Unknown Baby

Unknown Baby
Hutan


Tempat terhangat adalah keluarga, di mana rasa sayang dan kasih bisa dicurahkan tanpa mengenal batas.


"Yah, bisa geser dikit nggak?" tanya Kahfi.


"Udah mentok, nggak bisa." Faiq menoleh, jika dia bergerak maka jatuh dari kasur.


Kini keluarga itu tidur satu kasur di kamar Faiq. Pinea melihat ke kanan dan kiri, Yuno dan Kahfi mengapitnya.


"Cempit." Bocah itu mendorong dua kakaknya menjauh.


Yuno dan Kahfi duduk. Mengibaskan tangan ke udara. Panas. Kipas angin hanya di pojokan. Bukannya hangat mereka malah tidak bisa tidur karena kepanasan.


Tadi, Ren ke rumah mereka. Dengan membawa bukti bahwa Yuno anak kandungnya, meminta supaya Faiq dan Myesha menyerahkan anak itu. Myesha menolak dengan keras, bahkan dia melempar teh ke muka pengawal yang hendak membawa Yuno.


Begitu juga Faiq, dia menolak menyerahkan Yuno apapun yang Ren tawarkan. Mobil, motor, rumah, uang milyaran. Ren membeli Yuno dengan uang.


"Kami tidak akan menjual anak kami sendiri!" Tegas Faiq.


Ren menatap dengan tajam, mengintimidasi. Dia orang yang tidak menerima penolakan. "Bagaimana jika kuambil satu anakmu sebagai gantinya?"


Kahfi dan Pinea sembunyi di belakang Myesha, takut dengan tatapan Ren yang seperti mengincar mereka.


"Dulu Om nggak pingin aku sampai Mamaku mati, kenapa sekarang ngusik keluargaku?" tanya Yuno. Dia menantang Ren.


Pria itu menelengkan kepala, senyumnya menyungging. "Kenapa? Karena kamu milikku bukan milik mereka."


"Apa kau pikir Yuno itu barang?!" tanya Faiq dengan nada meninggi. Emosi dengan perkataan Ren.


Ren berdiri, dia membenarkan jasnya. "Kemasi barang Yuno, dua hari lagi aku akan menjemputnya."


Setelah mengatakan itu Ren berlalu dengan anak buahnya.


Kembali lagi ke keluarga yang kini tidur di satu ranjang. Dua pengawal Ren berjaga di depan rumah, mereka tidak bisa kabur.


"Besok Ayah cari cara supaya kita bisa kabur. Sekarang tidurlah."


"Aku mau tidur di kamarku aja, Yah." Kahfi beranjak ingin meninggalkan kamar Faiq.


"Jangan, nanti kamu diculik!" Myesha menarik tangan Kahfi supaya tetap di kasur. Wanita itu kini duduk diikuti Faiq. Kini hanya Pinea yang berbaring.


Bocah berumur 9 tahun itu mengembuskan napas berat. Tidak bisa tidur di tempat sempit seperti ini.


"Kalau seumpama aku ikut sama orang itu aja gimana? Nanti setelah aku dapat warisan aku pulang." Yuno memberi usul.


Kekayaan keluarga ayah kandung Yuno memang banyak, tidak habis tujuh turunan 6 tanjakan dan 5 tikungan. Namun itu bukan ide yang baik.


"Bisa saja kamu mati sebelum dapat warisan." Kata Faiq, membunuh imajinasi Yuno yang akan menjadi orang kaya.


"Jadi orang kaya itu susah. Hisapnya lama, mending jadi orang biasa aja," kali ini Myesha yang menasehati.


"Ayah punya rencana, besok kita kabur ke hutan saja, di Palembang tempat saudaranya Riki."


"Nggak mau! Tiga hari lagi aku mau tanding basket terus ngasih hadiahnya ke Yuriel!" Yuno menoleh ke Faiq yang tepat di sampingnya.


Suasana menjadi hening, semua tatapan mengarah ke Yuno. Mata mereka penuh selidik.


"Masih kecil nggak boleh pacaran," kata Faiq.


"Belum pacaran kok." Yuno menunduk malu.


"Kamu liat sendiri?"


"Iya, aku liat. Bau-baunya sih bentar lagi mereka pacaran."


"Anjim emang Sandy, beraninya deketin Yuriel."


Faiq menjitak Yuno dan Kahfi bergantian hingga mereka mengaduh pelan. Myesha bangga karena Faiq mengajarkan dua anaknya tidak boleh pacaran, mereka masih kecil. Panutan yang baik.


"Kalau sudah tahu ada saingan, langsung tembak saja. Jangan sampek keduluan." Kata Faiq.


"Ehh ...." Myesha tersentak. Dia mendekat ke Faiq dari belakang dan memukul punggungnya. "Jangan ngajarin nggak bener, Mas!"


Malam itu mereka tertawa di bawah tekanan Ren. Bercanda sampai tertidur di satu kamar. Faiq menggelar kasur lantai dan tidur di bawah bersama dua putranya.


Tadi, Faiq dan Myesha sempat bertanya ke Yuno setelah kepergian Ren. Jika anak itu ingin ikut ayah kandungnya maka Faiq dan Myesha tidak akan memaksa. Semua pilihan ada di tangan Yuno.


"Ini keluarga ku. Tidak ada keluarga lain."


Itu jawaban Yuno. Pinea berlari memeluknya, seperti biasa Yuno membawa adik perempuannya itu untuk digendong. Mereka bahagia sebagai saudara.


Benar, Yuno bahagia bersama keluarga ini. Faiq akan menghargai apapun pilihan anak itu. Myesha memberitahu seberapa besar WterSun dan kekayaannya. Takut nanti Yuno menyesal.


Namun jawaban Yuno tetap sama. Berapapun uang yang dimiliki dia tidak akan mampu membeli keluarga.


Setelah anak-anak tertidur Faiq dan Myesha keluar kamar. Mereka membuat mie dan makan di satu panci. Mengobrol dan berdiskusi.


"Aku dipecat dari rumah sakit." Faiq memberi tahu sebelum memakan mie buatan Myesha.


"Kapan?"


"Baru saja. Klinik juga dibakar orang. Nggak ada yang tersisa."


Myesha tidak bisa menelan, dia melihat ke arah Faiq yang santai saja walaupun karirnya berakhir dengan mengenaskan. Mereka sadar itu adalah konsekuensi menentang Renold.


"Terus kita mau gimana?"


"Kita tinggal di hutan, jadi petani. Rumah ini dijual buat modal sama tabungan kita. Itu bukan ide yang buruk 'kan? Yang penting Yuno nggak diambil."


Hidup terangsing, asal bersama. Myesha pikir itu bukan ide yang buruk. Selama mereka diketahui keberadaannya oleh Ren. Hidup mereka tidak akan bisa tenang.


"Nggak buruk kok. Ayo jadi petani aja. Siapa tahu jadi juragan tanah." Myesha tersenyum. Dia mengambil mie di panci. Memakannya dengan lahab.


12 tahun pernikahan, susah senang bersama dihadapi. Myesha yakin kali ini pun keluarganya akan baik-baik saja.


.


.


.


.


bersambung


jangan lupa vote.