Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Pulang Kampung


Perjalan ke Emertown bukan perjalan yang pendek. Menyusuri jalan tol satu ke jalan tol lainnya. Sebenarnya bisa memakai kereta. Hanya memakai kendaraan umum masih terasa khawatir bagi Dira jika harus bersama Diandre.


"Nani!" pinta Diandre.


Divan menggesek-gesekan pipi ke jok. "Sudah, donk! Kakak capek nyanyi lagi. Gak ada lagu lagi," keluh Divan. Bia tertawa. "Mamah nyanyi sekarang!" Divan balas merubah korban Diandre pada Bia.


Bia menggeleng sambil menggerak-gerakan tangan tanda penolakan. "Gak bisa," tolak Bia.


Sepertinya hanya Dira yang kesepian di jok kemudi karena istri dan anaknya duduk di kursi belakang. Dira melihat ke spion depan. "Mamah belum pernah nyanyi, ya? Suruh nyanyi gih?" Dira ikut dalam keramaian.


"Ya ampun, kalian berdosa sekali membullyku," keluh Bia.


Mereka tengah menempuh perjalanan demi menghadiri pernikahan Melvi dan Jared. Bia masih merasa bersalah karena lagi-lagi pindah ke Heren.


Pukul sembilan malam, mobil Dira baru tiba di garasi rumah Nenek Benedith. Diandre dan Divan masih belum tidur. Perjalanan membuat mereka terjaga meski sudah mencoba memejamkan mata.


"Diande! Ini rumah kita satu lagi, loh! Diande kecil bayi di sini," cerita Divan. Ia tetap berceloteh pada adiknya. Padahal Diandre lebih tertarik ingin turun dari mobil. Tangan anak itu memukul-mukul pintu mobil.


"Sebentar, Diandre. Mamah buka dulu pintunya, ya?" Bia membuka pintu mobil dan menurunkan Diandre. Lekas Bia ikut turun untuk memegangi tangan Diandre sebelum anak itu kabur lagi.


Divan sudah bisa membuka dan menutup pintu dari sisi lain. Ia tak sabaran, langsung berlari masuk ke rumah dan menemukan Mrs. Carol di sana. "Nenek!" panggil Divan dengan suara lantang. Ia peluk nenek yang membesarkannya itu.


"Divan, cucu Nenek sayang," ucap Mrs. Carol sambil mengecup pipi Divan di kanan dan kiri.


"Nenek, Divan pindah sekolah. Ada Oom nakal di sana, suka ke mamah. Sama mamah Oomnya dipukul," cerita Divan.


Mrs. Carol mendengar cerita anak itu dengan seksama. Ia sangat rindu dengan anak asuhannya itu. "Divan sekarang bicaranya sudah lancar," puji Mrs. Carol.


Divan mengangguk. "Divan sudah mau lima tahu. Sekolah juga. Adik Diande tuh, sekarang sudah jalan," tunjuk Divan pada Bia dan Dira yang tengah menuntun Diandre.


Sampai dekat Mrs. Carol, Diandre langsung mendapat pelukan darinya. Anak itu meronta-ronta minta dilepaskan, tapi Mrs. Carol terus memeluk dengan gemas. "Anak bayi nenek, sudah besar," puji Mrs. Carol.


"Makin gak mau diam, Bu. Di rumah sembunyi dari lemari sampai mesin cuci," cerita Dira.


Mrs. Carol sampai tertawa mendengarnya. Mereka masuk ke dalam rumah. Bia sempat melihat ke sekitar rumah itu. Sudah lama ia tak ke sini lagi. Rasanya rindu. Ini rumah yang ia tinggali selama hamil juga setelah melahirkan.


"Jadi nikahnya di daerah dekat toko roti?" tanya Bia. Mrs. Carol mengangguk. "Dia sebutkan wilayahnya, tapi Bia gak tahu. Padahal sebelum nikah, Bia tinggal dekat situ."


"Iya, habis ibunya Melvi tak bisa pergi jauh-jauh. Keputusannya diambil seperti itu," jelas Mrs. Carol.


"Sama Oom Jared. Teman mamah dulu kerja di toko roti. Divan ingat?" tanya Bia.


Divan mengangguk-angguk. "Oom galak. Mamah pukulin waktu itu. Kan pelototin Divan," cerita Divan.


Bia dan Mrs. Carol sampai tertawa mendengarnya. Divan punya daya ingat yang tinggi. "Wah, berarti mamah kamu bar-barnya bukan sama Zayn saja?" tanya Dira.


"Mamah sering pukulin orang kalau jahat ke Divan," adu Divan.


"Memang nakutin, ya?" ledek Dira sampai mendapat cubitan di pingangnya. Pria itu menjerit kesakitan.


Malam semakin larut. Setelah membantu kedua putranya cuci tangan dan kaki, Bia mengatar kedua anak itu naik ke tempat tidur. "Sudah malam, lekas tidur, ya?" pesan Bia.


Diandre tidur di samping Divan saling bersebelahan. Ini keadaan sebelum tidur. Pagi nanti mereka pasti akan terpisah, satu di sudut kanan satu di tengah. Pokoknya selama tidur, kasur adalah tempat menjelajah paling menyenangkan bagi anak-anak.


"Tuan Dira ke mana? Gak kelihatan?" tanya Mrs. Carol. Setelah mengobrol sebentar di ruang tamu, Dira langsung menghilang.


"Dia di sini itu kesempatan. Pasti ketemu sepupunya. Mau main game," jawab Bia dengan suara kesal. Bukannya istirahat setelah menyetir lama, Dira malah pergi kelayapan. Nanti pagi pulang, pasti mengeluh sakit ini itu.


"Maklum, usianya masih muda. Umur segitu masih nyari jati diri, masih pacaran. Ini sudah ngasuh anak dua." Mrs. Carol sangat pengertian.


"Salah sendiri. Orang lain SMA itu masih main di tempat ding dong, dia malah bikin anak!" sindir Bia.


Mrs. Carol tertawa. "Lha, kan sama kamu!" ledek Mrs. Carol.


Bia manyun. "Iya, sialnya juga malah ngajakin aku lagi!" protesnya.


"Memang kamu juga gak mau ya main atau sekadar jalan-jalan seperti perempuan seusia kamu?" tanya Mrs. Carol penasaran.


Bia menggeleng. "Justru Bia bersyukur ada anak-anak. Bia itu dari kecil jarang main. Pas remaja juga. Orang lain nongkrong, Bia malah rebahan sampai badan melar. Pas ada anak baru punya kegiatan. Justru setelah menikah Bia gak bosan."


Mrs. Carol mengusap punggung Bia. "Kamu memang perempuan hebat. Meski tak ada orang tua, tetap saja tegar dan jadi ibu yang bijak."


Bia mengangguk. Ia menatap kedua putranya. "Kira-kira kalau orang tua Bia masih ada, mereka bakalan bagaimana ya melihat cucu-cucunya? Pasti senang kalau ada ibu yang menemani saat melahirkan juga ayah yang memberikan nasehat pernikahan. Setiap liburan pulang ke rumah orang tua," cerita Bia lirih.


🍁🍁🍁