
Langit berwarna biru dengan awan putih tipis, angin berembus menerbangkan dedaunan kering. Suasana kota Metro ramai di akhir pekan, jajanan di toples masih mengisi ruang tamu bekas lebaran beberapa hari lalu. Mungkin karena masih suasana lebaran, banyak orang berlalu lalang dengan baju khas lebaran untuk silaturahmi.
Sama seperti orang-orang, Yuno juga pulang, silaturahmi di keluarga yang sudah membesarkannya selama 12 tahun. Anak pertama keluarga Faiq telah kembali, bayi jabrik yang 25 tahun lalu ditemukan di depan rumah ketika hujan gerimis. Bayi yang mengubah dua manusia berlainan sifat menjadi keluarga.
Sesaat setelah kedatangan anak pertama mereka, Yuno. Suasana rumah menjadi sangat haru. Myesha tak hentinya menangis saking bahagianya. Dia mengabari ibu mertua sembari menangis sesenggukan.
"Kamu tinggi banget," ucap Faiq.
Bayi jabrik kesayangannya kini menjadi pemuda berusia 25 tahun yang sangat tinggi dan tampan. Tidak mirip dengannya, tetapi Faiq tetap bangga karena pernah membesarkan Yuno si bibit unggul, mengajarkan banyak hal padanya.
"Iya, Yah. Kayaknya aku tercipta buat jadi ganteng dan tinggi."
Kahfi yang tidak ingin kalah tiba-tiba menyela, "puji diri sendiri terus ya."
"Bagi duit jajan, Bang." Pinea mengulurkan tangannya pada Yuno. Bola matanya memancarkan sinar penuh harap.
Sudah lama tidak bertemu, kalimat pertama yang diucapkan Pinea adalah minta duit jajan.
"Minta berapa?"
"Seiklasnya yang penting banyak."
Yuno mengeluarkan dompet, memberikan seratus ribu pada Pinea.
"Yaelah, Bang. Jaman sekarang seratus ribu cuma sekali jilat, tambah dong."
Wajah Yuno berubah datar. "Untung kamu imut."
Yuno menambah dua ratus ribu lagi, menyisakan beberapa juta di dompetnya. Matanya melirik seisi rumah. Jauh berbeda dari terakhir kali dia lihat, catnya, perabotannya, dan suasananya.
Sudah 13 tahun berlalu, tentu saja banyak yang berbeda. Dari mulai Pinea yang dulu imut sekarang amit-amit, hingga perubahan pada lingkungan mereka.
"Fi, kardus di kamar Yuno ambil, gih. Ntar malem buat tidur Abangmu."
"Di sana juga ada peralatan gambar Bunda yang nggak kepake. Bantu pindahin, Yah."
Faiq mengalihkan pandangan ke Yuno, "kamu duduk dulu istirahat, biar kamarmu kita bereskan."
"Makasih, Yah."
Yuno mengembuskan napas lega sembari duduk di ruang tengah, dia menyenderkan kepalanya. Susah payah untuk kabur ke sini. Semua orang di perusahaannya tahu bahwa dia berlibur ke Jerman, tak ada yang menyangka bahwa dia putar arah ke Lampung.
Bagi Yuno, Lampung lebih spesial dan berharga dibandingkan negara indah manapun.
"Yuno, kamu mau makan apa?" tanya Myesha, dia sudah selesai telepon ibu mertua. Matanya terlihat sembab.
"Lele goreng, Bun. Aku kangen banget lele goreng gosong buatan Bunda."
Dari ia kecil masakan bundanya selalu aneh-aneh dan menyeramkan untuk dimakan. Hanya lele yang aman meskipun gosong, mungkin karena itu Yuno menyukai lele sampai sekarang.
Myesha mengambil kunci motor, tak lupa membawa tas rotan yang biasa dia bawa untuk belanja. Antusias sekali memasakkan makanan untuk putra kesayangannya.
Semua kasih sayang yang 13 tahun tertunda, ingin ia berikan sekaligus. Wajahnya ceria meskipun bengkak karena menangis haru, dia memacu motornya dengan kecepatan sedang.
Di rumah, Pinea sangat senang karena mendapatkan uang jajan 300 ribu dari Abangnya. Lumayan buat nongkrong. Hingga telepon dari Bunda masuk, memintanya untuk ke pasar membawa uang 300 ribu. Ternyata Bundanya itu lupa membawa dompet.
"Kok ke pasar bisa lupa bawa uang sih, Bun?"
"Namanya juga buru-buru, cepet ke sini bawa uang. Minta sama ayah."
Pinea berdecak, dia menutup teleponnya, matanya melirik Yuno yang kelelahan setelah perjalanan jauh. Tidak bisa minta duit lagi.
Di kamar atas, Ayah dan Kahfi sibuk memindahkan barang-barang. Ketika dihampiri Pinea, dia pria itu mengacuhkan.
"Pakai duit kamu dulu aja, Ayah males ngambil ke bawah. Tadi kan kamu dikasih duit 300 ribu."
"Yakin diganti, 'kan Yah?"
Bukannya menjawab, Faiq malah memenuhi panggilan Kahfi untuk ikut menggeser meja. Sepenuhnya mengabaikan Pinea.
"Yakin diganti 'kan, Yah?" tanya Pinea lagi. Tetap diacuhkan Faiq.
Telpon dari Bunda masuk lagi, menyuruhnya cepat ke pasar.
Uang 300 ribu yang baru dipegang akhirnya melayang hanya dalam waktu 15 menit. Selama perjalanan ke pasar naik angkot, Pinea mencoba tersenyum pada dunia sampai membuat penumpang lain heran. Mungkin dikira gadis kesurupan.
Bagi anak perempuan dalam keluarga, Pinea selalu legowo setiap saat. Menurut pengalamannya, uangnya tidak akan kembali.
Sama seperti lebaran waktu dia kecil, ketika kakek dan neneknya memberi dia uang jajan, Bunda selalu mengambilnya dengan alasan Pinea tidak bisa menyimpan uang. Korupsi keluarga pun terjadi sampai dia berusia 12 tahun.
Tetapi sekarang ada Abang Yuno yang tajir melintir, Pinea bisa minta apa saja dengan merengek.
"Hehehe," tawanya dengan senyum menyeringai. Menemukan solusi keuangannya.
Sesampainya di pasar, Bunda sudah menunggu, mereka belanja bersama memakai uang dari Yuno. Langsung habis 300 ribu bahkan masih ngutang.
bersambung
Hay gengs.
ketemu lagi sama Ka Umay 😆
extra part Yuno bakal nemenin kalian selama bulan agustus, tapi up tergantung keadaan ya gengs.
yang pasti dukungan kalian terhadap karya ini berpengaruh besar dalam up ataupun crazy up. jadi jangan lupa dukung lewat like, komen, vote, lempar bunga dan share. makasih banyak 😘