
Dulu, Faiq pikir tidak akan pernah memiliki perasaan apapun kepada penyewa lantai dua rumahnya. Gadis culun yang waktu itu baru lulus kuliah, terlihat malu-malu dan sungkan. Faiq bersimpati karena dia mencari kosan ke banyak tempat dengan berjalan kaki.
"Kalau ngekos di sini dilarang brisik, harus nyapu halaman dan nggak boleh buat kotor garasi."
Itu adalah peringatan dari Faiq dua tahun lalu, Myesha tersenyum lebar karena akhirnya menemukan kosan yang cocok.
Berbeda dengan kosan sempit tempat dia semasa sekolah, tinggal di rumah Faiq lebih manusiawi. Jauh dari berisik karena sang pemilik rumah adalah seorang dokter yang tenang.
Lantai dua juga luas, dia bisa memakainya untuk dapur, ranjang, lemari, meja kerja, dan ada kamar mandi di dalam. Menjemur pakaian juga bisa di balkon, jendelanya langsung menuju ke samping.
"Iya siap, Pak Dokter."
Myesha mengelap keringat di pelipisnya, sangat lelah karena berjalan jauh. Selama beberapa hari Myesha berkeliling mencari kosan di Metro, selama SMP, SMA, hingga kuliah dia ngekos di Bandar Lampung. Dia tertarik dengan Kota Metro sejak mengikuti lomba menggambar tingkat kota yang diselenggarakan di sini. Setelah lulus kuliah dia memang ingin hidup di kota yang tak terlalu padat seperti bandar lampung.
"Panggil Abang atau Mas. Kamu bukan pasienku jadi jangan panggil Pak."
"Eh iya, Mas."
"Mau lihat tempatnya dulu nggak?" tawar Faiq.
"Iya kalau boleh."
"Tentu boleh, 'kan kamu mau nyewa."
"Hehe iya,"
Faiq berdiri, ia berjalan ke tangga yang menuju lantai dua rumahnya. Selama ini lantai dia hanya dijadikan gudang. Tak terurus, dia hanya tinggal sendiri. Terlalu repot di membersihan banyak ruangan sementara lantai satu sudah cukup untuknya.
"Nanti pintu ini saya gembok, jadi kamu bisa pakai tangga samping rumah buat ke lantai dua. Jadi nggak perlu masuk lewat lantai satu." Faiq menjelaskan.
Myesha mengikuti ke lantai dua, melihat sekeliling dan ternyata Faiq memang orang yang rajin dan rapi. Ia merasa tempat ini sangat cocok untuknya. Tenang dan jauh dari keramaian. Selama menjalankan peraturan yang diajukan Faiq maka tidak akan ada masalah apapun.
Lalu pria itu membuka jendela, membiarkan udara masuk. Lantai dua ini hanya diisi kardus dan barang yang tidak terpakai, Faiq akan memindahkannya besok dan menjual ke rongsokan.
"Kamar mandinya di sana, airnya masih ngalir tapi banyak debu tinggal kamu bersihkan saja."
Faiq menunjuk sisi kiri, ada pintu di sana. Luas tempat ini setengahnya luas lantai satu.
"Aku suka tempat ini, apa besok udah bisa pindah?" tanya Myesha merasa sangat suka dengan kosan barunya.
"Besok aku ada urusan di luar , jadi belum sempat beresin barang-barang ini. Minggu depan aja kamu pindah."
Wajah Myesha terlihat murung mendengar jawaban itu, berarti dia harus kembali ke Bandar Lampung dan tinggal di sana selama seminggu lagi.
"Yaudah nggak papa, Mas. Uang mukanya aku kasih sekalian minggu depan ya?"
"Iya, sekalian surat kontraknya jadi."
Hari itu adalah pertamuan pertama Myesha dan Faiq, tak ada yang spesial. Hari sabtu sore yang biasa. Sama sekali tak terlintas di benak mereka bahwa hubungan antara pemilik rumah dan penyewa akan sampai di jenjang pernikahan kilat. Apalagi sampai memiliki bayi.
.
.
.
bersambung.
Jangan lupa like!