Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
D-Zone Area


Karena ADA mau tamat. Lebih baik votenya sumbangin ke lapak sebelah "istri sang pewaris tahta" ya? 😘 peace! pada baik deh semuanya.


🍁🍁🍁


"Dira, sudah siap?" tanya Matteo sambil membuka ruang tunggu di belakang panggung. Dira mengangguk. Ia berdiri sambil mengancingkan jasnya. Pakaian dan aksesoris dari rambut hingga ujung kaki semua sudah sempurna.


Dira berjalan ditemani Matteo. Dari bawah tangga menuju dasar panggung, Dira sudah mendengar riuhnya tepukan tangan penonton.


Dua minggu yang lalu, Dira resmi mengumumkan brand pakaiannya, D-Zone. Pakaiannya memang khusus untuk anak laki-laki dan pria remaja juga dewasa. Tadinya ia hanya akan mengadakan acara launching biasa saja. Hanya karena ide fans Dira untuk mengadakan konser perpisahan, akhirnya konser itu diadakan dan disponsori oleh label musik Dira yang dulu, R-ever.


Dalam dua hari tiketnya terjual habis. Apalagi Dira berjanji akan menyanyikan sebuah lagu baru. "Orang yang paling dirindukan kita semua. Penyanyi yang telah lama beristirahat, akhirnya kembali. Pria tampan yang kita tunggu, Dira Kenan!" panggil MC acara malam itu.


Lampu sorot diarahkan ke pintu masuk panggung. Dira naik ke tangga dan berjalan diikuti lampu sorot panggung menuju pusat panggung. Sambil berjalan, ia menyalami penonton malam itu.


Diantara penonton malam itu, Ada Drabia Kenan yang juga ikut melambai ke arahnya sambil berteriak histeris bersama fans lain. Dira mengambil gitar lalu duduk di kursi tengah panggung. Ia mulai memetik senar-senar gitar.


Tak pernah rasa ini hilang


Untuk dirimu yang tersayang


Tak pernah ingin kuberbagi


Jika bisa kau jadi miliku sendiri


Tak perlu dunia ini tahu


Cukup kamu percaya padaku


Tak perlu lautan kau jadikan saksi


Dalamnya sudah aku selami


Dalam nyata dan mimpi, aku ingin kamu jadi pelengkap diri


Meski waktu tak abadi, di akhir nanti aku ingin kau satu di hati


Penonton mengangkat lightstick dan menggerakkannya ke kanan dan kiri mengikuti irama petikan gitar Dira. Malam ini ia melihat kembali cahaya hijau gemerlap dari fansnya. Ia mendengar kembali suara-suara yang mengiringi nyanyiannya setelah sekian lama.


Begitu petikan gitar terakhir, terdengar tepukan tangan diikuti riuhnya suara orang-orang memanggil namanya. Ini dunia musik yang Dira sukai, bukan karena gemerlap pakaian mahal dan juga kekayaan. Namun, suara kepuasan fans mendengar karya dan suaranya.


"Aku rindu kalian!" teriak Dira dari atas panggung.


"Aku rindu Dira Kenan!" balas penonton malam itu. Dira tersenyum lalu memberikan tanda hati yang dibentuk dengan menyatukan jari-jati dari kedua tangannya.


"Tolong katakan pada istriku! Maafkan karena kalian juga berarti untukku," kelakarnya membuat semua orang di sana tertawa. Kamera mengarah pada Bia yang juga ikut tertawa.


Iseng, Matteo dan Kalvis menarik Bia ke atas panggung dan membawanya dekat dengan Dira. "Hei, jangan kasar pada istriku. Dia galak!" kelakar Dira. Bia berkacak pinggang sambil manyun.


Dira menuntun Bia ke depan panggung. Ia lingkarkan lengannya di bahu Bia. "Dia cantik, tidak?" tanya Dira.


"Iya!" seru para fans.


"Dia istriku! Jangan iri, jika mau cari sendiri!" timpal Dira membuat penontonnya yang kebanyakan perempuan lagi-lagi tertawa.


Dira menatap Bia. "Nyonya Kenan, ada yang ingin ditanyakan pada fansku? Misal, boleh tidak aku menikah dengan Dira Kenan?" sarannya.


Bia tersenyum malu. Ia sesekali melotot pada Dira, tapi pria itu tak menyerah dan memaksa agar Bia mau bicara. Dira mendekatkan bibirnya ke telinga Bia dan itu lagi-lagi memancing keriuhan fans Dira.


"Bahas soal Divan," bisik Dira. Acara memang akan ditekankan ke masalah brand resmi pakaiannya yang kini mendapat izin resmi untuk dijual secara internasional.


Bia tersenyum licik. Ia raih mic dari tangan Dira. "Kalian lebih cinta Dira atau Divan?" tanya Bia.


Dira melipat tangan di dada. "Divan!" jawab penonton pasti. Dira sampai mengusap wajahnya kecewa akibat Divan jauh mendapat perhatian publik.


"Panggil Divan!" seru Bia.


"Divan!" panggil penonton di sana. Lampu sorot dimatikan lalu seluruh lampu panggung dihidupkan. Di saat itu seorang anak berusia tiga tahun (karena belum tahun baru) berjalan santai dari ujung panggung ke arah ibu dan ayahnya. Ia mengenakan celana panjang coklat muda dan kaos pendek hijau muda. Matanya ditutup kaca mata bulat dengan frame berwarna merah.


Divan melambai dan membuat penonton histeris. Ia bahkan bergaya sambil berkacak pinggang, memberikan pose V hingga melakukan kiss bye pada penonton.


Divan tak takut lagi difoto banyak orang. Dia tak kaget mendengar suara orang memanggilnya. Justru ia tahu, "Semua sayang Divan banget! Divan kelen!" batinnya.


Divan berjalan mendekati kedua orang tuanya. Dira berusaha menggendong anak itu, tapi ditolak. "Malu! Divan dikila anak-anak nanti," protesnya sambil nyengir ke arah penonton dan membuat penonton yang mendengar suaranya tertawa.


"Kamu memang masih anak-anak!" protes Dira.


Bia mencolek lengan Dira. Lekas Dira berpaling pada papan yang dipegang staff yang berisi line acara hari itu. "Oke! Malam ini bukan hanya konser terakhirku, tapi juga acara launching brand pakaian milik keluargaku."


Divan bergaya sambil menyimpan lengan di tali pinggangnya. "Ini dia D-zone!" Begitu Dira mengatakan brand pakaiannya, logo brand itu langsung muncul di layar.


"Kalian yang datang malam ini bisa memesan untuk pasangan. Yang masih sendiri tak perlu sedih. Beli dulu lalu simpan. Sudah punya pacar, baru berikan," saran Dira.


"Beli bial Divan kasih papah jajan," seru Divan membuat penonton lagi-lagi tertawa.


🌱🌱🌱


Kali-kali masang toge di sini 😎