
Pagi ini Myesha membuat nasi goreng spesial, perayaan untuk si ular yang memasuki gua dengan lancar. Tak hanya dua telur ceplok tetapi juga nasi gorengnya dicampur dengan irisan sosis. Dan yang pasti itu bukan sosis milik Andre.
Faiq masuk ke dapur dengan menggendong Yuno, baru kembali setelah berjemur di depan rumah. Selama berjemur Faiq mengamati pagar yang tak bergerbang.
"Sha, kita tunda dulu ke pantainya ya?" Faiq meminta pendapat. Sementara Myesha masih menata piring di meja.
"Kenapa? Kan mumpung tanggal merah."
"Uang dari begal buat tambahan bikin gerbang. Aku ada sih tabungan 6 juta. Tapi itu buat hal darurat. Apalagi kita kan sekarang punya bayi, harus nabung buat masa depannya juga."
Myesha berhenti menata, ia ingat sesuatu. Awalnya dia pikir tak perlu bilang hal ini ke Faiq tetapi mereka sudah suami istri. Masalah finansial harus ditanggung bersama.
"Aku juga punya tabungan dari buat komik. Bentar aku ambil."
"Eh, nggak usah. Uangmu ya uangmu, uangku baru uang kita bersama."
Myesha berhenti padahal baru melangkah. Ia berbalik menghadap Faiq.
"Nggaklah Mas. Uangku ya uang kita. Anggep aja kita sekarang satu tubuh, harus saling menopang satu sama lain."
Myesha berjalan ke kamarnya, mengambil buku tabungan yang sebelumnya Faiq tak ingin tahu sama sekali. Dari awal Faiq menolak menggunakan uang Myesha seberapapun dia butuh. Uang dari komikus, pastinya kecil. Dan itu hasil kerja keras Myesha dari remaja. Faiq tak ingin mengganggunya.
Sesaat kemudian Myesha kembali dengan membawa buku tabungan. Ia meletakkannya di meja dan mengambil Yuno yang berada di gendongan Faiq.
"Isinya berapa?" tanya Faiq sembari mengambil buku itu. Penasaran.
"Itu dari tiga judul komikku, sebagaian besar udah aku pakai."
Faiq membukanya, ia menghitung nolnya dari belakang. "Ha? 213 juta? Serius? I-ini nggak bohong kan?"
"Gaji komikus emang besar. Apalagi yang episodenya kuncian. Aku juga nggak pakai asisten jadi gajinya nggak dibagi."
Myesha masih menimang Yuno. Dulu dia ingin menggunakan uang itu untuk membahagiakan ayahnya. Menaikkan haji. Tetapi sekarang setelah dibuang keluarga keinginan itu hilang. Dia bukan orang yang boros.
"Sha, kok aku jadi ngrasa miskin ya? Kamu nggak nyesel nikah sama aku, 'kan?"
Saat ini harga diri Faiq seperti melayang jauh. Uang tabungannya hanya secuil dibanding uang Myesha. Padahal sebagai suami seharusnya dia bisa melampaui istrinya.
"Apaan sih Mas. Uangku juga uangmu. Kalau mau digunain buat gerbang ya pakai aja nggak papa. Aku percaya kok Mas bisa ngelola uang itu dengan baik."
"Aku terharu, Sha."
Faiq berhambur memeluk Myesha yang masih menggendong Yuno. Mencium pipi wanita itu.
"Oh ya nasib motorku gimana?"
"Ya ampun aku lupa, harusnya diambil kemaren."
"Yaudah habis sarapan ambil ya, Mas."
"Tapi, gimana ngambilnya ya. Siapa yang mau nganterin ke Natar?"
"Sama aku lah."
"Nggak bisa, Sha. Soalnya aku dah pesan tukang buat ngukur gerbang. Ntar kalo dateng tapi nggak ada orang di rumah jadi repot."
"Aku coba ke warung Riki. Siapa tahu dia bisa dimintai tolong."
"Riki kan kayak gitu orangnya." Myesha meragukan.
"Moga aja dia hari ini normal nggak amnesia."
"Yaudah. Sarapan dulu yuk."
Mereka sarapan dengan nikmat, tak lupa kerupuk warna putih menjadi pelengkap. Yuno anteng dengan dot nya di kereta bayi. Menunggu orang tua angkatnya sarapan.
Setelah sarapan Faiq putuskan ke warung Riki. Di sana pemuda berambut acak-acakan itu sedang menurunkan kardus dari motornya. Sepertinya baru pulang belanja. Faiq menengok ke kasir. Ada Mbak Lisna yang sedang mainan hp.
"Rik, bantuin aku."
Riki menoleh, mendapati Faiq berdiri di sebelahanya.
"Kamu siapa?"
Sejurus kemudian Faiq menampol kepala Riki. Membuat pemuda itu terhuyung ke depan. "Nggak usah becanda lagi. Aku nggak mau bahas CCTV. Aku cuma mau minta bantu ngambil motor di Natar."
Pemuda itu mengelus belakang kepalanya yang kena tampol.
"Emangnya si Myesha ke mana?"
"Nanti tukang gerbang dateng jadi dia harus tunggu rumah."
"Tumben buat gerbang."
"Soalnya anak Pak Burhan, si Andre yang ngobrol sama kamu kemarin. Dia godain Myesha waktu aku nggak ada di rumah."
"Oalah nggak nyerah juga ya tu orang godain Myesha, padahal kan Myesha culun, jelek pula. Apa bagusnya, nggak bakal aku kasih CCTV itu ke Andre. Aku benci sama bapaknya."
"Seengak jidat ya kamu bilang Myesha culun dan jelek. Nggak tau aja rasanya hareudang kalo sama dia. Panas dingin. Tapi jangan kasih CCTV itu ke Andre, dia bakal gunain itu buat goda Myesha."
Riki masih menata kardus mie di rak dalam.
"Loh, Abang sekarang jadi suami istri beneran sama Myesha?"
"Iya dong. Dia cantik trus baik, sayang kalo dianggurin."
"Agak susah percaya tapi ya sudahlah, bentar aku selesain nata ini dulu."
"Oke."
.
.
...
bersambung
Hargai aku lewat like, komen dan vote. Gaji komikus emang besar, makanya dulu aku pingin jadi komikus. Beda sama novelis yg cuma dpt recehan. 😢