
Lamunan wanita itu buyar ketika Yuno yang kelamparan menangis kencang. Apalagi mangkok yang berada di depan bayi itu tumpah. Mengotori pipi gembulnya dan baju abu-abu yang dikenakan. Beberapa cipratan bubur juga mengenai lantai.
"Ya ampun maafin Bunda."
Myesha segera mengangkat Yuno, membersihkan wajah bayi itu menggunakan tissu basah. Berusaha menenangkan bayi yang tengah menangis dengan menimangnya. Pikirannya kalut, semua yang dikerjakan terasa tidak benar setelah menerima pesan itu.
Ayahnya sakit ginjal, padahal beberapa bulan lalu terlihat baik-baik saja tanpa ada masalah. bahkan sangat sehat ketika menerima banyak uang hasil sumbangan di hari pernikahannya. kenapa bisa tiba-tiba sakit ginjal? Apakah mungkin ayahnya terkena azab? Mungkin Ayahnya mendapat peringatan dari Allah karena telah menelantarkan dia, ntah kenapa Myesha berharap seperti itu.
Suara pintu diketuk, Myesha segera keluar dan membuka pintu. Menduga bahwa itu Faiq yang tertinggal sesuatu. Dia meletakkan Yuno di karpet setelah bayi itu dirasa kenyang.
Tanpa diduga yang berdiri di depan rumah adalah Nindy istri Riki, ia menggendong bayi perempuan yang seumuran dengan Yuno.
"Assalamualaikum," sapanya.
"Waalaikumsalam, ada apa Nindy?" jawab Myesha, merasa aneh dengan Nindy yang tiba-tiba ke rumahnya.
"Mbak, bisa minta tolong bentar nggak?"
Tentu, hampir semua orang yang datang padanya pasti karena butuh. Tidak mungkin seorang Nindy yang mata duitan seperti Riki datang ke rumahnya dengan maksud memberi sebongkah berlian.
"Minta tolong apa? Masuk dulu." Mata Myesha mengamati luar rumah, langit mendung dengan gumpalan awan hitam. Angin juga berembus kencang menerbangkan dedaunan kering, halaman rumahnya kotor lagi.
Myesha mempersilakan masuk tetangganya itu. Nindy meletakkan bayi perempuan di karpet merah tempat Yuno sekarang berada. Yuno yang baru saja selesai makan dan kini bermain kerincingan tanpaknya mulai terganggu dengan teman barunya yang berusaha meraih mainan miliknya.
"Aku mau ke toko bentar, tapi nggak ada yang jaga Yuri. Aku nitip bentar Yuri di sini, ya?"
Dalam hati Myesha mengumpat, tetangga yang menyebalkan mulai kembali setelah Andre dihukum mati. Mengenai Andre setelah sidang yang panjang akhirnya dia ditetapkan sebagai tersangka utama dan mendapatkan vonis hukuman mati. Sedangkan Pak Burhan akan di penjara sumur hidup.
"Beneran bentar?"
Myesha meragukan ucapan Nindy, beberapa waktu lalu dia juga pernah menitipkan Yuri padanya. Bilang ada urusan sebentar bertemu dengan teman dan ternyata malah pergi bersama teman nonton film di bioskop. Seketika Myesha yang kewalahan menjaga dua bayi terkena darah tinggi karena menahan emosi.
"Bener, sumpah."
Nindy menunjukkan jari V, pertanda bahwa kali ini dia serius.
"Kalau lama anakmu aku buang, loh."
"Ya ampun, Mbak. Bercanda aja. Kita kan tetangga yang saling tolong menolong."
Mendengar itu Myesha ingin muntah pelangi, pasalnya semenjak Nindy dan Riki pindah di samping rumahnya. Gosip tentang dia beredar. Tentang Myesha yang jarang menyapu halaman rumah, ngutang pulsa, tidak merawat diri, sering dikunjungi pria dan lain sebagainya. Sumber dari segala fitnes itu adalah warung Nindy dan Nindy menjadi made in gosip kelurahan ini.
"Dia rewang dari pagi, tugas di bagian parkir."
"Ya sudah, beneran jangan lama-lama loh, ya?"
Nindy mengangguk, kemudian menaruh barang perlengkapan bayi milik Yuri di meja yang tak jauh dari aquarium. Ada Cucut di sana sedang bersantai ria layaknya dunia dia yang punya.
Nindy melihat foto keluarga yang baru dicetak beberapa minggu lalu. Tepat di samping aquarium. Ada foto Myesha, Faiq dan Yuno memakai seragam baju batik berwarna kuning.
"Sekarang kalian jadi keluarga beneran, nggak nyangka aku," kata Nindy sembari meletakkan bingkai foto kembali ke tampatnya.
Myesha yang baru saja memisahkan Yuno dan Yuri yang sedang berebut kincringan menoleh ke arah Nindy, mereka saling pandang sejenak sebelum Myesha kembali mencari mainan lain untuk dua bayi yang berebut itu.
"Apa kau kenal dengan orang tua kandung Yuno?" tanya Myesha, tanpa melihat ke arah Nindy yang mendekat.
Wanita itu menggeleng dan menjawab, "aku nggak pernah kenal, kalau mbak pingin tahu tentang ibu kandung Yuno. Mbak bisa tanya ke Bu RT dan suster Halima. Kata Riki mereka yang membantu proses persalinannya."
Tak ingin terpancing dengan mulut Nindy yang sering menjadi made in mulut gosip yang belum tentu benar, Myesha hanya tersenyum. "Makasih infonya."
"Aku pergi dulu," ucap Nindy sebelum berjalan cepat meninggalkan rumah.
Secara bergantian Myesha melihat Yuno dan Yuriel, dua bayi itu saling memukulkan kincringan dengan mulut yang mengoceh seperti berdebat. Memang, penyelidikan tentang Yuno beberapa waktu ini terhenti. Apalagi detektfi Dito tidak lagi membantu karena kasus Andre sudah selesai.
"Bu RT ya ... agak ragu mau nemuin orang itu lagi," gumamnya.
Akan tetapi jika dia tidak secepatnya memiliki hak asuh Yuno, seperti yang dikhawatirkan mereka. Yuno bisa diambil kapan saja oleh orang tua kandungnya.
Hal yang tidak bisa Myesha terima, Yuno berharga, bayi itu anaknya dan keluarganya. Pernah kehilangan Yuno sekali rasanya seperti kehilangan dunia. Tidak bisa dibiarkan bayi itu lepas lagi.
Sementara itu Yuno dan Yuriel saling memukulkan kerincingan, mereka berdebat dengan bahasa kalbu. Myesha tersenyum melihatnya.
"Jangan saling pukul."
Myesha mengusap rambut dua bayi itu bergantian, membayangkan mereka akan tumbuh sebagai sahabat dan memakai baju sekolah yang sama di kemudian hari. Satu harapan Myesha, semoga Yuno akan terus bersamanya sampai hari tua.
.
.
bersambung.