Unknown Baby

Unknown Baby
Masjid


Sementara itu di rumah sakit Faiq mencabut gigi seorang wanita separuh baya, ia menyuntikkan Novocaine ke area gusi. Wanita itu tampak menahan sakit, Faiq yang menggunakan masker melihat lebih jelas ke dalam.


Gigi geraham itu tak hanya berlubang, tetapi ada daging yang tumbuh di sana. Bahkan gigi yang sudah lapuk itu pecah sebagian. Faiq menggelengkan kepala, wanita ini ternyata sudah terlalu lama membiarkan giginya tak terurus, seharusnya dari awal dia mencabut giginya.


Kemudian Faiq mencoba menekan gigi, "jika sakit bilang ya, Bu?"


Wanita itu mengangguk, sepertinya anestesi local telah berhasil. Faiq mulai mencabut gigi ditemani oleh asisten yang membantu.


Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit sampai gigi tercabut sempurna, setelah kumur Faiq mengganjal gigi itu menggunakan kapas yang sudah diresapi antiseptik. Sisanya dibereskan oleh asisten.


Faiq berjalan ke mejanya setelah melepas sarung tangan dan masker, dia menuliskan resep untuk menghilangkan rasa nyeri sesudah gigi dicabut.


"Terima kasih, Pak Dokter," kata seorang pria separuh baya yang menemani masuk ke dalam ruangan.


"Terima kasih kembali, Pak."


Setelah dua orang itu pergi pasien berikutnya masuk, ternyata hari ini lebih padat dari yang dia kira. Waktu menunjukkan pukul satu siang.


Beruntung pasien berikutnya hanya konsultasi, tak terlalu memakan tenaga dan waktu. 


Jam dua kurang sepuluh menit Faiq meninggalkan rumah sakit. Hanya lima menit naik mobil dia sampai ke masjid At Taqwa yang berada tepat di samping Taman Merdeka. Maskot kebanggaan warga Metro. 


Segara berlari ke masjid setelah memarkir mobil, Faiq takut kehabisan waktu solat dhuhur. Pemuda itu solat dengan khusuk dan mengambil wirid biasa. Berdoa kepada Allah supaya bisa menemukan kebenaran dan asal usul dari bayi yang dia asuh. Tak lupa mendoakan supaya Myesha segera peka bahwa dia laki-laki normal yang membutuhkan nafkah batin.


Banyak yang dia doakan termasuk kelima orang tuanya, rumah tangganya, pasien yang dia tanganin, dan lain sebagainya. Setelah berdiri hendak meninggalkan masjid Faiq tak sengaja melihat Riki di saf paling ujung.


"Aku pikir dia anak nakal." Gumam Faiq.


Pria itu memutuskan menunggu Riki di serambi masjid. Ternyata pemuda itu cukup lama solat, mata Faiq tertuju pada motor vespa yang diboncengannya banyak barang belanjaan. 


Seingat Faiq, mini market di samping rumahnya merupakan milik paman Riki. Ada dua pekerja di sana, Riki yang sudah sejak lulus SMA dan seorang perempuan separuh baya. Faiq tak terlalu mengenal perempuan itu karena bekerja di shif siang.


"Loh, Bang Faiq di sini," sapa Riki yang baru keluar dari masjid dan mendapati Faiq tengah berdiri tak jauh dari pintu masuk. 


"Iya, tadi nggak sempat sholat di RS, makanya solat di sini sebelum beli popok ke chandra. Kamu sering solat di sini?"


Pemuda itu menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal. Merasa malu.


"Anu, sebenarnya beberapa hari yang lalu aku menikah soalnya bentar lagi jadi Bapak, malu kalau jadi panutan tapi banyak dosa. Niatnya sih mau tobat."


Mendengar itu Faiq cukup terkejut. Kemudian dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Waktu itu aku pernah liat kamu boncengan sama cewek, apa itu pacarmu?"


"La istrimu hamil berapa bulan?"


"Udah 9 bulan, bentar lagi melahirkan. Acara kecelakaan sih hehe. Tapi aku bertanggung jawab kok."


"Tapi kamu nyesel, 'kan? Mau berubah, 'kan?"


"Iya, Bang. Aku ngrasa bersalah soalnya istriku gagal kuliah gara-gara hamil."


Riki pemuda pekerja keras, terlihat seberapa seriusnya dia menjaga mini market. Dia juga mau solat dan niat tobat. Faiq merasa bahwa pernikahan dan memiliki tanggung jawab bisa merubah seseorang.


"Yaudah kalau gitu aku duluan. Wassalamualaikum "


"Iya, Bang. Waalaikumsalam."


Faiq berjalan menuju parkiran kemudian melesat ke chandra yang berada tak jauh dari masjid. Pria itu memarkirkan mobil sebelum masuk ke dalam mall itu. Langsung ke area popok. Lalu ia berisiatif memberikan buah mangga ke Myesha. Gadis itu suka sekali dengan buah mangga.


Tak sengaja matanya melihat buket bunga, lumayan mahal. 200 ribu. Tapi untuk Myesha, Faiq akan membelinya  supaya gadis itu luluh dan peka dengan rasa sayangnya. 


Ketika membayar di kasir matanya tak sengaja melihat benda segi empat yang tipis, ia ingat kejadian di rumah orang tuanya. Myesha tak paham benda itu.


"Beli nggak ya?" gumam Faiq. 


Cepat atau lambat dia akan menjadikan Myesha miliknya seutuhnya. Yuno masih kecil dan ntah kapan bisa menemukan orang tua kandungnya, jika ada dua bayi di rumah pasti akan sangat repot.


Walaupun ragu akhirnya Faiq membeli benda itu dan memasukkan ke keranjang belanjaaan.


.


.


.


.


.


Bersambung


Vote itu sebenernya dari kamu buat kamu. Vote banyak \= masuk rank \= beli kuota \= update. Itu pun kalo masuk rank.


kalau mau ngasih aku itu pake koin gengs, itu pun aku gk maksa tp seiklasnya. Beda bgt ya sama apk sebelah yg buka episode pake koin. Di sini 100 koin \= 4 ribu rupiah buat author. koin 10 biji aja belum tentu ada yg ngasih wkwkwk. kalo aku mah gk papa sih. Kerjaanku di dunia nyata masih bisa buat beli nasi. Tp kalo dikasih ya aku mau hahahaa