
Keluarga yang bahagia. Aku dengar bagaimana mereka berpisah dulu. Kenapa harus ada Cloena Parviz -
Kenapa aku baru sadar, istri Dira Kenan cantik sekali -
Anaknya menjiplak gen sempurna dari kedua orang tuanya. Mereka tampan sekali -
Apa harus menunggu sampai anak Dira besar dulu? Mereka sudah glowing sejak bayi-
Tak ada yang menyangka, bahkan Dira sendiri jika story IGnya akan ramai oleh komentar orang yang melihat. Semua berisi pujian. Lebih dari itu mereka bahkan memuji cara Bia mengenakan pakaian untuk kedua putranya.
Apa Dira menggunakan stylist bahkan untuk anaknya sendiri? -
Pujian-pujian yang akhirnya membuat Dira mendapat ide yang luar biasa. Ia mulai mencari designer yang bisa diajak kerja sama. Tentu jaringan yang ia dapatkan selama ia menjadi artis bisa ia manfaatkan.
"Pakaian keluarga?" tanya Kelvin bingung. Dira mengangguk. "Maksudnya untuk ibu, ayah dan anaknya?" Kelvin memastikan jika anggapannya benar.
"Belakangan ini postingan video keluargaku sedang ramai diperbincangkan. Bahkan mereka mencari boneka pororo yang sama dengan Divan untuk sekadar jadi hiasan atau kado," jelas Dira.
Kelvin dan Ezra bertepuk tangan. "Ada gunanya juga kamu jadi artis dulu. Sekarang nama kalian saja sudah cukup menjual."
"Aku berencana menggunakan designer yang berkerjasama denganku dulu untuk membuat kostum panggung. Sebagian memang bekerja untuk beberapa brand, tapi banyak yang kerja lepas. Mereka ini yang sedang aku nilai kemampuannya." Dira sedang mencoba strateginya.
"Lalu bagaimana soal pemasaran?" tanya Kelvin karena mereka belum memiliki outlet resmi. Bahkan brand untuk didaftarkan.
Dira mengetuk-ngetuk ujung pulpen ke kening. "Soal iklan, tak tahu kenapa aku ingin gunakan Divan. Aku tahu dia akan populer. Karena itu tentang popularitas, aku harus bisa menyetir agar tak berpengaruh pada kehidupan Divan."
Ezra geleng-geleng kepala. "Dari awal aku sudah bilang, anakmu itu sudah punya bakat cari perhatian. Awalnya mungkin syok, lama-lama dia nyaman dengan popularitas."
Dira mengangguk. Gaya pakaian Divan memang lain dengan anak lainnya. Meski banyak yang berpikir Bia yang menyiapkan pakaian Divan, nyatanya Divan yang memilih baju yang ia kenaka sendiri saat membeli bahkan tak ingin dipilihkan pemilik toko. Bia dan Dira hanya bisa memberi saran, terlalu mengatur malah akan membuat kreativitasnya tak bisa berkembang optimal.
"Jadi kamu mau bikin Divan jadi modelnya?" tanya Kelvin.
Dira menggeleng. "Gak, aku ingin baik orang lain atau Divan sendiri tidak sadar jika itu iklan. Aku hanya akan post video Divan di media sosial dan diakhir video aku sematkan brand pakaian yang Divan kenakan. Hanya video kegiatan sehari-hari. Kadang dia sering merekam video sendiri atau bicara di depan cermin seolah-olah ada orang di sana."
Kelvin tak mau kalah. "Jadi calon besan juga. Dia malah lebih populer dari papahnya."
Bahkan banyak juga komentar yang meminta Dira membuat akun pribadi untuk Divan. Itulah, Dira harus bisa mengendalikan popularitas Divan, karena itu ia sering mengukur-ukur waktu untuk upload video diselingi dengan video rutinitasnya sendiri.
Sementara itu, Di rumah semua sedang terasa damai. Diandre tersenyum-senyum mendengar suara Divan yang sedang menggodanya. Meski Diandre sendiri sebenarnya belum mengerti apa yang Divan ucapkan dan ekspresinya belum tentu adalah senyumam sebenarnya. Bagaimanapun, Diandre masih berusia sebulan.
"Adik, lucu utuk ... utuk ...." Divan menyentuh pipi Diandre dengan telunjuknya dengan lembut. Tak lama Divan menutup mata dengan kedua telapak tangan. "Ciluk ... ba!"
Bia hanya bisa tertawa sendiri melihat kelakuan putra pertamanya ini. Kadang dia menolak adiknya ada, kadang begitu menempel hingga memaksa ingin menggendong Diandre.
Rasa cemburu itu pasti ada. Biasanya Divan selalu jadi prioritas dan sekarang harus berbagi dengan Diandre. Pertanyaan seperti kenapa Diandre digendong terus, kenapa Diandre tidur sama mamah dan papah, sering Divan lontarkan. Bia tak bisa mengatur Divan untuk tidak protes. Ia hanya perlu melibatkan Divan dalam mengasuh Diandre agar kakaknya merasa dianggap.
"Divan mau mandi dengan Diandre? Ini sudah sore, loh. Coba contohin Diandre cara mandi yang benar, kakak sudah pintar," saran Bia.
Divan mengangguk. "Ayo Diandre! Liat kakak mandi, ayok!" ajak Divan. Bia menggendong Diandre dan menuntun Divan ke kamar mandi.
"Maaf ya, Divan harus jalan sendiri gak mamah gendong. Mamah lihat Divan sekarang berjalannya lincah. Hebat!" puji Bia.
Divan mengangguk-angguk. "Divan ikut basket sama papah. Kuat ototna!" seru Divan.
Bia mengangguk. "Apa yang disiapkan, ya? Diandre sepertinya gak tahu," pancing Bia.
Divan mengedipkan sebelah mata. "Diandre, liat kakak. Satu anduk dulu telus airna nyalain. Gini!" Divan menekan keran air hangat. Ia sudah tahu mana keran yang tepat dari warnanya.
"Coba Diandre bilang apa?" tebak Bia.
"Iya kakak Divan pintel, Diandre sudah bisa kalang." Divan berpura-pura menjadi Diandre. Ia pegang tangan adiknya dan ia gerakkan pelan. Divan sudah mulai main peran mikro. Segala macam barang dia dubber sampai adiknya sendiri.
🍁🍁🍁