
"Kamu yakin media sudah bisa sedikit dikendalikan?" tanya Dira.
Ed mengangguk. "Masalah video itu terus menyebar. Kita hanya bisa memberi klarifikasi ketidaktahuan kita akan skandal itu termasuk mengumumkan pemecatan Mr. Ron dan juga trainee itu," jawab Ed.
"Pastikan jangan sampai kita dihujat. Paling penting jangan membiarkan mereka memfitnah kita menggunakan media play untuk mengangkat nama agensi. Sama sekali tak elegan," tegas Dira.
Lekas Dira bangkit dari tempat duduknya. Ia mengambil jas lalu mengenakan benda itu. Dira keluar dari meja. "Aku jemput putraku pulang dulu, ada komplikasi."
Ed mengangguk. Setelah itu Dira berjalan keluar dari kantornya, menyelusuri lorong dan turun mengenakan lift. Ia kaget karena seorang wanita paruh baya menghentikannya di lobi. Dira memiliki daya ingat yang tinggi. Dira tahu, siapa wanita itu.
"Pak, Saya Mayen. Saya ibunya Ceril, trainee yang dipecat dari agensi ini," ucap ibu itu. Dira menghentikan langkahnya. "Apa tidak bisa ada keringanan untuk putri saya. Dia sudah dipecat, kenapa harus mendapat tuntutan juga?" tanya Ibu itu dengan suara lirih.
"Begini saja, apa yang dilakukan putri anda apa semua orang di kantor ini dilibatkan? Apa mereka semua ikut mendapat keuntungan dari perbuatan putri anda?" tanya Dira. Ibu itu sama sekali tak menjawab.
"Lalu kenapa mereka harus menanggungnya juga?" tanya Dira sinis. Ia tahu, sama sekali tak baik jika harus menghujat orang. Dia juga pernah melakukan keburukan yang sama. "Para staff di agensi ini datang ke sini untuk mencari nafkah bagi keluarga mereka. Karena perbuatan putri anda, mereka semua terancam kehilangan pekerjaan," tegas Dira.
"Hanya tuntutan itu terlalu ...." Mayen tak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Saya tak menuntut dia. Satu tuntutan saya, agar putri ibu mengundurkan diri dari label ini. Tuntutan itu datang karena videonya menyebar dan itu pemerintah yang mengusut, bukan saya. Saya tak tahu apa-apa lagi. Tuntutan yang lain berasal dari keluarga Mr. Ron. Saya tak bisa melakukan protes atau apa, itu hak mereka yang sudah dikecewakan oleh putri ibu," tegas Dira.
"Tidak bisakah anda menolong kami? Kasihan putriku, dia sudah tak punya ayah. Sejak kecil hidup dalam kemiskinan tanpa sepeserpun uang ditinggalkan keluarga ayahnya," pintanya.
Dira sedikit kasihan juga mendengar itu. Hanya itu bukan tanggung jawabnya. "Saya sudah berbuat hal terbaik dengan menahan video itu untuk tak menyebar. Banyak uang saya keluarkan. Hasilnya nihil. Setelah ini saya tak bisa berbuat apa-apa lagi, maaf," ucap Dira.
Ibu itu menundukkan wajah. "Saya pamit, saya harus menjemput putra saya ke sekolah," izin Dira lalu pergi. Bukannya ia tak ingin membantu. Satu, uangnya sudah banyak dipertaruhkan dan kedua, istrinya akan salah paham jika Dira menolong seorang wanita.
"Divan, aku main ke rumah kamu, ya?" Anak perempuan dengan rambut panjang sesikut dan bando pink menghampiri.
"Gak, Divan sibuk. Jadwal banyak," tolak Divan dengan tegas. Bukannya ia sombong, Divan tahu anak perempuan itu putri siapa.
"Nenek aku suka loh sama mamah kamu. Mamah kamu cantik seperti princess. Nanti kita bagi mamah, ya?" ucap Raya yang sudah diracuni ucapan neneknya.
Divan mengangkat alis. Dia ingat selalu ingat pesan Dira untuk tidak menyakiti perempuan. Akhirnya Divan hanya bisa mengusap dada. "Mamah sudah dibagi, buat nenek kakek, papah, Divan, Diande. Kamu gak ada. Cari mamah lain!" ucap Divan sambil melotot.
Raya menggeleng. "Gak, aku mau mamah kamu. Nenek bilang mamah kamu nanti nikah sama papah aku," rengek Raya. Ia memang sangat menginginkan sosok ibu dan neneknya bilang jika Bia sangat penyayang.
Divan berdiri. Ia melempar balok block doss hingga membentur lemari dan menimbulkan suara gaduh yang membuat anak lain dan gurunya terkejut. "Divan? Kenapa?" tanya guru pendamping Divan yang sedang membantu anak lain.
"Kamu! Aku gak suka! Jangan tanya Divan lagi! Pergi!" bentak Divan pada Raya sampai Raya menangis karena kaget. Bagaimanapun Divan anaknya Dira, tentu amarahnya tak akan jauh dari papahnya.
"Divan, kenapa Raya dibentak?" tanya gurunya. Ada dua guru yang menghampiri mereka, satu menenangkan Raya dan satu menenangkan Divan.
Napas Divan berburu. Air matanya mulai keluar. "Divan gak mau bagi mamah. Mamah punya papah, Divan, Diande juga. Kamu bukan keluarga Divan. Bukan!" tegas Divan.
Raya menangis semakin kencang. Ia memeluk gurunya. "Raya cuman mau mamah. Kata nenek, mamahnya Divan akan sayang Raya." Gadis kecil itu sampai terisak
"Cari saja lain saja. Kenapa bikin Divan marah! Divan gak suka! Nenek kamu jahat! Mamah isti papah! Gak nikah sama papah kamu!" tegas Divan lagi.
🍁🍁🍁