
Faiq berkeliling mencari toko roti, tapi nahas tak ada yang bisa memenuhi ekspektasinya. Dia turun dari mobil, tepat di toko pernak pernik untuk mendapatkan kado.
Di saat mendesak seperti ini pikirannya terasa hilang, tak ada ide sama sekali. Dari pada kado dia harus mendapatkan roti terlebih dahulu.
Ingatan tentang Pura terlintas, dia adalah sahabatnya yang menjual kue. Tak terlalu jauh, hanya setengah jam dari tempatnya sekarang.
Segera ponsel dikeluarkan untuk menghubungi Pura, pasti dia bisa membantunya.
"Hallo," jawab dari sebrang.
"Pur, tolong bantu aku."
Faiq menjelaskan keadaanya, memohon supaya Pura mau membantu. Dia tak masalah menghabiskan uang berapapun. Satu hal yang pasti, dia tidak mau membuat Myesha kecewa.
Setelah mendesak Pura, akhirnya mereka mendapat kesepakatan. Kue pesanan orang akan Pura berikan kepada Faiq. Hanya perlu ditambahi ucapan selamat atas nama Myesha dan hiasan seperti keinginan Faiq.
Satu masalah telah selesai, Faiq melangkah menuju toko. Sebenarnya dia ingin membelikan kalung ataupun perhiasan. Akan tetapi ini sudah jam setengah 9 malam. Semua toko perhiasan sudah tutup.
Banyak netizen yang merekomendasikan lingeria, mereka lupa bahwa Myesha sudah punya. Kado dari ibu mertua. Hanya saja perempuan itu memang lebih suka memakai daster yang mudah dicuci dan cocok dipakai sehari hari dari pada lingeria yang bisa menyebabkan masuk angin.
Tas branded, itu tidak berguna. Myesha jarang keluar rumah. Paling hanya ke pasar pagi membeli sayuran. Untuk apa memakai tas branded?
Bunga? Cepat layu. Tak berkesan. Alat make up? Myesha juga sudah punya. Jalan-jalan keluar negeri untuk honey moon? Faiq tidak memiliki uang!
Ah! Faiq tidak bisa berpikir dengan benar. Dia tidak tahu harus membelikan apa!
Semua pernak pernik terjejer rapi. Dari mulai novel, alat tulis, boneka, tas mungil, sampai gantungan kunci.
"Ayo pikir, apa yang paling dibutuhkan Myesha? Apa yang dia sukai?"
Faiq berjalan menyusuri seisi toko. Mencari sesuatu yang sederhana tapi bermakna. Matanya tertuju ke album foto. Cukup besar dan tebal.
Ia segera membawanya ke kasir. Meminta supaya dimasukkan ke dalam bungkus kado. Tak lupa menuliskan kalimat romantis yang dia pelajari dari Sella.
"Berapa harganya?" tanya Faiq.
"80 ribu, Mas."
Faiq segera membayar. Ia melihat jam tangan. Sudah pukul 9 malam. Ia harus bergegas ke tempat Pura.
Kado telah di tangan. Faiq memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju Lampung Tengah. Berbatasan dengan Metro.
Ia menghubungi Myesha, takut kalau wanita itu khawatir dengannya.
"Hallo, Mas? Masih lama nggak?"
"Ini masih di jalan, agak jauh."
Di sebrang sana Myesha sedang menata kembang api yang dia beli di pasar pagi. Yuno masih asik di kereta bayi melihat kesibukan Myesha yang mondar mandir.
"Cepat ya, aku tunggu."
"Iya, sayang."
Telpon ditutup. Pukul setengah sepuluh Faiq sampai di tempat Pura. Kue pesanan Faiq sudah selesai. Lebih tepatnya pesanan orang yang direbut Faiq.
250 ribu, setara dengan hasilnya yang membuat Faiq puas. Dia berterimakasih kepada Pura sebelum berpamitan. Tak ingin melewati jalan yang sama Faiq putuskan untuk memakai jalan terobosan.
Jalan sempit yang kanan dan kirinya hanya ada sawah, kebun karet, kebun singkong dan kebun pisang. Jalan ini biasa dilewati motor dan gerobak. Sangat sempit.
"Nggak mungkin ada setan lewat, 'kan?" gumamnya. Merinding.
Hingga di depan kebun pisang ada mobil yang menghalangi jalan. Mobil berwarna hitam dengan bagasi belakang yang terbuka.
Faiq tak bisa melewatinya. Jika memaksa mobilnya bisa terjerembab ke dalam sawah. Ia putuskan untuk turun untuk menemui si pemilik mobil.
Tak ada orang, ia menoleh ke kanan dan kiri. Di sini sangat sepi, pemiliknya ke mana? Faiq putuskan untuk mengambil ponselnya di dalam mobil dan mematikan mesin.
Ia melihat cahaya di dalam kebun pisang, dengan berbekal senter ponsel pemuda itu mencoba menemui si pemilik mobil yang kini berada di dalam kebun.
Cukup pelan dia berjalan masuk ke dalam kebun. Langkahnya terhenti ketika mengenali suara orang yang sedang sibuk menggali. Ada dua pria di sana. Sedang menggali tanah. Salah satunya dia kenal. Itu Andre!
"Apa yang dia lakukan?" gumam Faiq.
Ia berjalan lambat dan mengintip. Apa yang sedang dikerjakan mereka? Mata Faiq mengamati sekitar. Ada tubuh tergeletak tak jauh dari dua pria itu.
Faiq terkejut bukan main, seorang pria berbadan besar dengan darah mengucur dari leher ada di sana. Kini Faiq tahu bahwa mereka bukan mencari harta karun melainkan sedang menguburkan mayat.
"Tua bangka ini harusnya diet sebelum mati, kita jadi susah nguburnya, sial!" Gerutu Andre. Dia mengelap keringat yang menetes dari pelipis.
"Apa kita mutilasi dulu biar enak nguburnya?" tanya pria berbaju biru.
"Bawa golok nggak?"
Pria berbaju biru itu menggeleng. Segera dipukul oleh Andre tepat di kepala.
"Kamu mau mutilasi orang pake gigi? Hah!"
"Gigi ku sakit, kata Dokter Faiq minggu depan harus dicabut. Nggak bisa buat mutilasi orang."
Andre menampol kepala pria itu lagi. Badannya yang kecil terhuyung ke depan.
"Jangan sebut orang breng sek itu. Setelah mengubur ini target selanjutnya si Faiq," ucap Andre. Sembari mengelap keringat.
"Berarti harus ngubur seperti lagi. Jadi orang jahat ternyata capek ya," sahut pria itu. Masih menggali dengan cangkul.
Selama waktu itu Faiq tak tinggal diam. Dia video call dengan Detektif Dito, memperlihatkan perbuatan dua mahluk jahat yang sedang kesusahan menggali tanah.
Kini Faiq paham kenapa rumah Pak Burhan menjadi incaran kepolisian. Ternyata Andre adalah seorang pembunuh berantai!
"Sudah puas melihat semuanya?"
Faiq menoleh ke belakang, mendapati pria separuh baya yang dia kenali.
"Pa-pak Burhan?"
Tubuh Faiq bergetar bukan karena lapar, jantungnya berdetak cepat bukan karena jatuh cinta, dia menjatuhkan ponselnya.
.
.
.
Bersambung
kalo masuk 5 besar ntar malam up lagi, mumpung hari ini gk banyak kerjaan. Sekali kali gitu ngrasain rank atas.
(╥﹏╥)