Unknown Baby

Unknown Baby
Sofa


Hal yang Faiq sukai dari Myesha adalah penurut. Apapun yang Faiq katakan Myesha akan percaya dan mengikuti, seolah Faiq selalu benar. Terkadang Faiq pikir karena Myesha itu bodoh dan polos, rupanya tidak. Myesha mau menurut hanya padanya. Ntah karena dia memberikan rasa aman dan nyaman untuk pertama kali, atau hanya karena dia adalah satu-satunya orang yang dipercayai.


Apapun itu, Faiq bersyukur. Setelah mengenal Myesha lebih jauh, beberapa hal yang Faiq tahu. Yakni istrinya itu bar-bar jika diusik, mudah belajar jika niat, tangguh dalam cita-cita.


"Beneran di sini, Mas?" tanya Myesha ketika Faiq mendudukkannya di sofa.


"Kenapa? Apa tempatnya kurang luas? Kita bisa di karpet aja kalau gitu."


Myesha menggeleng, dia melepaskan tangannya dari baju Faiq. Jantungnya berdebar. Bersyukur hanya tiga bulan bukan tiga lebaran seperti Bang Toyip. Kalau terlalu lama dia bisa lupa ajaran dari sesepuh Susi. Ah, soal gadis itu karena hamil di luar nikah akhirnya dia putus kuliah. Sementara Tina dia lanjut S2 di sana. Sampai sekarang masih suka membantu di posyandu.


"Sha, udah lama ya kita nggak berduan kayak gini." Faiq menekuk lututnya. Menyeimbangi tinggi Myesha.


Senyum manis datang dari wanita berkacamata itu. Ia melepaskan kacamatanya dan meletakkan di meja kecil samping soda. Lalu mengusap pipi suaminya dengan lembut. Sorot mata teduh dan penuh kasih.


"Aku juga kangen berduaan sama Mamas sayang."


Dor! Dor! Dor! Tembakan tepat sasaran. Tanpa diminta Myesha mau memanggilnya mamas. Hatinya luluh lantah. Meleleh seperti es batu di dalam es teh plastikan. Kini tak bisa menyembunyikan senyum sama sekali.


"Dedek sayang, cini cium Mamas." Faiq menyorkan wajahnya ke depan. Matanya tertutup. Menunggu kecupan dari Myesha.


Seperti baru pertama kali jatuh cinta, dengan malu-malu Myesha langsung maju. Mengecup bibir Faiq dengan cepat.


Faiq melayang bagai layangan yang benangnya putus lalu nyangkut di pohon pisang. Dia memukul sofa di depannya dengan gemas. Kecupan singkat yang sudah lama tidak dia rasakan.


"Gantian Mamas cium sini," ucap Myesha memajukan wajahnya. Menunjuk keningnya.


Langsung Faiq mencium kening itu lama, bahkan ludahnya sampai menempel di sana. Faiq menghapus dengan punggung tangan. Berusaha menutupi ludah itu supaya Myesha tidak tahu.


"Udah dua bulan lebih ya kita nggak anu-anu?"


Myesha mengangguk, mengingat terakhir anu-anu ketika kandungannya di awal bulan ke 9. Setelah itu Faiq menahan diri. Katanya takut anaknya brojol duluan karena dia terlalu semangat.


"Mas pingin, ya?" tanya Myesha.


Faiq mengangguk, dia mendekat dan mencium bibir istrinya. Tangannya memulai penjelajahan berbakal pengalaman.


Di sela ciuman, kancing baju Myesha dibuka. Faiq semakin baju dan mendekatkan tubuh mereka. Ciuman itu turun ke leher. Menjadi jejak petualang yang memberi tanda supaya tidak tersesat.


Tepat di depan gunung yang ukurannya jauh lebih besar dari sebelumnya, bibir Faiq memulai petualangan. Memberi tanda di setiap satu centi. Sampai pendakiannya sampai di atas puncak gunung.


Faiq ragu, apakah dia akan menghisap susu bergizi yang sejak dulu dia cari atau tidak. Pada akhirnya nafsu mengalahkan logika. Faiq meminum ASI layaknya bayi. Berusaha tak mengambil semua jatah Kahfi.


Myesha merasa sangat berbeda sekalipun sudah berulang kali menyusui. "Udah ah, Mas. Emang enak ya?"


Faiq menggeleng. Dia menutup lubang pancuran. "Nggak enak, tapi keluar terus ini gimana?"


"Ambil botol susu, Mas. Biar diminum Kahfi besok."


"Aku yang minum juga nggak papa loh, Sha."


"Ih nggaklah, mau lanjut nggak? Kalau mau lanjut ambil botol."


Faiq manyun sembari berdiri dan menurut untuk mengambil botol susu. Pada akhirnya jatah ASI itu tetap milik Kahfi. Dia hanya kebagian sedikit. Myesha tak suka berbagi dengannya.


"Lanjut, yuk." Ajak Faiq ketika botol susu sudah ditutup.


"Tapi--"


Faiq langsung mencium Myesha, dia tidak sabar. Saat ini juga ularnya harus maju mundur cantik di dalam gua. Sudah lama tidak berjumpa membuat si ular kangen berkunjung.


Pakaian tidak semua dilepas, hanya seperlunya untuk bertempur. Faiq tidak sabar. Dia menguasai area yang halal baginya.


Hingga pada titik Myesha duduk di pangkuannya. Membuat si ular bersilaturahmi lebih dalam dari biasanya. Rupanya Myesha juga mencari si ular. Ketika ular hanya diam saja malah Myesha yang mengacau.


"Kamu makin ahli ya," puji Faiq.


"Demi menghasilkan Kahfi kita kan buat banyak percobaan." Myesha masih maju mundur cantik.


Faiq tersenyum dan membawa Myesha berada di bawahnya lagi, sofa itu sempit namun cukup untuknya menunjukkan kegagahan.


Si Ular say hello sambil memporak-porandakan gua dengan lihainya. Membuat pemilik gua meremas batalan sofa karena tidak tahan dengan tingkah si ular yang semena mena.


"Aku keluar di dalam." Faiq memberi aba-aba.


Si ular yang masuk angin akhirnya muntah. Mengotori sofa. Harus dibersihkan nanti karena itu tempat main Yuno dan Kahfi.


Keringat bercucuran dari mereka berdua. Olah raga di tengah malam yang sudah lama tidak terjadi.


.


.


.


bersambung.


Part ini keterlaluan gk buat bocil?