
Myesha meletakkan Yuno yang sudah terlelap ke ranjang. Box bayi tidak muat lagi, Yuno sekarang bisa berdiri dan semakin aktif.
Batita mungil itu terus memegang jari Myesha, seakan tidak akan pernah melepaskan untuk kapanpun. Kecupan dari Myesha mendarat ke kening Yuno. Membuatnya bermimpi indah dengan segala kenyamanan yang mereka berikan.
Myesha berbaring di samping Yuno, cukup dekat hingga dia mampu merasakan deru napasnya. Air matanya mengalir, rasa takut kehilangan Yuno kian besar. Namun untuk saat ini semua terkendali. Myesha bersyukur akan hal itu.
Semua rasa cinta dan kasih sayang telah ia curahkan untuk membesarkan Yuno. Tidak bisa dibayangkan jika harus kehilangan anak itu.
"Kamu tidak perlu khawatir, Yuno akan tetap bersama kita." Faiq menaiki kasur setelah menganti kemejanya dengan kaos.
"Tapi aku masih takut kalau Yuno diambil dari kita." Myesha semakin menempelkan diri kepada batita itu.
Perlahan usapan lembut datang di kepala Myesha, menenangkan dan menimbulkan rasa aman.
"Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Yuno tetap bersama kita." Faiq membaringkan diri di sebelah Yuno. Membuat mereka bertiga berbaring di kasur yang sama.
Saat ini Myesha bisa bernapas lega, dia tidak menyangka bahwa Yuno anak orang kaya dan saat ini ayahnya sedang mencari. Walaupun egois karena sudah memisahkan anak dan ayah tapi Myesha tahu ini juga demi keselamatan Yuno.
Waktu terus berjalan, membuat Yuno kian tumbuh besar. Mampu mengenalinya dan Faiq. Senyumnya cerah, seperti anak dengan keluarga normal pada umumnya.
"Undha uno ngin tu," ucap Yuno sembari menunjuk pistol mainan.
Tanpa terasa umur Yuno hampir 2 tahun. Sudah bisa berlari ke sana ke mari dan merengek minta mainan. Myesha menggendong Yuno. Anak itu tadi menangis kencang ketika bertengkar dengan Yuriel. Membuat Myesha yang sedang belanja di toko Riki kualahan dan memutuskan pulang. Tak disangka di jalan depan rumahnya malah bertemu dengan penjualan mainan yang biasa keliling memakai gerobak yang diikat pada montor.
Tangan batita itu terus bergerak menghentikan penjual mainan keliling. Dengan cekatan Myesha menyuruh penjual itu menepi.
"Yuno pingin yang mana?" tanya Myesha lembut sembari menunjukkan beberapa mainan.
"Thu." Yuno meraih pistol mainan warna coklat.
"Berapa harganya, Mas?" tanya Myesha.
"Lima ribu."
Myesha segera mengambil uang yang ada di saku celana, ada sepuluh ribu di sana. Ia memberikan kepada penjual mainan dan diberi kembalian 5 ribu.
Pistol mainan itu sekarang sudah di tangan Yuno, balita berpipi merah tampak bahagia. Melihat ke arah Myesha sembari tersenyum lebar, menampakkan gigi kelincinya.
"Kalau dikasih sesuatu harus bilang apa?" tanya Myesha, membalas tatapan Yuno.
"Akacih bun dha." Batita itu melingkarkan tangannya di leher Myesha. Memeluk wanita itu dengan gembira. Mencium pipinya. Membuat Myesha ikut bahagia. Sikap manja yang selalu berhasil membuat hati wanita itu berbunga.
"Ingat, kalau sudah selesai main harus dibereskan lagi."
Yuno tak menjawab dan langsung berlari ke rumah bagian tengah, duduk di depan aquarim dan menyeret kotak mainannya. Dia mengambil robot dan memasangkannya dengan pistol yang baru dibeli, seolah dialah polisinya.
Myesha melihat itu hanya bisa tersenyum, dia langsung menuju dapur. Menaruh belajaannya di meja dan mengambil air minum. Akhir-akhir ini dia gampang lemas. Padahal pekerjaannya tidak seberat dulu, sekarang Myesha memiliki dua asisten. Tidak sepenuhnya pusing menggambar.
Kepalanya berkedut sakit sesaat, dia mengabaikan itu dan menaruh sebagian belanjaan di kulkas.
Dengan kaki kecilnya Yuno meletakkan mainan dan berlari ke dapur, menghampiri Myesha yang sedang memotong kacang panjang untuk makan malam.
Yuno menarik kain celana Myesha, membuat wanita itu menoleh ke bawah. Mendapati batita mungil kesayanganya.
"Uno aus," ucapnya. Mengelap hidungnya yang gatal menggunakan punggung tangan.
"Yuno haus?"
"Em em." Kepala kecilnya mengangguk dua kali hingga rambut hitam lebat itu bergoyang.
"Yuno mau susu?"
"Em em." Sekali lagi ia mengangguk.
Batita itu menunggu dengan sabar ketika Myesha sibuk meracik susu formula untuknya. Mengamati setiap gerakan Myesha.
Sementara kepala Myesha semakin berkunang-kunang, hampir saja dia menjatuhkan termos panas. Dia segera mengangkat Yuno untuk duduk di kursi. Menjauhkan batita itu darinya. Ia mempercepat gerakan meracik susu.
"Dha cakit?" tanya Yuno ketika menerima botol susu. Kaki kecilnya terus mengayun. Peka terhadap keadaan ibunya.
"Bunda cuma lelah, ayo habiskan susunya." Myesha duduk di samping Yuno. Batita itu sekali lagi mengangguk. Sesekali matanya melirik ke arah Myesha yang sedang mengawasinya minum.
.
.
bersambung.
Maaf ya hari ini aku lelah banget jdi cuma bisa update segini. Makasih udah mampir.