Unknown Baby

Unknown Baby
Demi Bayi Itu!


Dia tidak menyesal melahirkan putranya, tapi yang dia sesalkan adalah tidak bisa memberikan kehidupan layaknya keluarga pada umumnya. Wanita dengan rambut sebahu itu meletakkan bayi jabrik yang baru dua minggu dia lahirkan tepat di depan rumah Faiq.


Langit mendung, awan gelap tepat di atas. Jalanan sepi tanpa seorang pun yang lewat. Wanita itu mencium bayinya untuk yang terakhir kali. Dia menyelipkan surat dan juga kalung pemberian nenek buyut si bayi.


Air matanya menetes, tak tega. Tapi ini demi kelangsungan hidup si bayi. Ia ingin berdiri, beranjak dari sana untuk pergi. Tapi hatinya sangat sakit. Tak kuasa. Sekali lagi dia pandang bayi mungilnya. Bayi yang sangat dia sayangin melebihi nyawanya sendiri.


Wanita itu menyelimuti si bayi jabrik. Mengelus pipinya sekali lagi. Air matanya menetes tapi bibirnya berusaha tersenyum.


"Mama harap kamu menemukan keluarga yang menyayangi dan mencintaimu."


Ia berdiri, pandangannya menuju lantai atas rumah itu. Ada lampu menyala di sana, tempat di mana Myesha sedang mengerjakan komik. Di lantai bawah ada Faiq yang sibuk mengelap punggung Cucut, si kura-kura kesayangannya sembari bercurhat ria.


"Semoga rasa cinta hadir di hati kalian dan menyayangi anak ini."


Wanita itu menoleh ke belakang, ia takut adik iparnya menyusul ke sini. Segera wanita itu berlari menjauh. Meninggalkan sang bayi di sana.


Sementara itu Andre melihat kejadian tersebut dari lantai dua rumahnya, ia tersenyum dan turun. Ada rasa ingin membunuh yang tinggi. Dengan mobilnya dia menyusul wanita yang memang berniat bunuh diri itu.


Hidupnya sudah tak berarti, dia hendak menabrakkan dirinya di jalan dua jalur tempat ramai lalang kendaraan menuju Bandar Lampung. Tetapi Andre menyusulnya. Kematian yang menjadi keinginan wanita itu dikabulkan oleh Andre.


Seperti perkiraan wanita itu, adik iparnya menyusul. Dia melihat bayi kakaknya sudah tergeletak di depan rumah Faiq. Tenang dengan tidurnya. Tanpa menangis.


Saat itu sang adik ipar sudah tahu bahwa kakaknya mati di suatu tempat seperti keinginannya. Ia membawa bayi itu, meninggalkan rumah Faiq.


Hatinya kalut, beberapa bulan ini wanita itu sudah berusaha mencegah kakak iparnya bunuh diri. Mencoba meyakinkan bahwa mereka masih ada jalan. Akan tetapi nyatanya itu sulit, orang-orang yang mengejar mereka dari Jakarta diketahui sudah sampai rumah orang tuanya. Menyebabkan dia sulit untuk bertemu dengan keluarganya sendiri.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Riki ketika melihat orang yang dia kenal datang ke mini marketnya.


"Bisakah kau membantuku?"


Sekarang tak ada pilihan selain melindungi bayi ini seperti keinginan kakak iparnya.


"Aku sibuk."


"Aku bakal bayar mahal."


Uang kakak iparnya sangat banyak, membayar orang untuk menjalankan wasiat kakaknya adalah hal mudah.


"Kamu ingin aku ngapain?" tanya Riki masih tak acuh. Dia diam di kasir mini market.


"Ambil semua CCTV di daerah sini dan bantu aku memenuhi wasiat Kakak untuk yang terakhir kali."


Wanita berambut ikal itu menatap Riki, matanya berkaca-kaca. Menahan diri untuk tidak menangis. Membuat hati kecil Riki menjadi iba.


"Apa wasiat kakakmu?"


"Dia ingin Dokter Faiq dan Kak Myesha menjadi orang tua bayi ini."


