Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Kerja sama


Veronica menatap suaminya dengan penuh tanya. Apa maksud dari perkataan Ahnan barusan. Mengabulkan? Apakah itu berarti dia akan membantu Veronica untuk mendapatkan Aric?


"Ap-Apa maksudmu?" tanya Veronica.


"Jangan pura-pura bodoh, aku tahu kau menginginkan orang itu!"


"Kau tahu kenapa aku menikahimu? Karena kau milik Aric, dan aku akan merebut semua miliknya. Seperti apa yang dia lakukan padaku!" ujar Ahnan dengan geram.


"Kau laki-laki bejat! Bajingan! kau hanya memanfaatkan aku untuk melukai Aric, kalau bukan kau yang merayuku. Aku tidak akan terjebak dalam pernikahan ini, Aric tidak akan meninggalkan aku!" teriak Veronica menggila.


Ia sungguh menyesali semuanya kesalahannya di masa lalu. Kesepian karena Aric terlalu sibuk dengan perkerjaannya, membuat Veronica gelap mata. Ia menerima kehangatan yang di tawarkan Ahnan, perhatian yang tidak ia dapatkan dari Aric, ia dapatkan dari Ahnan.


Kesepian kah? atau memang iman Veronica yang lemah. Andai ia bisa bersabar sedikit saja, semua tidak akan seperti ini. Kebahagiaan wanita itu akan ia rasakan, semua itu miliknya.


"Kau bilang aku apa? Bangsat, Bajingan? Sadarlah, bukankah kau juga sama. Kita sama-sama bejat jadi bisa bersama, kau memberikan keperawananmu untuk orang lain, apa itu kalau bikan bejat, Hem. Bahkan kau yang membuka bajumu dengan suka rela malam itu," sahut Ahnan dengan menyeringai.


"Agh ... Sudah cukup! Jangan ucapkan lagi!" Veronica menutup kedua telinganya dengan tangan.


"Kenapa? Malu? sudahlah jangan munafik, kau bahkan menginginkan laki-laki lain saat masih sah menjadi istriku, dan bahkan mengandung anak kita. Hahaha ... kau wanita paling menyedihkan yang pernah aku lihat." Ahnan mundur perlahan, ia meletakkan bokongnya di sifa yang ada di kamar itu.


Ahnan mematik api untuk menyalakan rokoknya, seketika asap mengepul dari batang rokok itu.


Pria itu tersenyum miring, melihat wajah Veronica yang berderai air mata. Ahnan sempat merasa puas saat melihat Aric kehilangan Veronica, tetapi itu tidak berlangsung lama. Saat dia menikah dengan Veronica, Aric terlihat biasa saja.


Ahnan merasa geram, dia salah strategi. Ia mengira Aric akan patah hati dan terpuruk dalam waktu yang lama. Mengingat bagaimana pria berjambang tipis itu, begitu menjaga dan memuja kekasihnya, tapi apa. Tidak ada reaksi yang Ahnan inginkan, dia ingin Aric terjatuh sampai tidak bisa bangkit lagi, dia ingin melihat kehancuran laki-laki itu.


"Sudahlah, jangan buang air matamu. Tidak ada gunanya menangis, buang-buang tenaga. Lebih baik kita berkerja sama, bagaimana?"


Veronica menyurutkan air mata , ia melemparkan tatapan tajam pada Ahnan.


"Kerja sama apa maksudmu?"


"Kau bisa mendapatkan Aric, dan aku bisa mendapatkan kekuasaan penuh perusahaan Gulfaam!"


"Bagaimana caranya? Aku tidak mau jika harus melukainya," ujar Veronica sambil mengusap pipinya yang basah.


Sudah cukup ia menyakiti Aric di masa lalu. Ia tidak ingin mengulangi kesalahannya lagi.


"Kenapa? kau tidak tega ya. Tenang saja, kita hanya akan menyingkap wanita itu," jawab Ahnan dengan tenang.


Laki-laki itu sudah menyiapkan rencana licik untuk kakak iparnya, saat wanita itu datang ke kantor. Ahnan menyuruh orang untuk menyelidiki tentang dia. Namun, tak satupun informasi yang ia dapatkan. Jika sudah seperti itu, maka bisa dipastikan dia orang yang sangat berharga untuk Aric.


