Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Gara-gara Akta


Diandre mengucek matanya. Sudah waktu tidur siang dan anak ini masih tertahan di pengadilan bersama Dira dan Bia. Bukannya mereka datang untuk bercerai, memang begini proses mengganti akta kelahiran anak. Setidaknya karena lahir setelah pernikahan, penggantian akta tak serumit saat Divan dulu.


"Sekarang ini bikin akta rumit, ya?" keluh Bia. Ia tengah menyusui Diandre dalam mobil. Anak itu matanya sudah setengah tertutup. Jika perut sudah penuh dengan air susu, Diandre pasti langsung lelap.


"Mungkin karena banyak yang memalsukan akta kelahiran. Angkatan kita regulasinya masih belum serumit ini. Orang bisa mudah saja mengubah dan bikin akta kelahiran. Malah sampai punya dua."


Tangan Diandre mengangkat ke atas. Ia menarik-narik lengan kemeja Dira. Pria itu tersenyum dan mengecup kening putranya. Diandre melepas sumber air kehidupannya. "Papan?" tanya Diandre.


"Kakak sekolah. Nanti pulangnya sore," jawab Dira. Diandre kembali minum susu. Anak itu menggaruk kening dengan gerakan kaku. Sesekali ia juga memegang jempol kakinya.


"Kemarin aku bertemu dengan ibu mantan trainee itu," ungkap Bia.


"Mayen?"


Bia mengangguk. "Dia menjelekanku dengan putrinya. Katanya aku kalah cantik dengan Cloena. Terlihat juga anaknya sepertinya ingin denganmu. Wajar sih, masih seusia itu."


"Terus kamu apain?" tanya Dira.


"Dimarahin mamah sampai diusir. Menurutku sih dia sungguh keterlaluan. Apa perlu keluarga kita membiayainya hingga seperti itu? Ia sampai berani menggunakan salon yang menjadi langganan keluarga Kenan," keluh Bia.


Dira menyandarkan tengkuknya di sandaran mobil. "Aku juga berpikir begitu. Apa perlu aku buat perhitungan dengannya. Balas budi sih balas budi. Bukan artinya bisa semena-mena. Aku yakin papah lebih rugi membalas budi dibandingkan kerugian akibat dokumennya dulu hilang."


Dira berpikir sejenak. Apa kiranya yang bisa ia lakukan untuk memberi Mayen pelajaran. Jangan katakan itu Dira kalau tak bisa mengerjai orang sampai kapok.


"Ah, aku pusing. Masalahnya papah tak mau mendukungku." Rasanya Dira sudah mendapat jalan buntu. Ia menatap Diandre. Tak lama ide cemerlangnya muncul. "Kamu tahu aku pernah bilang kalau Ceril itu di akta kelahirannya tak tercantum nama ayah?" tanya Dira. Bia mengangguk.


Dira mengambil ponsel. Ia meminta asistennya memotret kartu tanda kependudukan Mayen. Niatnya ingin menemukan alamat Mayen. Paling tidak, ia bisa mencari tahu dari tetangga wanita itu.


Tentu Dira punya id card Mayen, setiap trainee yang masuk akan diperiksa latar belakangnya dengan memberikan salinan dokumen kependudukan pribadi juga keluarga terdekat. Hanya kasus Ceril saat itu, ia lolos karena main api dengan direktur di perusahaan Dira.


Alis Dira terangkat. Ia menemukan keanehan lagi. "Status wanita itu janda. Artinya dia pernah menikah, donk. Meski suaminya meninggal, bukannya masih saja sah di mata hukum itu putri ayahnya. Apalagi kalau lahir dalam jarak sembilan bulan dengan kematian ayahnya," pikir Dira.


Ia melihat ke arah gedung pengadilan. "Tunggu di sini. Aku butuh uang," ucapanya lalu turun dari mobil. Bia hanya melihat Dira berjalan masuk ke gedung pengadilan. "Katanya butuh uang, bukannya ke ATM malah masuk lagi ke sana," protes Bia.


Dira mungkin tak bisa merubah akta kelahiran Diandre secara instan. Hanya untuk informasi, itu masih mudah. Dira pergi ke lobi. Ia cukup pintar mencari narasumber akibat melihat cara papahnya bermain dengan informasi pribadi orang.


"Atas nama Mayen Regi?" tanya petugas yang sudah diberi arahan atasannya agar memberitahu Dira tentang informasi yang dibutuhkan. Dira mengangguk. Ia terpaku dengan layar komputer staff pria yang membantunya.


"Ada data surat cerai dengan nomor xxxxxx. Atas nama Mayen Regi dengan Lousiano Louis tahun 1998," ungkap petugas itu.


Dira mematung. Ada hantaman besar yang memukul bagian belakang kepalanya. Itu bukan benda, tapi kenyataan pahit. "Lousiano Louis?" tanya Dira lagi. Staff itu mengangguk. Ia menunjuk nama Lousiano di sana.


Dira mengangguk. "Terima kasih. Katakan pada atasanmu, nanti aku akan menghubungi," ucap Dira. Ia berjalan dengan berat ke luar pengadilan. Napasnya sama berat dengan langkah, ia menatap lurus ke arah mobilnya di mana Bia berada.


Tunggu, biar Dira mengerti dulu keadaanya. Mayen dan ayah mertuanya bercerai tahun 1998 bulan Januari. Artinya bulan itu, Bia sudah lahir dan berusia beberapa bulan. Di Livetown, menikah dengan lebih dari satu istri tak dibolehkan. Istri kedua tak memiliki status hukum. Jadi Mayen itu istri pertama. "Lalu Bunda siapa? Bia siapa?" pikir Dira bingung sampai mengusap wajah.


Dira menggaruk kepalanya. Ini semakin rumit. Pikirannya semakin melayang hingga mengingat akta kelahiran Bia yang dibuat satu tahun setelah kelahiran istrinya.


"Tenangkan pikiran, kasihan istri kamu," tegas Dira. Ia berjalan menuju mobil. Dira membuka pintu di bagian kemudi.


Bia menatap Dira dengan kesal. "Dapat apa?" tanya Bia penasaran dengan hasil temuan Dira. Pria itu menatap Bia. Ia mengusap rambut istrinya. Begitu lekat tatapan Dira.


"Gimana? Ada apa sih? Datang-datang sikapnya sudah aneh gitu," protes Bia.


Dira menggeleng. "Dengar ya, ingat apa yang aku katakan ini. Aku gak akan ninggalin kamu," tegas Dira.


Bia mendelik. "Kamu nemu perempuan cantik di sana?" todong Bia.


Dira terkekeh. "Aku gak nemu apa-apa, kok. Sama sekali gak penting. Kalau dipikir aku lebih baik menghabiskan waktu dengan Divan daripada mengurusi Mayen," tegas Dira.


🍁🍁🍁