
Tak tahu bagaimana cara menggambarkan perasaan Bia selain kata bahagia. Sejak tiga tahun lalu ketika ia mendengar kata putus dari Dira, ia tidak pernah membayangkan semua ini akan terjadi.
Siang itu seorang designer datang untuk memperlihatkan beberapa baju pengantin yang akan Bia coba. Kebanyakan memiliki rok yang panjang. Rasanya kalau ingat badannya yang dulu, mungkin gaun-gaun itu tidak akan muat. Justru kali ini kebanyakan kebesaran.
"Tuh, kamu itu kurusan. Ayok gimana malam pertama nanti malah patah pas Dira panjat," kelakar Bu Suli. Bia menunduk malu tak kuasa menimpali ucapan gurunya itu.
Tiga hari menjelang pernikahan, Bia sibuk memilih makanan juga dekorasi. Bagaimana dengan Dira? Dia tinggal di rumah keluarganya dan kesibukannya setiap hari adalah main sepak bola juga basket. Katanya ia hanya mendapat jatah mencari WO dan Bia bagian memilih.
Karena saking sibuknya Bia sampai tidak bisa bertemu Divan. Paling hanya mengobrol lewat video call. Malam itu setelah semua siap, Bia dan Bu Suli berangkat menuju sebuah resort yang disewa seutuhnya oleh keluarga Kenan.
"Mamah!" panggil Divan begitu Bia masuk ke dalam resort yang di dalamnya ada kamar-kamar juga aula. Divan berlari mendekati Bia dan memeluk ibunya erat begitu mereka bertemu di lobi. Seperti biasa, dengan gemas Bia mencium pipi Divan.
"Gak kangen, Mamah?" tanya Bia. Divan dengan entengnya menggeleng. "Gimana sih, padahal Mamah nangis kangen Divan."
"Kan Divan mau mamah, mau papah. Kata kakek dak nangis," jelasnya. Rupanya itu yang Ernesto bisikan pada Divan hingga betah jauh dari ibunya. Lagipula salah Bia sendiri, karena bekerja sampai sore jadi Divan lebih sering dengan Mrs. Carol, akibatnya Divan biasa mandiri.
Ana dan Sayu membawa Bia menuju sebuah kamar. Divan mengikuti sambil dituntun ibunya. Kamar itu cukup luas dan Bia harus berbagi dengan Bu Suli sampai hari H.
"Nanti kamu pindah ke kamar pengantin," kata Sayu. Tak tahu kenapa mendengar kata itu membuat Bia merinding sendiri. Sudah lama ia tidak berkutat dengan urusan laki-laki dan kini harus tiba-tiba menikah. Meski ia dan Dira pernah berhubungan, tiga tahu membuat semuanya terasa aneh lagi.
"Calon suami kamu juga kelihatan gak sabaran, dari tadi nanya terus kapan kamu sampai. Padahal sudah jelas sampai hari pernikahan jangan bertemu dulu," tambah Ana.
Bia tersenyum. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Ketika daunnya terbuka, Bia melihat Maria di sana. Calon ibu mertuanya itu masuk dan duduk di samping Bia di sofa kamar.
"Takku sangka, benar-benar jadi menantu juga akhirnya," ucap Maria sambil mengusap rambut Bia. Wajah Bia memerah. Ia mendadak ingat masa kecilnya yang sering mengucap jika sudah besar nanti akan menjadi istri Dira Kenan. Esok ucapan itu akan jadi nyata.
"Bi, Dira itu sering bangun kesiangan. Dia juga suka lupa makan apalagi kalau sudah sibuk kerja. Dia keras kepala dan kalau amarahnya sudah di puncak, susah diredam. Kamu paling tahu semua itu, kan?" tanya Maria.
Bia mengangguk. "Iya, Tante," timpal Bia.
Maria menggeleng. "Panggil Mamah. Bukannya mulai besok aku ini jadi ibumu juga?"
"Dalam pernikahan, istri itu harus selalu yang menjadi penyabar. Namun, ada waktu di mana kamu harus menyadarkan suami jika dia juga harus bersikap sabar. Posisi kamu di rumah layaknya atap dan lantai. Kamu dasar rumah tangga menjadi baik dan juga payung rumah tangga yang meneduhkan."
"Sementara suami adalah tiang yang menegakkan kokohnya rumah tangga. Sebagai dasar kamu harus mengingatkan Dira akan kewajibannya, tak perlu takut juga ragu. Itu hak kamu," nasehat Maria.
Bia mengangguk. "Jika kamu kesulitan atau Dira menyakitimu, ingat jika Mamah dan Papah akan selalu ada di belakangmu untuk melindungi. Keluhkan saja apa kesulitanmu, jangan dipendam sendiri," ucap Maria.
Ia memberikan Bia pelukan. Begitu hangat hingga Bia merasa ibu kandungnya sendiri yang ada di sini. Sudah sangat lama ia rindu dengan pelukan seorang ibu. Lidahnya juga terasa kelu, karena dua belas tahun tak memanggil nama ayah dan ibu. Kini ia bisa memanggil istilah itu lagi.
"Nek, Divan juga mau peluk, ya?" pinta Divan tiba-tiba mendesak duduk diantar Bia dan Maria. Dengan gemas Maria mengecup pipinya. "Divan lucu ya, Nek. Papah dak," ucapnya.
Maria mengangguk. "Waktu kecil papah juga selucu Divan, tapi sekarang gak tahu kenapa menyebalkan," timpal Maria.
Divan mengangguk-angguk. Ia melipat tangan di depan dada. "Papa nakal. Halus diajal jadi baik agi. Kalau papah baik, nenek kacih pelmen," idenya. Maria mengangguk saja menuruti apa kata cucunya.
"Dia itu Dira sekali ya, tukang ngatur orang," komentar Bu Suli memancing tawa.
Maria tertawa. "Syukur Divan tidak mengatur bebek berbaris seperti papah," timpal Maria.
Malam semakin larut, semua orang kembali ke kamar masing-masing. Divan berlari ke luar kamar. Dia bilang ingin tidur dengan papahnya.
Tinggalah Bia terbaring sambil menatap langit-langit. Ia belum mengantuk sama sekali. Matanya beberapa kali menatap tiga gaun pengantin yang terpajang di kamar. Bu Suli sudah tertidur pulas di sampingnya.
"Bun, Bia besok akan menikah. Bia harap Bunda dan Ayah memberikan restu," batin Bia. Ia mengejapkan mata dan mengingat wajah ibu yang melahirkannya.
🍁🍁🍁
Semoga Kebahagiaan datang padamu setelah penderitaan Drabia Azura Louis 😍😍
Mau ajak kalian baca "Sepatu Tanpa Pasangan". Update setiap hari minggu di wp : elara_murako. Ikut perjalan Tiffany yuk selama kuliah di Paris.