"Kau sudah gila? Bagaimana mungkin itu terjadi."


"Semua bisa kalau kita atur dengan baik. Fitnah mereka, buat mereka menikah dan merawat bayi ini." Wanita berambut ikal itu bersikeras.


Riki tak habis pikir, dia tidak mau melakukan itu. Tapi penolakannya kalah telak dengan si wanita. Dengan lihainya dia berhasil membujuk Riki. Alasan bahwa bayi ini harus memiliki kesempatan untuk hidup membuat pemuda yang dibuang keluarga kandungnya itu iba. Apalagi si wanita berambut ikal menjelaskan bahwa jika bayi ini tidak memiliki keluarga maka akan mati.


Wanita berambut ikal itu menyuruh Riki mengambil semua CCTV, ia menulis surat palsu dan mengganti dengan surat yang asli. Ia juga menelpon Bu RT sekaligus bidan yang menangani proses kelahiran si bayi secara rahasia. Dengan cermat dan cekatan dia mengatur semuanya.


Langit semakin mendung, ia memeluk ponakannya itu. Air matanya mengalir dan buru-buru diseka. Ia melatakkan bayi itu ke keranjang bayi lagi lalu berjalan ke rumah Faiq. Meletakkan bayi itu di sana. Sebelum itu dia membuat si bayi menangis hingga mengganggu penghuni rumah.


Wanita itu melihat dari kejauhan, Myesha dan Faiq datang di saat gerimis turun. Membawa bayi itu ke dalam rumah.


Selama beberapa bulan ini kakak iparnya dikejar kematian, mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Keluarga suaminya sudah porak poranda. Bahkan ia terpisah dengan suaminya sendiri. Bersama kakak ipar yang hendak melahirkan dia pulang ke Lampung, ke kampung halamannya. Menemui Nindy, sahabatnya.


Warga berdatangan setelah bu RT yang dia bayar mahal menjalankan tugasnya. Di dalam mini market Riki wanita berambut ikal itu menangis setelah membaca pesan terakhir dari kakak iparnya.


Ia mencoba menelepon tetapi nomornya sudah tidak aktif. Di sana juga tertulis menyuruh dia untuk secepatnya meninggalkan Lampung.


"Kenapa semua jadi seperti ini," kata wanita itu sembari terduduk di lantai. Sekarang hanya tinggal dia sendiri. Mungkin orang-orang itu masih mengejar mereka, dia harus pergi supaya keberadaan bayi kakaknya selamat.


Dengan basah kuyup Riki kembali ke mini market. Memandang wanita itu dengan nanar. Kemudian menghembuskan napas berat.


"Aku sudah melakukan semua yang kau minta, Bang Faiq sekarang dibawa ke rumah Pak Lurah. Kita tinggal menunggu apakah berjalan sesuai rencana atau tidak."


Wanita itu masih terduduk di samping tempat kasir. Mendekap kakinya. Mini market sudah ditutup dari tadi dan mereka bisa keluar masuk lewat samping.


"Semoga saja berhasil. Aku akan mengirim uangnya sebelum ke Malaysia."


"Kau mau kabur ke sana?"


Wanita itu mengangguk, ia menghapus air matanya. "Aku harus pergi sebelum orang-orang itu tahu keberadaanku dan bayi kakakku."


"Apa menurutmu aman meninggalkan bayi itu di sini?"


"Aku percaya Kak Myesha orang baik, dia pasti akan melindungi bayi itu."


Riki tak bisa ikut campur lebih dari ini atau hidupnya juga akan terancam. Dia mengulurkan tangan pada wanita itu.


"Berdirilah, aku akan mengantarkanmu ke Nindy, malam ini tidurlah dengan dia. Jangan tidur di hotel lagi."


Wanita itu menyambut uluran tangan Riki, pacar teman SD nya. Semua berlalu begitu saja. Kini dia hanya mampu berdoa yang terbaik.


.


.


..


.


Bersambung


Makasih udah mampir. Lop lop buat kalian. tinggal satu part lagi


ヾ(≧▽≦*)o