
kertas itu dibuka sementara amplopnya Myesha yang pegang, mereka bersama-sama membaca tulisan yang tak lebih cantik dari hiasan ceker ayam di tanah.
Untuk orang yang menemukan bayi ini.
Dengan cinta yang tulus dan linangan air mata, saya memberikan bayi ini kepada kalian.
Tolong beri makan 3x sehari, sekolahkan sampai kuliah dan temani waktu menikah. Cintai bayi ini seperti saya mencintainya sewaktu masih di kandungan. Jujur saya tidak bisa merawatnya karena masalah ini itu dan lain sebagainya.
Nama bayi ini adalah Claude De Alger Obelia, berharap dengan namanya tersebut dia tumbuh dengan tampan dan kuat. Atau setidaknya bisa isekai.
Terima kasih.
Begitulah isi suratnya. Myesha mengerutkan kening. Kemudian saling pandang dengan Faiq.
"Sepertinya orang tua kandung Yuno korban komik sebelah," ucap Myesha.
"Iya, ngasih nama Papa Claude. Lengkap pula. Trus nyuruh kita ngrawat Yuno tapi nggak ngasih duit. Dasar buat anak cuma modal rahim anget." Faiq menambahi.
"Gimana nih, kayaknya nggak ada petunjuk apapun."
"Ada, kita bisa serahkan surat ini ke detektif Dito untuk sidik jari."
"Tapi surat ini sudah lama di tangan Riki. Apa masih bisa? Kita juga nggak tau apa motif Riki nyembunyiin surat ini."
Faiq mengangkat bahu, dia juga tak tahu tetapi setidaknya dicoba dulu. Toh tidak ada salahnya. Surat ini satu-satunya petunjuk yang mereka pegang. Faiq melipatnya kemudian ditaruh di kantung. Ia mengembuskan napas berat.
Langit dengan awan yang disorot mentari berwarna jingga. Udara sore yang sejuk dengan rindangnya pohon di samping jalan raya.
Faiq mengalihkan pandangan ke Yuno. Mengusap pipi gembul bayi itu. Malangnya. Alasan membuang Yuno sama sekali tidak bisa Faiq terima.
"Soal nama, apa kita ganti jadi Claude De Alger Obelia seperti keinginan orang tua kandungnya?" tanya Myesha.
"Nggaklah, jangan. Malu, toh kita yang merawat bayi ini bukan mereka. Orang tua kandung Yuno nggak ada hak sama sekali buat ngasih nama."
"Iya aku juga nggak mau nama Yuno berubah."
"Yaudah ayo pulang." Ajak Faiq.
"Nanti, mumpung di sini aku pingin liat jembatan." Myesha menunjuk jembatan cantik yang tak jauh dari mereka.
"Yaudah tapi jangan lama-lama."
Myesha mengembuskan napas berat mengingat betapa sulitnya mencari orang tua kandung Yuno, dia berjalan ke jembatan. Diikuti Faiq yang mengerti bahwa Myesha ingin berjalan-jalan untuk menyegarkan pikiran.
Jembatan gantung dengan cat warna-warni, air yang mengalir sedang. Myesha melangkahkan kakinya menapaki jembatan itu, ia melihat ke bawah. Sangat tinggi.
Sementara Faiq berhenti di depan jembatan. Tak mengikuti Myesha lagi.
"Mas, bisa berenang nggak?" tanya Myesha.
"Bisa, kenapa?"
"Kalau seumpaman aku sama Yuno jatuh dari sini. Dan Mas cuma bisa nolong salah satu. Mas pilih siapa?" tanya Myesha lagi.
Mendengar itu Myesha menyipitkan matanya.
"So sweet sih tapi kok sebel ya."
Faiq mendekat, mengusap rambut Myesha yang tertiup angin. Lembut dan cantik.
"Aku nggak bisa hidup tanpamu, Sha." Kata Faiq dengan nada lembut.
Pandangan Yuno melihat ke ayah angkatnya, mungkin dia sedang mempelajari cara meluluhkan hati wanita.
"Dih, bushit. Tadi pagi aja bilang aku culun dan buluk."
Lagi-lagi membahas masalah itu. Seperti pahlawan, kesalahannya akan selalu dikenang. Sial.
Tin Tin Tin
Suara motor di belakang Faiq. Seorang bapak-bapak membawa rumput. Mereka segera menyingkir dari sana.
"Pulang yuk." Ajak Faiq.
Hanya dibalas anggukan oleh Myesha. Selama perjalanan mereka diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Myesha mendekap kuat Yuno. Ingin sekali bicara kepada Faiq supaya berhenti saja mencari orang tua kandung bayi itu.
Toh, orang tua kandung Yuno sudah menyerahkan Yuno kepada mereka. Dan mereka kini menganggap bayi itu seperti anak sendiri. Jadi untuk apa diteruskan?
Tetapi sampai malam Myesha masih bungkam. Ia begitu menyayangi Yuno, sungguh tak bisa melepaskannya. Selama ini dia menganggap Yuno bagian terpenting dalam keluarga kecilnya.
Setelah solat isya Myesha menidurkan Yuno di kasur bukan di box bayi. Ia menyanyikan lagu nina bobo untuk Yuno. Setelah membaca surat asli tadi, perasaannya menjadi gelisah seakan bayi itu bisa diambil kapan saja darinya. Tak rela, dia tak mau.
Faiq masuk ke kamar, berbaring di samping Yuno. Tangannya menyangga kepala.
"Kata detektif Dito dia akan mengusahakan mencari petunjuk lewat surat itu." Faiq mengawali pembicaraan. Menyampaikan isi pembicaraan dengan detektif Dito yang baru saja selesai.
"Mas, bisa nggak kita berhenti mencari orang tua kandung Yuno? Biarkan dia jadi anak kita seutuhnya."
Myesha mengatakan itu tanpa menatap mata Faiq sama sekali, ia malah melingkarkan tangannya ke Yuno. Seolah bayi itu akan diambil darinya.
.
.
.
.
bersambung
Jangan lupa hargai aku lewat like, komen dan vote ya
(╥﹏╥)