
Segala macam pelakor dan pebinor di sini bertahan hanya secuil episode. Selebihnya cuman supaya greget saja. 🤣🤧
🍁🍁🍁
"Ya, sayang? Aku minta maaf loh. Ini bukan lagi selingkuh. Lagi kerja di kantor papah. Tanya saja Kak Daren," izin Dira yang tak bisa menjemput Divan dari sekolah hari ini. Biasanya Dira sering menyempatkan antar-jemput Divan walau sibuk. Untungnya kantor punya sendiri, kalau punya orang sudah dipecat.
Bia mengangguk. Ia menggendong Diandre dan membawanya diantar sopir ke sekolah TK Divan. Bia tak mau menitip Diandre pada pengasuh lagi kecuali urusan mau mandi dan ke toilet. Dia sudah syok berat akibat kejadian beberapa hari lalu.
"Kebetulan aku belum pernah ke sekolah Divan juga, sih," ucapnya sendiri saat berada dalam mobil.
"Ngeng-ngeng," ucap Diandre sambil menunjuk ke luar karena melihat mobil lain menyalip mobil mereka.
Bia mengangguk. "Mobil bunyinya ngeng-ngeng. Mo-bil," ucap Bia pelan. Karena kejadian Divan, ia sekarang belajar pada Diandre. Jika bicara dengan bayi sebaiknya menggunakan lafal yang sesungguhnya. Bukan dicadel-cadel manja karena akan memengaruhi kemampuan bahasanya.
Tiba Bia di sekolah Divan. Sudah ada ibu-ibu lain tiba di sana. Bia keluar dari mobil dan berjalan menuju sekolah Divan. Ia mendatangi kerumunan ibu-ibu yang juga sedang menunggu waktu keluar sekolah.
"Siang, Bu. Anak-anaknya belum pulang, ya?" tanya Bia. Ibu-ibu itu sempat melirik Bia dengan tatapan bingung. Mungkin karena Bia tiba-tiba nimbrung di sana padahal baru pertama kali ke sekolah.
"Saya Drabia, ibunya Divan," ucap Bia memperkenalkan diri. Mendengar kata ibunya Divan, ibu-ibu itu mendadak terlihat ramah. Bia sampai kaget melihat perubahan ekspresi mereka. Pantas juga gak dikenal. Bia tak pernah ikut dalam vlog Dira. Kalau muncul pasti pas lagi dandan. Hari ini dia sedang polosnya.
"Belum, Bu. Masih kegiatan penutup tadi," jawab salah satu ibu di sana. Bia mengangguk mengerti.
"Papah Diranya ke mana? Biasanya dijemput papahnya," tanya ibu lainnya.
"Sedang ada pekerjaan yang berat. Jadi harus izin dulu gak jemput. Mungkin besok bisa jemput lagi," jelas Bia.
"Suaminya bikin ngiri. Gimana bisa dapetinnya?" Ibu lainnya ikut masuk dalam obrolan.
Bia tersenyum malu. "Cuman diberi kasih sayang saja, kok," jawab Bia dengan wajah merona. Dari situ ia mulai ikut mengobrol dengan ibu-ibu di sana. Diandre meronta-ronta minta diturunkan. Bia ikuti saja takut dia nangis.
Namun, baru juga diturunkan Diandre sudah berlari. Bia lekas mengejarnya. Larinya lumayan kencang hingga Bia agak kesulitan. Diandre berhenti di belakang seorang pria mengenakan jas lalu menarik jasnya. "Papah!" panggil Diandre.
Lekas Bia meraih putranya. Pria yang jasnya ditarik Diandre berbalik. Ia melihat ke bawah dan langsung tersenyum mendapati anak itu. Bia menggendong Diandre. "Maaf ya, pak. Anak saya kira itu papahnya karena sering pakai jas juga," jelas Bia.
