
Lily bersiap untuk menemui para tamu spesialnya. Memakai dress ternama setulus berwarna merah, dengan polesan make up dan perhiasan yang menempel di tubuhnya. Lily menunjukkan betapa ia sekarang hidup lebih baik dari pada mereka.
Suara sepatu hak tinggi, berpadu dengan lantai marmer. Langkah yang tegas dan anggun membuat pesona Lily bertambah
Cindy dan Ibunya yang tadi sibuk mengagumi kemewahan ruang tamu, terhenti saat mendengar suara deritan pintu yang terbuka.
Ana tertegun saat melihat penampilan Lily yang begitu elegan, dress merah dengan leher rendah, dan kalung berlian mungil yang tergantung di leher jenjang wanita itu terlihat sangat sempurna. Sederhana tetapi terlihat mewah.
"Lily anakku." Ana mendekat pada Lily lalu memeluknya erat.
Lily hanya diam, ia tidak membalas pelukan palsu Ana. Ia biarkan wanita itu melanjutkan sandiwaranya. Cindy hanya berdiri diam di tempat, memperlihatkan wajah sedih dan bersalah.
"Kak Lily, maafkan sikapku waktu itu. Aku sungguh menyesal," ujar Cindy dengan kepala tertunduk, kedua matanya berkaca-kaca. Bahkan sudah air mata sudah menetes di pipinya.
Begitu pun Ana, wanita itu juga tersedu sambil memeluk erat Lily. Sungguh pemandangan yang mengharukan. Namun, hati Lily telah beku. Ia tak lagi bisa merasakan ketulusan mereka.
Ana melepaskan pelukannya, kemudian ia mengusap air matanya yang mengalir.
"Lily maafkan Ibu Nak, malam itu Ibu dan Ayah sedang emosi. Kami terlalu terkejut dengan semua yang terjadi," ujar Ana sambil menyusutkan air matanya.
Lily tersenyum getir.
"Silahkan duduk, saya akan meminta pelayanan untuk mengantarkan minum," ucap Lily datar.
Ana dan Cindy saling bertatapan, kenapa Lily masih bersikap dingin seperti itu? Bukankah seharusnya Lily seorang yang berhati lembut dan bodoh. Dia selalu memaafkan orang lain dengan gampang.
"Lily, Ibu tahu kau masih marah dengan kami. Tapi bukankah kita adalah keluarga, Nak." Ana berusaha meraih tangan Lily. Lily menjauhkan tangan, dan mengisyaratkan mereka berdua untuk duduk.
Melihat raut wajah Lily yang begitu tegas, membuat Ana dan putrinya terpaksa menurut pada Lily. Tidak ada pilihan lain sekarang, keduanya akhirnya duduk di sofa dengan saling berdampingan. Sementara Lily duduk di sofa single yang berhadapan langsung dengan mereka.
"Apa maksudmu, Nak? kita adalah keluarga. Kau adalah putriku," jawab Ana.
"Putri?" beo Lily, satu sudut bibirnya terangkat.
Sejenak percakapan mereka terhenti, saat pelayan masuk mengantarkan minum.
"Terima kasih," ucap Lily dengan senyum ramah pada si pelayan, setelah wanita itu selesai meletakkan minuman di meja.
"Sudah tugas saya Nyonya, Permisi," pamit pelayan wanita itu.
Ana menatap tidak suka pada pelayan wanita itu, Lily begitu ramah pada pelayan tetapi begitu dingin pada Ibunya sendiri.
"Bukannya putri keluarga Wiguna cuma satu. Nona Cindy," ujar Lily sambil menyesap teh miliknya.
Ia terlihat tenang, meskipun dadanya bergemuruh hebat. Jika dia menuruti emosinya, Lily ingin sekali marah, berteriak membentak, menangis, meluapkan semua emosi yang menyesakkan dada.
Namun, semua itu jika dia Lily yang dulu. Dia yang dulu telah berlalu, sekarang dia adalah seorang nyonya Mahadev.
"Lily, kau putri kami. Kau bagian dari keluarga Wiguna," tukas Ana.
"Iya Kak, Lily. Lagi pula semua sudah berlalu, kehidupanmu juga lebih baik sekarang. Jangan terlalu sombong, Ibu sudah minta maaf dengan tulus seperti ini, kau seharusnya menghargainya," sela Cindy.
"Sombong ya." Lily menatap pantulan dirinya di cangkir.
"Iya Kak, jangan mentang-mentang kau sekarang kaya, jadi tidak mau mengakui kami.