Unknown Baby

Unknown Baby
Harapan


Langit cerah dengan beberapa awan yang menghalangi cahaya matahari. Udara panas menjadi pelengkap warga Jakarta. Rambut gadis kecil itu sedikit berkibar diterpa hembusan angin. Menghalangi panas matahari yang tadi menyinari Yuno.


Tatapannya kosong dengan senyum ramah, gadis kecil itu melihat ke depan tanpa mengetahui suara tangisan yang tadi dia dengar berada di sampingnya, duduk di lantai dengan punggung bersandar dan kepala mendongak menatap dia heran.


"Kamu nggak bakal bisa nganterin aku ke rumah." Yuno menghapus air matanya.


Gadis kecil itu mendengar suara Yuno, memastikan letak bocah yang tadi menangis itu. Si gadis kecil mendekat, dia duduk di samping Yuno. Berjongkok hingga roknya mengenai lantai.


"Kenapa? Apa kamu pikir orang buta nggak bisa ngelakuin apapun?" tanyanya.


Yuno menghapus ingus yang meler, dia menoleh dan melihat gadis kecil tanpa sorot mata itu. Heran, bagaimana bisa gadis kecil yang buta berani menawarinya untuk mengantarkan pulang?


"Rumahku jauh. Kamu nggak bakal bisa nganter."


"Kamu kangen keluargamu?"


"Iya."


"Sama, sejak lahir aku juga pingin liat keluargaku. Walaupun mereka dekat tapi aku nggak bisa lihat mereka."


"Tapi seenggaknya mereka ada di samping kamu." Yuno berkedip beberapa kali. Tangisannya sepenuhnya berhenti.


"Iya, tapi aku lagi usaha biar bisa ngeliat mereka. Hari ini aku bakal diobati lagi, rasanya pasti sakit banget kayak waktu itu. Tapi aku bakal berjuang buat sembuh, biar bisa ngeliat wajah Mama sama Papa."


Anak ini tidak jauh beda dengannya, sekarang Yuno juga sedang berjuang supaya bisa melihat keluarganya lagi. Dia mengeluarkan name tag dari saku bajunya. Melihat nama yang terukir di sana 'Yuno Putra Alamsyah'. Dia tersenyum kecil.


"Kalau udah bisa ngeliat kamu mau ngapain?"


"Aku bakal masakin Mama sama Papa makanan yang enak."


Perut Yuno berbunyi, dua hari tidak makan dan tadi hanya makan roti kering. Mendengar kata makanan dia menjadi sangat lapar.


"Nanti aku juga bakal buatin makanan buat kamu juga, deh." Kata gadis itu, rupanya sadar kalau Yuno kelaparan.


"Janji ya nanti kalau kamu udah bisa liat buatin aku makanan."


Gadis kecil itu mengangguk dua kali. Seperti mendapatkan kekuatan, Yuno akan berusaha untuk menjadi kuat. Demi memberikan kebahagiaan untuk keluarganya.


"Aku juga bakal berjuang buat keluargaku."


Mendengar itu gadis kecil menelengkan kepala, tidak mengerti arti ucapan Yuno. Kemudian tangan yang memegang tongkat Yuno pegang, membukanya. Dia menaruh name tag di sana. Nama yang dia gunakan selama 12 tahun.


"Apa ini?" tanya si gadis buta.


"Itu diriku yang dulu, diriku yang sekarang bakal jadi lebih kuat."


"Terus kenapa dikasih ke aku?"


"Buat pengingat kalau kamu punya janji buatin aku makanan, jadi berjuanglah buat sembuh biar bisa nempatin janji."


Yuno berdiri, berjalan meninggalkan si gadis buta dan name tag nya. Melangkah menuju menjadi orang yang lebih kuat. Ternyata Elja sudah menunggunya di lobi. Hari ini Yuno harus mengurus beberapa hal sebelum berangkat ke Amerika.


Si gadis buta yang ditinggal Yuno mengantongi benda yang dia tahu apa itu. Dia hanya bisa meraba tanpa bisa menebak.


"Iya, Pa."


Dengan bantuan tongkat, gadis kecil itu menuju parkiran. Mobil tua papanya di sana, siap mengantar ke rumah sakit. Hari ini dia berjanji untuk lebih semangat demi sembuh.


Sementara itu, di pulau lain. Melewati selat Sunda. Sebuah keluarga tampak bahagia setelah menerima telpon. Anak mereka baik-baik saja.


Myesha merasa lega hingga menitikan air mata, dia berpelukan dengan Faiq. Bahagia karena sudah mendengar kabar Yuno.


"Bang Uno pan ulang, Bun?" tanya Pinea.


"Bang Yuno bentar lagi pulang," jawab Khafi. Dia sama bersemangatnya.


"Iya, kita harus tunggu Bang Yuno." Myesha mengusap kepala Pinea.


"Kalian doain Bang Yuno baik-baik aja di Amerika biar cepat pulang." Faiq memberi tahu.


Dua bocah itu mengangguk. Mereka dengan senang hati menyelipkan nama Abang mereka di setiap doa. Berharap segera berkumpul kembali seperti dulu.


Hari berganti bulan, Myesha terus menunggu kiriman surat dari Yuno. Ketika dia menelpon Renold atau Elja selalu ditolak, mereka menjawab dengan ketus dan tidak memberi tahu dengan pasti bagaimana keadaan Yuno.


Bulan pun berganti tahun, mereka tetap menunggu. Semoga tahun ini ada kabar dari Yuno.


Satu tahun berganti dua tahun, begitu seterusnya sampai tahun ke empat. Sepucuk surat datang. Tertulis bahwa itu surat ke 23 yang Yuno tulis. Tapi rupanya 22 surat yang lain tidak sampai ke mereka.


Tak apa, begitupun mereka gembira. Dengan antusias berkumpul di ruang tengah dan membacanya bersama-sama.


"Itu beneran surat dari Bang Yuno, Bun?" tanya Kahfi, dia menaruh tas sekolahnya. Baju anak itu juga sudah berganti menjadi putih biru.


Pinea sudah duduk di karpet, siap dibacakan surat. Faiq mengambil surat yang dipegang Myesha.


"Ayah buka sekarang." Amplop itu dibuka. Ada sebuah foto. 6 remaja laki-laki yang memakai almamater merah.


Tertulis dibelakangnya. 'Yuno, Divan, Marcell, Antony, Ravinio, Ferico.' Tampak tersenyum cerah.


Foto dioper, Myesha sangat senang melihat Yuno akrab dengan teman-temannya di Amerika. Anak kesayangannya itu sudah tumbuh besar dan tampan. Begitu pun Kahfi yang terus tersenyum melihat foto itu.


"Cepat baca suratnya." Suruh Myesha.


"Iya." Faiq membuka surat dari Yuno. Ada dua lembar dengan kertas berwarna abu-abu.


.


.


.


bersambung.


Jangan lupa pencet like