Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Untuk Mayen


Dira sudah memutuskan mengambil alih masalah itu dari Ernesto. Sebagai ayah, ia hanya bisa memberi Dira kepercayaan. Dira sudah mulai dewasa dan semakin pintar.


Mayen sudah berpikir jika putrinya benar meninggal tanpa warisan apapun sejak bayi. Sejauh ia mencari ke Emertown seharian, jawabannya tetap sama. Sesuai apa yang dikatakan Ernesto padanya.


Mayen sempat meminta uang lagi. Seperti biasa ia menunggu di pinggir jalan. Namun, matanya terbelalak ketika melihat Dira yang ada di dalam mobil.


"Malam Tuan Muda," sapa Mayen dengan gelagapan.


Dira melempar amplop ke tanah. "Dengar, ini yang terakhir. Tak ada lagi uang. Jika kamu ingin membongkar soal keterlibatan papahku dalam menyembunyikan putrimu, itu salah. Papahku mungkin masih bisa memaklumi. Aku tidak," tegas Dira.


Mayen tersenyum sinis. Tentu ia tak terima jika kemewahan yang ia dapatkan harus hilang. "Anda pikir itu bukan kasus besar? Bertahun-tahun mereka menyembunyikan putriku. Anak itu memang sudah meninggal. Justru itu yang harus saya tahu penyebabnya. Bisa saja putriku dibunuh dan kalian menutupinya," ancam Mayen.


"Lalu apa?" tanya Dira kesal.


"Menyembunyikan pembunuhan itu tindak kriminal. Saya bisa angkat ini ke publik. Apalagi Ceril sekarang artis. Dia mudah menyebarkan berita."


Dira mendelik. "Begitu? Termasuk bagian anda menjadi simpanan pejabat perusahaan hingga memiliki anak tidak sah yang kini jadi artis itu?" todong Dira.


Wajah Mayen semakin gusar. Ia membuka mata lebar-lebar. Pandangannya tajam ke arah Dira. "Kamu ini hanya anak ingusan. Kamu tahu apa? Ingat, papahmu selama bertahun-tahun takut denganku tentu ada alasannya. Aku bukan wanita biasa. Aku kenal termasuk dengan lawan bisnisnya!" ancam Mayen.


Tentu saja Dira tahu, banyak lawan bisnis yang ingin menghancurkan Kenan Grouph meski hanya bermodal masalah kecil. "Merampas hak asuh anak bayi dari ibunya. Menyembunyikan makam anak itu, kamu pikir itu tidak akan menjatuhkan keluarga Kenan?"


Dira mengorek telinga. Ia mendengarkan ucapan Mayen dengan santai. "Jadi ini yang papah bilang Mayen harus ditutup mulutnya?" batin Dira.


"Begini saja. Aku dengar tentang putrimu yang memiliki hubungan dengan putra salah satu pengusaha brand tas. Apa orangtuanya tahu?" ancam Dira. Ia lagi-lagi mendelik ke arah Mayem sambil tersenyum sinis.


Wajah Mayen sedikit memucat. "Pria itu mungkin gila dengan kecantikan putrimu, tapi orangtuanya tidak. Satu lagi, aku beri jangka waktu dua hari. Diam atau aliran dana yang masuk ke rekening putrimu akan aku ungkap ke publik? Aku yakin, lebih cepat gerakku, daripada gerakmu," tegas Dira.


Dira tak mau mendengar apa yang Mayen katakan lagi. Ia tutup kaca mobilnya. Lalu berlalu pergi. Sementara itu Mayen terus berteriak memaki. "Syukur istriku dijauhkan darinya. Sikapnya seperti Bunda yang lembut. Bukan batu karang yang keras begitu," tekan Dira.


"Ini semua karena Lousiano! Kenapa juga dia jadi kaya setelah bersama wanita lain! Mana anakku mati!" pekiknya.


Mayen tak bedanya seperti orangtua Cloena. Demi hidup bergelimang harta rela menjual putrinya sendiri. Kasus seperti itu bukan satu atau dua kali terjadi. Apalagi pada wanita yang sejak kecil tak pernah merasakan kemewahan. Begitu ia mendapat jalan, apalagi dengan modal tubuh sempurna. Segala cara ia lakukan. Hingga keluarga, anak, suami ditinggalkan. Semua itu demi pakaian mewah, rumah besar, kendaraan mahal dan pasti perut terisi makanan dengan harga menjulang.


Dira masih memacu mobilnya. Ada satu hal yang papahnya tak miliki, tapi Dira miliki. Channel YT dengan banyak penonton, juga kenalan pimpinan dari banyak televisi. Yang Dira butuhkan hanya, video klarifikasi. Sebelum itu, ia harus mengungkap semuanya pada Bia meski itu perih. Apa yang mereka lewati berdua selama ini membuka mata Dira, Bia bukan lagi gadis lemah yang dulu.


Dira pulang, ia memperhatikan saat Bia menimang Diandre yang masih belum tidur. Divan diantar ke rumah oleh Daren. Dira tahu, Bia pasti akan kesal karena hal itu. Apalagi dia sudah janji akan menjemput Divan.


Mata Bia menangkap keberadaan Dira di pintu. Ia memeriksa jika Diandre sudah benar tidur dan membaringkan bayi itu di samping Divan. Kecupan hangat Bia berikan di pipi kedua putranya.


"Sini," ajak Bia pada Dira sambil berjalan ke luar kamar.


Dira terkekeh. Ia tahu akan kena omel istrinya. Benar saja. Begitu tiba di kamar, Bia menutup pintu kamar lalu berjalan duduk ke sofa sambil melipat tangan.


"Aku sudah siapkan alat mandi. Kamu mandi dulu, lalu makan. Aku ambil makanannya ke kamar," jelas Bia. Dira mengangguk saja. Wajah Bia sudah menyeramkan.


Lekas Dira berjalan ke kamar mandi dan bergegas mandi. Ia masih memikirkan kalimat yang pas untuk memberitahu Bia. Sebelum itu, Dira harus mendengar omelan Bia dulu.


🍁🍁🍁


kasih vote donk 😓😓😓