. Carol yang sedang bergosip dengan tetangga. Divan itu pintar. Meski tidak memperhatikan, ia akan mengingat kata yang ia dengar," jelas Bia.


Mata Bia melirik ke arah Dira. "Itu masih mending. Kamu lebih parah," ketus Bia.


"Apa?"


"Kamu ingat gak waktu TK pernah bilang kalau banyak yang mencintai kamu di sekolah? Sampai terang-terangan ngatain teman sekelas kita berada di jalan yang sesat karena salah pakai warna sepatu."


Ingat itu mendadak Bia tertawa. Divan dan Dira memang sama-sama ember mulutnya minta digembok. Kali ini meski diledek Dira ikut tertawa. "Hanya aku sepertinya anak TK yang bawa cincin ke rumahmu dan mengajukan lamaran."


Niat sekali Dira saat itu sampai memakai jas dan mengambil karangan bunga di ruang tamu neneknya. "Semoga Divan tidak di jalan ninja yang sama," harapannya.


🍁🍁🍁