Unknown Baby

Unknown Baby
Pasar Malam


Faiq tak pernah tahu bahwa membonceng seorang istri perasaannya bisa sesenang ini. Padahal, semasa kuliah dulu hampir setiap hari dia membonceng Sella ke kampus. Teman, pacar dan istri. Tetap saja rasanya beda.


Kebahagiaan ternyata bisa datang dengan cara sederhana. Berboncengan menuju pasar malam. Selama ini Faiq merasa telah menyia-nyiakan waktu, andai ia jatuh cinta dengan Myesha lebih cepat mungkin dalam waktu dua tahun kenal mereka sudah memiliki bayi sendiri.


Tiba di lapangan Samber kendaraan sangat padat hingga susah menemukan tempat parkir. Lapangan yang biasa digunakan untuk upacara 17 an untuk semua pelajar di Kota Metro itu kini berubah menjadi pasar malam. Lengkap dengan komedi putar, biang lala, rumah hantu dan berbagai permainan lainnya. tak apsen para pedagang dan barang obralan. Ada stan yang terjejer dan panggung besar di sana.


Parkiran sangat padat, Faiq memarkir motor cukup jauh dari lokasi. Kemudian menggandeng tangan Myesha untuk menyeberang jalan yang ramai kendaraan itu.


"Mas naik itu yuk?" tanya Myesha menunjuk biang lala.


"Ke rumah hantu aja yuk," ajak Faiq. 


Sesak dan sangat ramai sampai mereka kesulitan berjalan. Banyak muda mudi dan orang tua. Segala umur ada di sini.


"Tunggu di sini aku beli tiket dulu." Faiq meninggalkan Myehsa tepat di depan rumah hantu.


Myesha melihat ke bawah, karena niatnya hanya mengambil mobil gadis itu hanya memakai sandal swallow berwarna putih dan kaos tipis bermotif beruang. Rambutnya juga cuma dikucir asal. Ia malu apalagi banyak orang yang melihatnya seperti gembel.


Myesha mengambil ikat rambutnya, kemudian menaruhnya di saku. Ia merapikan rambutnya menggunakan tangan, lebih baik digerai sekalian dari pada dikucir asal. 


Sementara itu Faiq membeli dua tiket masuk seharga 7 ribu perorang setelah mengantri panjang. Ia segera menghampiri Myesha yang berdiri di tempat dia meninggalkannya tadi.


"Ayo, Sha." Kata Faiq.


"Iya," jawab Myesha.


Mereka mengantri untuk masuk ke dalam. Ada tangga turun ke tempat para hantu. Lampu gelap dengan cahaya remang dari pojokan. Myesha meraih tangan Faiq duluan, Pria itu menoleh ke Myesha. Baru kali ini Myesha mau bertindak lebih dulu. Faiq tersenyum sembari mempererat pegangannya tangan mereka.


Bukannya takut hantu tetapi lampu yang gelap membuat Myesha takut tersandung. Maka dari itu tak ada pilihan lain baginya selain menggenggam tangan Faiq.


Pocong, kunti, dan berbagai memedi khas Indonesia ada di sana. Myesha melihat ke arah Faiq. Mereka berdua sama-sama tak ada reaksi. Datar saja di saat orang-orang yang lain teriak ketakutan.


"Mas nggak takut? Nggak deg deg an?" tanya Myesha. Mereka masih berjalan beriringan menuju pintu keluar melewati satu lagi mbak kunti di pojokan.


"Aku lebih deg deg an waktu lihat kamu cuma pakai handuk."


"Ehh ...." Myesha terkejut.


Sementara Faiq memalingkan wajah, perkataannya yang terlalu jujur membuat mereka sedikit canggung. Beruntung Myesha yang polos tak bertanya lebih lanjut arti jawaban Faiq.


Mereka keluar dari rumah hantu, disambut keramaian. Semakin malam maka semakin padat.


"Mas, naik itu yuk." Tunjuk Myesha ke biang lala.


"Lihat itu aja gimana?" tanya Faiq menunjuk arena motor cros.


"Aku udah lama nggak naik itu, terakhir sama orang tuaku. Kalau Mas nggak mau naik, aku naik sendiri nggak papa."


Myesha melepas tangan Faiq, ia berjalan ke arah tiket. Buru-buru Faiq mencegah.


"Ayo naik bareng, aku beli tiket dulu." Faiq menuju antrian tiket.


Harganya sama, 7 ribu perorang. Cukup murah. Dalam dompetnya ada uang pecahan 258 ribu. Cukup jika mereka ingin mencoba semua permainan dan pergi makan.


Setelah tiket didapat, Faiq segera mengajak Myesha mengantri. Cukup panjang sampai pegal di kaki. Faiq terlalu taat aturan hingga selalu membiarkan orang lain lebih dulu masuk.


Saat ada tempat kosong Myesha segera menarik Faiq untuk masuk di sangkar burung raksasa itu.


Myesha ingat film Pupus, ada adegan naik biang lala dan ciuman ketika berhenti di atas. Dari dulu ia ingin sekali naik biang lala tetapi jika sendirian rasanya tidak akan senang.


Biang lala itu bergerak. Membawa mereka ke atas. Pemandangan dari atas membuat Myesha takjup. Pasar malam ini sangat ramai.


Dibandingkan sebelumnya, sikap Faiq kini semakin berani. Dari mulai memegang tangan hingga menciumnya tiba-tiba. Myesha tak menolak, benar yang dikatakan Faiq. Walaupun nanti Dhamar memiliki perasaan yang sama dengannya tetapi suaminya tetap Faiq. Cepat atau lambat dia harus menerima hal itu.


Mengingat tindakan Faiq yang terang-terangan, bukan hal tidak mungkin jika pria itu menciumnya lagi di saat romantis seperti ini. Myesha agak gugup. Ia melihat ke depan tepat ke arah Faiq.


Faiq memejamkan matanya, tubuhnya bergetar dan tangannya menggenggam erat pegangan di sampingnya.


"Kamu kenapa Mas?" tanya Myesha heran.


"Aku takut ketinggian," jawab Faiq masih dengan mata terpejam.


Saat itu Myesha tahu bahwa adegan di film Pupus yang dia tonton tidak akan terjadi padanya.


.


.


..


Bersambung.


Kalau suka cerita ini dan ngikutin sampek sekarang. Jangan lupa votenya.