
Aku tahu judul chapternya suka gak nyambung. Biar saja yang penting isinya. Daripada gak update gara-gara mikirin judul chapter.
πππ
"Nyonya Bia," Cynthia bingung, tak tahu lagi harus minta bantuan pada siapa. Ketika masuk ke kamar Cloe, Cynthia kaget melihat Cloe memeluk lutut sambil menangis. Tubuhnya bergetar dan ketakutan.
"Ini siapa?" tanya Bia bingung melihat nomor tak dikenal menelponnya.
"Aku Cynthia, manager Cloena. Itu, tadi Dira datang menemui Cloe. Aku tahu Dira sangat marah karena Cloe memang salah. Namun, anda tahu sendiri bagaimana keadaannya sekarang. Aku mohon bisakah anda datang ke sini dan meyakinkan Cloe jika anda memaafkannya? Cloe sangat merasa bersalah. Tak tahu Dira bilang apa padanya tadi," cerita Cynthia.
Bia mengembuskan napas dengan berat. "Dira tidak akan marah kalau bukan dipancing sesuatu. Biar aku bicara dengannya nanti. Sayangnya sekarang aku tak diizinkan keluar. Mungkin aku tak bisa ke sana."
Cynthia mengangguk. "Aku sangat berterima kasih. Kau sangat baik. Aku sungguh meminta maaf atas nama Cloe."
Setelah memutuskan telpon, Bia lekas turun ke lantai bawah. Dira sedang main dengan Divan di sana. Ia tahu masalah ini memang sebaiknya ia ikut campur. Meski Bia tahu, Dira melakukan itu untuk membelanya. Namun, keadaan Cloe saat ini tidak memungkinkan.
"Dir, aku mau bicara, donk. Kamu bisa biarkan Divan main dengan pengasuhnya dulu?" pinta Bia. Ia berdiri di pintu setelah sebelumnya memanggil pelayan yang biasa mengawasi Divan jika Bia sedang sibuk merapikan barang-barang Dira.
Melihat wajah Bia, Dira tahu apa yang akan istrinya bahas adalah hal yang serius. Untuk itu, Dira lekas meninggalkan Divan di sana dan mengikuti Bia ke kamar.
"Papah cama mamah uangna banak," komentar Divan.
Tiba di ruangan serba putih itu, Dira menutup pintu. Takutnya saat mereka bicara, Divan datang dan menguping. "Ada apa?" tanya Dira penasaran.
"Kamu menemui Cloena?" tanya Bia.
Dira mendengus. "Dia laporan padamu? Tak perlu cemburu, aku datang ke sana bukan untuk bersikap baik," jelas Dira. Ia tak ingin Cloe membuatnya bertengkar dengan Bia lagi.
Bia menggeleng. "Pah, apa wajahku terlihat marah saat bertanya? Aku hanya bertanya iya atau tidak," tegas Bia. Dira mengangguk. "Aku tak marah kamu datang ke sana. Hanya saja apa yang kamu lakukan di sana aku pikir tidak tepat. Kamu tahu keadaan Cloena saat ini bagaimana. Dia baru dilabrak istri orang dan sekarang suamiku sendiri ikut-ikutan melabrak."
Dira memutar bola matanya. "Ia saja tak kasihan membuatmu dihina orang, membesarkan anak sendiri, bertahan hidup sendiri," kilah Dira.
Bia menuntun Dira untuk duduk di sofa. Ia peluk suaminya dengan erat. "Aku tahu kamu marah atas apa yang terjadi denganku dan Divan. HanyaΒ membuat Cloena menderita, apa itu akan membuat hidupku di masa lalu menjadi baik? Apa Tante Ruby akan kembali hidup? Gak, Dir. Kalau kita balas dendam, apa bedanya kita sama dia?"
Dira menatap Bia. "Aku hanya ingin tahu apa hubungan dia dengan Haley. Itu saja," alasan Dira.
Dira menggeleng lalu nyengir kuda. "Melihatnya aku malah emosi dan marah-marah sampai lupa tujuan awalku apa."
Bia mencubit gemas pipi Dira. "Kalau begitu apa manfaatnya kau ke sana? Hanya bisa membuat dia takut saja!" protes Bia.
"Dia bilang padaku, Haley sama sekali tak punya masalah denganku. Dia yang membuatku terlibat dengan Haley." Dira menyandarkan punggung ke sofa.
"Dia tak bilang apapun lagi?" tanya Bia.
"Dia sangka aku orang yang menggeledah apartemennya karena menunjukkan foto itu. Katanya barang yang diambil semua alat untuk mengendalikan Haley," ucap Dira.
Bia ikut berpikir keras. "Jadi bukan Haley yang mengendalikan Cloena, tapi Cloena yang mengendalikan Haley? Ah, aku bingung," keluh Bia.
"Aku juga menyesal kenapa gak menyuruhnya mengaku. Masalahnya aku gak bisa percaya dengannya. Dia lemah sekarang, bisa saja Haley memanfaatkan itu untuk berbohong."
Bia pikir, Dira tidak salah. Baik Cloena dan Haley tak bisa dipercaya sekarang. "Kita tetap harus waspada. Tentang bukti itu, aku harus tahu barang apa yang Cloena maksud untuk mengendalikan Haley," pikir Dira.
Bia mengangguk. "Kita tahu salah satunya foto itu. Mungkin Cloena memanfaatkan foto itu untuk mengancam Haley. Jika istrinya tahu ...." Kalimat Bia terpotong.
"Dia butuh istrinya untuk memperbaiki keadaan perusahaan Alvonz," timpal Dira.
Pria itu menatap Bia. "Coba kau pikirkan, apa ini masuk akal. Haley pacaran dengan Cloe. Namun, perusahaan keluarganya hancur dan dia terpaksa dijodohkan agar keluarga istrinya bisa menolong perusahaan keluarganya. Cloe tahu jika hubungan mereka akan menghancurkan rumah tangga Haley. Karena itu ia memanfaatkan foto itu agar Haley mendukungnya." Dira mencoba memikirkan kemungkinan meski ia harus bergidik memikirkan alur cerita yang seperti sinetron istri menangis.
"Mungkin memang begitu," timpal Bia sambil cengengesan.
"Aku serius," ucap Dira kesal.
"Yang, kamu pas deh banting stir jadi penulis novel istri menangis," komentar Bia hingga mendapat toyoran di jidat oleh Dira.
πππ
Otakku kayaknya belakangan ini lagi agak sengklek. Maafkan ya π€§ pengen nulis dialog serius, tapi susah gtu. Otakku berhalu ke dunianya Andre dan Sheila.ππ