Dia juga adalah kelemahan terbesar laki-laki itu.


"Bagaimana kau kana menyingkirkannya, apa kau akan menculik dan membunuhnya? cara itu lebih cepatkan?" Veronica melangkah mendekati Ahnan.


"Bodoh, kalau seperti itu kita kan berurusan dengan polisi, aku tidak mau mengambil resiko. Kita buat Aric sendiri yang meninggal istrinya."


Ahnan menghisap batang rokoknya. Veronica menatap Ahnan dengan seringai yang mengerikan. Asalkan dia bisa bersama Aric lagi, dia akan melakukan segalanya.


.


.


.


.


.


.


Adam telah tertidur di bangku belakang, anak itu kelelahan setelah bermain bersama kakeknya.


"Sayang kenapa diam? Apa mulutmu sakit?" tanya Aric asal.


Seketika ia langsung dihadiahi tatapan setajam silet oleh istrinya. Aric menelan salivanya, sepertinya hati sang permaisuri sedang tidak baik-baik saja.


"Apa kau marah, Sayang?"


"Masih nanya? kenapa kau tidak membiarkan aku membantu Veronica tadi. Kami sama-sama menantu di sana, dia sampai kelelahan dan tidak kamar setelah makan siang. Aku jadi nggak enak sama Ayah tau!" Lily meluapkan segala unek-uneknya.


Ia sungguh merasa kesal pada Aric, apalagi saat di meja makan tadi suaminya itu terus menggodanya. Membuat Lily semakin malu di hadapan mertua dan adik ipar.


Lily bisa melihat bagaimana Veronica terus memperhatikan Aric, wanita itu pasti merasa risih melihat Aric yang mengumbar kemanjaannya di depan umum.


"Aku tidak ingin kau kelelahan Sayang, kau sedang hamil. Ingat itu," jawab Aric dengan menoleh sekilas pada Lily.


"Aku hanya hamil bukan sakit, aku masih bisa melakukan aktivitas seperti biasanya!" Lily melipat kedua tangannya dengan wajah yang di tekuk masam.


Saat hamil Adam dulu, Lily bahkan harus bekerja serabutan. Aric terlalu meremehkannya, dia tidak selemah itu.


"Aku ingin menjagamu, aku ingin menebus masa-masa saat kau hamil Adam. Kau pasti sangat menderita waktu itu, kau sendirian tanpa keluarga dan aku. Aku ingin menebusnya sekarang, jadi aku mohon biarkan aku menjagamu," ucap Aric dengan tulus.


Mendengar perkataan Aric membuat Lily tersentak. Ternyata itu yang dipikirkan Aric, tetapi Lily juga tidak ingin dibatasi seperti ini.


"Apa dulu kau mencariku?" tanya Lily tiba-tiba.


"Tentu saja, meskipun tidak langsung." Aric meraih tangan istrinya.


"Percayalah padaku, aku terus berusaha menemukanmu. Aku meminta Hakim untuk mencari keberadaanmu, Nona Lily Valencia Wiguna." Aric mengecup punggung tangan istrinya yang lembut.


Lily terkejut, bagaimana bisa Aric tahu nama keluarga yang pernah merawatnya? Wiguna nama keluarga itu sudah lama Lily lupakan, bahkan di kartu identitasnya juga sudah Lily rubah.


"Bagaimana kau bisa tahu nama Wiguna ku?" tanya Lily penasaran.


Aric menyeringai tipis.


"Rahasia," goda Aric.


Lily melengos kesal, ia menarik tangannya dari genggaman Aric.


"Jangan marah dong, Sayang. Aku akan memberi tahumu, asal."


"Asal apa?"


"Asal aku bisa dapat pelukan hangat malam ini."


"Emang biasanya nggak di peluk apa?"


"Iya sih, tapi junior kedinginan Sayang. Butuh yang hangat-hangat."


" Siram aja peke wedang jahe, angetkan," ketus Lily.


Aric hanya bisa diam sambil menelan ludahnya. Disiram wedang jahe, bagaimana rasanya.


"Kenapa kamu tega bicara seperti itu, bagaimana kalau junior nggak bisa bangun lagi setelah di siram? tanya Aric dengan memelas.


"Lagian kamu aku nanya apa, jawabnya kemana, dasar mesum."