
Langit berwarna biru, cahaya sinar matahari begitu terik. Suara kendaraan terdengar dari jalan utama. Rizal berjongkok, dia menepuk pundak Yuno dengan pelan. Sahabatnya itu masih menangis sesenggukan.
Rizal tak tahu apa yang terjadi, tapi dia paham yang Yuno butuhkan sekarang adalah menangis. Meluapkan semua perasaan sakit yang sedang dirasakan. Dia tak bertanya apapun. Terus berada di samping Yuno dan menepuk pundaknya di saat Yuno memegang dada.
Lutut dan siku Yuno berdarah, tapi Rizal tahu bahwa bukan itu yang membuat Yuno menangis. Hati anak itu sekarang sedang sakit, melebihi rasa perih yang terlihat dari fisik.
"Aku ... bukan anak kandung Ayah dan Bunda. Apa yang harus aku lakukan? Keluarga yang aku anggap keluarga ternyata bukan!"
Tetasan air mata jatuh di jalan, Yuno masih menunduk. Tepukan tangan Rizal berhenti, dia terkejut dengan pernyataan barusan. Tak menyangka. Lalu tepukan itu datang lagi, kali ini disertai ucapan.
"Lalu kenapa? Yang terpenting adalah mereka menyanyangimu, 'kan? Untuk apa keluarga kandung kalau tidak peduli padamu seperti orang tuaku," ucapan itu begitu lirih.
Perlahan Yuno menoleh, menatap sahabatnya. Senyuman hangat dari Rizal diberikan, namun Yuno paham dari sorot matanya seolah mengatakan 'hidupmu lebih baik dariku' Yuno peka.
Tin! Tin! Tin!
Suara klakson motor orang yang membawa rumput, menyuruh mereka menjauh dari jalan sempit itu.
"Nangis itu boleh, tapi jangan sakiti diri sendiri." Rizal membantu Yuno berdiri.
Seperti seorang kakak laki-laki, Rizal membawa sepeda Yuno sembari menuntunnya ke panti asuhan. Duduk di kursi bawah pohon rambutan.
Yuno berhenti menangis, dia menghapus air matanya. Masih menunduk, tak berani melihat ke arah Rizal. Malu.
Sementara Rizal berjalan ke dalam panti, dia menaruh sabun yang baru dibeli. Lalu mengambil kotak P3K. Berjalan kembali ke bawah pohon rambutan. Berjongkok dan mengobati luka di lutut Yuno.
"Aku ditampar Bunda, dia lebih sayang dengan anak kandungnya." Yuno mengadu, dia ingin dibela.
Namun, Rizal malah tersenyum. Dia terus mengobati luka itu dengan alkohol lalu obat merah.
"Wah, ibu tiri itu memang jahat. Kamu harus kabur, jangan temui mereka lagi. Cepat kemasi barang-barangmu dan kabur malam ini."
Mendengar itu Yuno terkejut. "Bunda nggak sejahat itu kok, lagi pula aku yang salah karena dorong Pinea."
"Lah itu tau." Rizal mendongak ke atas. Melihat wajah Yuno yang murung.
"Jadi kamu nggak mau kabur nih? Mereka kan bukan orang tua kandungmu? Kamu nggak perlu sayang dan hidup bareng mereka," tanya Rava, sengaja memancing Yuno bicara.
"Gimanapun mereka keluargaku, aku sayang mereka. Aku cuma marah bentar kok. Nggak perlu sampai kabur."
Faiq yang mendengar itu mengembuskan napas lega. Masih berdiri dan lega bahwa Yuno baik-baik saja.
"Sembilan bulan di kandungan dan ikatan darah nggak bisa ngapus kebaikan ayah dan bundamu, mereka udah ngrawat kamu selama 12 tahun. Apalagi mereka selalu ngasih yang terbaik buat kamu."
Tatapan Rizal mengarah ke Faiq sembari tersenyum. Yuno baik-baik dan hanya butuh waktu, itu arti sorot mata Rizal. Membuat Faiq balas tersenyum. Dia berjalan keluar dari halaman panti, melewati anak-anak kecil yang sedang bermain.
Pria itu duduk di kursi samping gerbang, menunggu Yuno yang sedang bersama Rizal. Memberinya waktu untuk menenangkan diri.
Rizal mengambil tangan Yuno, kini mengobati sikunya. Terlihat Yuno meringis kesakitan.
"Kayak gini aja kesakitan, menurutmu gimana sakitnya Bundamu yang begadang waktu kamu sakit."
Mendengar itu Yuno menunduk, dia ingat ketika sakit DBD. Bunda menemaninya hingga berhari-hari di rumah sakit bersama Kahfi. Tidur di lantai yang dingin, demi dirinya.
Ayahnya waktu itu tidur di luar, kerja siang dan malam menemani di rumah sakit. Kahfi yang baru berumur 5 tahun terpaksa ijin tidak sekolah demi menemaninya juga. Mereka benar-benar menyayangi dia tanpa memandang anak kandung atau bukan.
Air mata Yuno menetes lagi, ingat kalimatnya yang sudah menyakiti hati Bunda. Belum pernah Bunda semarah itu sampai memukulnya. Dia terisak. "Aku sayang Bunda."
.
.
.
bersambung
jangan lupa like