
Myesha memakai dalaman, kemudian handuk. Dia akan memakai baju di kamar. Ia juga memasang handuk di kepalanya, menghalau tetesan air jatuh ke lantai. Sementara itu Faiq baru selesai membilas diri dan mengelap badannya. Kini dia juga memakai handuk.
Myesha keluar lebih dulu. Baru beberapa langkah disusul Faiq, mata mereka bertemu dengan ibu Faiq nomor 3 yang baru masuk ke lantai atas.
Seketika itu Myesha mengalihkan padangannya, malu. Ketahuan mandi berdua. Kapan mereka datang? Kenapa suara mobilnya tak terdengar sama sekali? Dua pertanyaan yang secara bersamaan terlintas di pikiran pasangan itu.
"Faiq! Udah dibilangin jangan minta jatah! Myesha itu lagi sakit, ditinggal bentar udah merajalela ya kamu." Ibu berjalan cepat dan memukul Faiq dengan keras berulang kali.
Pria itu mengaduh kesakitan, "cuma mandi bareng. Kita nggak anu anu kok." Masih mencoba membela diri.
Ibu melihat ke arah Myesha, banyak tato di kulit yang tak tertutupi handuk. Kemudian memukul Faiq dengan keras lagi. Tak percaya dengan omongan anak tirinya.
"Sekarang kamu berani bohong ya, kamu mau jadi malin kundang?"
"Astagfirullah, Bu. Jangan bicara sembarang. Istigfar."
Sementara itu Myesha yang dirundung rasa malu berlari ke kamarnya, menutup pintu dan segera mengambil baju. Ia memejamkan mata. Malu, sangat sangat malu.
Dia tidak tahu bahwa mandi bersama bisa berujung seperti itu. Dia juga hilang kendali dan menuruti instingnya. Sekarang, untuk bertemu Faiq juga sangat malu.
Siang itu, orang tua Faiq kembali ke Lampung Timur. Meninggalkan berbagai kebutuhan bayi untuk Yuno begitu banyak.
Sembari menggendong Yuno, Myesha menyalakan komputernya. Mengirim file berisikan episode terakhir dari komik Yusha Sang Pangeran. Sangat cepat, tak lebih dari sepuluh menit. Myesha tak ingin Yuno terpapar sinar monitor.
"Komikmu udah dikirim?" tanya Faiq yang baru naik ke lantai atas.
Myesha mematikan komputer setelah yakin bahwa filenya sudah dikirim ke Erika, editornya.
"Sudah."
Gadis itu berdiri, pura-pura menimang Yuno padahal bayi itu anteng dan bahkan tersenyum dengan pipi gembulnya. "Aaa ...." Myesha membuka mulutnya. "Emmm..." kemudian menutupnya. Hal itu selalu membuat Yuno tertawa. "Kyaa ..." Hanya suara yang tak jelas yang datang dari Yuno.
Jari bayi mungil itu mencoba meraih Myesha, gadis itu mendekatkan wajahnya supaya mampu diraih Yuno. Bayi itu tertawa senang.
Faiq yang melihat dari kejauhan kini mendekat. Ingin bercanda dengan Yuno juga. Tetapi Myesha mengabaikannya dan buru-buru turun. Gadis itu belum bisa berhadapan dengan Faiq setelah kejadian di kamar mandi. Malu.
Sejak saat itu Myesha selalu menghindar, tak berani berlama-lama bicara dengan Faiq.
"Sha, kaos kakiku di mana?" tanya Faiq ketika tak menemukan kaos kakinya.
"Nggak tahu."
Sikap Myesha semakin aneh di mata Faiq. Tak seperti biasanya. Padahal Myesha yang mengurus semua keperluannya.
"Aku berangkat kerja dulu, sini cium." Faiq melambai supaya Myesha yang menggendong Yuno mendekat. Kebiasaan Faiq yang baru, setiap ingin keluar rumah dia selalu menyempatkan diri mencium Yuno.
Tiba-tiba Myesha mencium Yuno, "udah aku wakilin. Cepet berangkat sana."
"Apa kamu iri karena nggak aku cium?" tanya Faiq.
Myesha menggeleng. "Nggak."
"Apa kamu marah karena kemaren kita nggak jadi anu-anu?" tanya Faiq lagi. Ingin menemukan titik masalah karena sikap aneh Myesha.
"Iih ... nggak!" Jawab Myesha dengan keras. Dia semakin malu. Mengingat kejadian kemarin lagi. Di kamar mandi. Ah, semua terbayang lagi.
"Kayaknya jawabannya iya, kalau gitu ntar malem ya." Faiq tersenyum sembari mengusap rambut Myesha dengan cepat.
"Aku bilang nggak!"
Kalimat Myesha tak dipedulikan. Faiq berjalan keluar rumah. "Assalamualaikum, sabar ya sayang, nanti malam aku milikmu."
Dengan usilnya kedua tangan Faiq menunjuk Myesha dengan bentuk pistol dan kedipan sebelah mata.
"Nggak lo ... bukan itu maksudku." Kata Myesha, tetapi Faiq sudah pergi. "Waalaikumsalam."
Ah, sekarang Myesha semakin malu. Sikapnya yang menghindar malah disalah artikan sebagai marah. Padahal, dia hanya membutuhkan waktu untuk sendiri.
"Ntar malem kayak waktu itu lagi? Aduh aku malu!"
Bayangan kamar mandi masih terus terngiang. Bahkan Yuno yang berada di gendongan Myesha melihatnya heran.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk, Myesha tak bisa menebak siapa itu. Dia segera membukanya.
"Andre?" Myesha menyebutkan nama anak Pak Burhan itu.
"Apa aku boleh masuk? Suamimu sudah pergi, 'kan?"
Pria berusia setara dengan Faiq itu dengan lancang masuk ke dalam rumah, seperti sengaja menunggu Faiq pergi dan menyisakan Myesha sendirian.
.
.
.
.
Bersambung
Percayalah gengs, aku bertahan di sini cuma karena kalian menghargai aku. Walaupun apk ini nyebelin banget, selama aku punya kalian aku bakal bertahan 😭