Unknown Baby

Unknown Baby
Uang


Sejak tadi pagi Faiq menekuk wajahnya, perasaannya hari ini sungguh sangat buruk. Apalagi ketika Myesha mandi dan berdandan. Padahal Faiq sudah memberikan berbagai alasan dari harus memberesi rumah sebelum pergi, memandikan Yuno dan lain sebagainya untuk menunda.


"Kalau Yuno rewel ajak aja Tina ke sini. Dia bisa ngurus Yuno," ucap Myesha sembari menyisir rambutnya. Hari ini dia menggerai rambut sepunggung itu.


"Habis ditolak kamu jangan mampir dan langsung pulang ya," ucap Faiq. Dia melipat tangan di depan dada.


Myesha menoleh ke belakang, ia menaikkan bibirnya kesal. "Yakin banget sih aku bakal ditolak."


"Selama kamu jujur sudah pasti bakal ditolak, kecuali dia cowok nggak bener yang jadi pebinor."


Pebinor? Hanya satu harapan Faiq saat ini, Dhamar adalah orang baik. Tetapi jika Dhamar benar pebinor, sepertinya Faiq akan belajar ilmu santet untuk menghabisi Dhamar. Atau mungkin dia akan memaksa Myesha hamil anaknya apapun yang terjadi. Ada hal ditakutkan Faiq, yakni Dhamar dan Myesha kawin lari. Bagaimana jika itu terjadi? Dia akan jadi duda satu anak tapi ularnya belum pernah digunakan alias masih perjaka!


"Iya iya, nggak usah khawatir. Yang penting hari ini aku harus ngungkapin perasaanku. Biar lega."


Myesha mengambil tasnya, mengisi tas itu dengan bedak, ponsel, dompet, lipstik, kaca. Kemudian berjalan menghampiri Faiq. Ia mengulurkan tangan, Faiq menyambutnya.


"Bukan salim tapi aku minta duit buat ongkos," ucap Myesha.


Kali ini Faiq yang meninggikan sebelah bibirnya, kesal. Kemudian mengambil dompet.


"Astagfirullah, Sha. Ada ya istri kayak kamu. Mau ketemuan sama cowok tapi minta ongkosnya ke suami."


Faiq memberikan uang 50 ribu dengan tepukan keras ke tangan Myesha.


"Nggak usah drama deh, Mas. Orang kita juga cuma suami istri jadi-jadian. Tambahin duitnya, ini kurang."


Myesha membuka uang 50 ribu berwarna biru itu. Hanya selembar. Untuk beli bensin ke Bandar Lampung aja kurang.


"Jangan boros, minta dia yang bayar makan jangan kamu. Terus pulangnya minta ongkos ke dia juga, sekalian juga minta beliin oleh-oleh." Faiq mengatakan itu sembari memberikan uang seratus ribu.


Myesha menerima uang itu dan mengabaikan ocehan Faiq. Suasana hati pria itu sedang buruk dan terus mengomel sejak semalam. Myesha tak ingin menanggapi karena pasti akan semakin panjang.


"Udah lah aku pergi dulu, urus Yuno baik-baik. Assalamualaikum." Myesha keluar meninggalkan kamar.


"Waalaikumsalam," jawab Faiq.


Kini, di kamar itu hanya ada dirinya dan Yuno yang tengah tertidur. Sementara Myesha meraih helm yang ada di atas rak sepatu dan mengambil sepatu. Hatinya senang sekaligus berdebar. Sudah lama tidak bertemu Dhamar. 


Gadis itu menuju garasi, mengambil motor matic berwarna pink yang dia beli nyicil dua tahun lalu. Tak lama setelah mendapat rumah Faiq sebagai kosan. Ia mengendarainya menuju jalan dua jalur yang langsung menuju ke Bandar Lampung.


"Kak Dhamar aku akan menemuimu," ucap Myesha memacu motornya semakin kencang.


Di jalan dua jalur ternyata sedang ada razia, banyak polisi yang berjaga. Myesha sempat mendengar bahwa ada mayat perempuan yang ditemukan di sekitar lokasi. Setelah memperlihatkan SIM dan STNK motor, polisi membiarkannya melanjutkan perjalanan.


Perjalanan memakan waktu satu jam lebih, Myesha segera menuju tempat janjiannya. Rumah makan yang tak jauh dari kampus UNILA. Kampusnya dulu.


Di sana dia menunggu Dhamar dengan jantung berdebar. Katanya, Dhamar akan sedikit terlambat karena diare. Myesha bisa menunggu.


"Mbak Myesha ngapain di sini?"


Mendengar namanya disebut membuat Myesha menoleh, "Nara?"


Itu adalah adik iparnya. Harus jawab apa? Ketemuan sama cowok untuk mengungkapkan perasaan? Tidak mungkin dia mengatakan hal tersebut. Myesha terdiam sejenak dan berpikir.


"Nemuin temen, ada kepentingan. Kalau kamu sendiri?"


"Aku habis makan, tapi lupa nggak bawa uang. Mbak, pinjem 50 ribu ya, besok aku main ke Metro bakal aku ganti."


Akhirnya uang dari Faiq diberikan ke Nara. Tak apa, pasti nanti yang bayar makan adalah Dhamar.


"Ini." Myesha memberikan uang 50 ribu.


"Makasih, Mbak. Aku duluan."


Ternyata Nara menghampiri bukan karena kepo melainkan hanya ingin meminjam uang. Myesha mendesah. Faiq memberinya 150 ribu, uangnya sendiri ada 100 ribu. Diminta Nara 50 ribu, untuk beli bensin tadi 20 ribu. Sekarang sisa 180 ribu dan beberapa recehan.


Jika nanti mendesak sepertinya dia akan meminta uang ke Dhamar, ah kini Myesha ingat bahwa Dhamar itu tidak pernah memberinya apapun. Bahkan, malah Myesha yang sering mentraktirnya semasa mereka SMA dan kuliah dulu.


"Myesha, apa kabar?" Pria bertubuh tinggi dengan tahi lalat di bawah bibir tersenyum hangat padanya.


"Kak Dhamar, aku baik."


Benar, dulu kan Dhamar belum bekerja jadi wajar seperti itu. Sekarang Dhamar telah menjadi ajudan DPR RI.


.


.


.


bersambung


Dukung Mas Faiq lewat vote. Kasihan dia.