Pria itu terlihat masih sangat muda. Mungkin seusia dengan Bia. Tubuhnya tinggi kekar dan wajahnya cukup terlihat berwibawa. "Gak apa. Saya suka anak-anak, kok. Anaknya lucu sekali," ucap pria itu sambil mencubit gemas pipi Diandre. Hanya begitu sadar bukan papahnya, Diandre langsung memperlihatkan wajah galak.
Bia mengangguk. "Terima kasih banyak."
"Sedang jemput anaknya juga?" tanya pria itu. Bia mengangguk. "Saya Zayn. Kebetulan anak saya juga sekolah di sini. Perempuan. Namanya Raya," cerita Zayn.
Pria itu mengerutkan jidat mendengar pernyataan Bia. Ia menelisik wajah Bia. "Tunggu, aku dulu punya teman namanya Bia juga. Tetangga waktu kecil dulu di Emertown," ucap pria itu.
Bia menggaruk kepalanya. "Aku memang dulu besar di Emertown, sih."
"Drabi Louis bukan?" tebak pria itu. Bia mengangguk. "Bia! Ini Zayn lho. Kita dulu sering main bareng. Sama Dira Kenan juga. Ingat?" tanyanya mencoba mengingatkan Bia.
Sementara itu, Bia mencoba mengingat-ingat. Hingga akhirnya memorinya kembali. "Ouh iya, Zayn yang tinggal di sebelah rumah. Terus kamu pindah waktu SMP kelas satu, kan?" tebak Bia.
Zayn mengangguk. "Akhirnya ingat juga. Senang banget ketemu kamu. Sekarang sudah punya anak lagi. Nikah sama siapa?" tanya Zayn.
Bia tersenyum malu. "Sama Dira. Padahal dia artis loh. Masa gak tahu," timpal Bia lagi.
Zayn terkekeh. "Aku gak suka nonton tv habisnya jadi gak tahu. Selamat, ya. Gak nyangka kalian bisa sama-sama sampai sekarang," ucap Zayn.
"Iya. Makasih. Kamu juga nikah muda?" tanya Bia penasaran.
Zayn mengangguk. "Iya, tapi istriku sudah meninggal waktu melahirkan. Jadi sekarang cuman jadi single parent. Ngurus anak sendiri," jawan Zayn dengan wajah sedih.
Bia menepuk lengannya pelan. "Pasti nanti dapat gantinya, kok," doa Bia.
"Mah!" panggil Divan dari teras sekolah. Anak itu sudah keluar dari kelasnya. Melihat Bia mengobrol dengan seorang pria, wajahnya langsung cemberut.
"Mau pulang sekarang?" tawar Bia. Pada pria itu, Divan langsung memberikan tatapan peringatan. "Divan, ini teman mamah sama papah waktu kecil dulu," jelas Bia. Meski begitu, Divan tetap tak menurunkan tatapan sinisnya.
Melihat keadaan dingin itu, Bia lekas menuntun Divan. "Aku pulang dulu, ya. Anakku takutnya ngajak perang," pamit Bia lalu berjalan ke mobilnya.
Zayn menatap dari kejauhan. "Dia masih manis kayak dulu," puji Zayn.
"Siapa?" tanya seorang wanita tua yang datang sambil menuntun cucunya. Ia melihat ke arah di mana Zayn melirik.
"Wah, kamu lagi jatuh cinta, ya? Baru kali ini setelah istri kamu meninggal, kamu lihat perempuan sambil senyum-senyum," ledek wanita itu.
Zayn menggeleng. "Gak, mah. Dia sudah punya suami."
🍁🍁🍁
Kakak-kakak yang cantik dan mungkin ada yang ganteng. Tolong yang ganteng angkat jempol di kolom komentar. Kebetulan aku nyabang nulisnya. Di Aplikasi "KaBeeM" - coret huruf kecilnya aku punya novel juga. Judulnya "mantan dalam kenangan". Boleh bantu baca dan subscribe 🙏. Makasih. Buat yang gak punya gak apa-apa, kok. Itu cuman nyabang doank. Bukan pindah lapak.