
Panas matahari pagi ini terpancar sempurna, tak ada satupun awan yang menutupi. Langit biru mampu memberi semangat kepada setiap insan yang melihat dan mencoba percaya bahwa hari ini akan lebih baik. Secerah langit. Seindah awan. Silau oleh pancaran sinar. Myesha tersenyum melihatnya.
Di depan rumah sembari memangku Yuno, ia memberikan sinar matahari untuk bayi mungil itu. Mata bayi itu terbuka, menggeliat dengan tubuhnya yang kecil merasakan cerahnya mentari yang menyinari.
"Tidurmu nyeyak? Pipimu makin gembul ya."
Myesha mengangkatnya dan mencium pipi gembul Yuno. Bau bedak bayi yang khas tercium sempurna.
Perlahan tapi pasti gadis itu menikmati perannya sebagai ibu sementara, memberikan kasih sayang dan perhatian yang cukup. Ia tahu bagaimana diabaikan dan dibuang. Jika dari awal Myesha tak mengingat betapa perasaan sakit ditinggalkan itu menyakitkan, mungkin saat ini Yuno sudah dia tinggalkan di panti asuhan dan dia akan kabur ke Jakarta.
"Mbak," panggil Nara, adik Faiq.
Gadis itu menoleh ke samping, mendapati adik iparnya yang cantik. Ia tersenyum. Selama tinggal di sini Nara selalu menemaninya, menjadi teman berbincang supaya tidak kesepian.
Usianya tidak jauh dari Fifi, adik tirinya. Berbeda dari Fifi, Nara sangat ramah dan menghargainya. Hati yang kering akan keluarga perlahan mampu teringat kembali.
"Duduk sini, Na."
Kursi panjang dari bambu. Ada meja kecil di samping. Harumnya bunga yang berjejer di halaman mampu tercium, kesukaan Myesha dari rumah ini adalah hiasan mawar berbagai warna. Sepertinya para wanita di rumah ini sangat merawatnya.
Nara duduk, pandangan matanya mengamati mata Yuno yang terbuka. Ia tersenyum gemas melihat bayi mungil itu.
"Coba aku yang gendong," pintanya.
Myesha memindahkan Yuno ke tangan Nara dengan hati-hati.
"Hati-hati," kata Myesha.
Sinar matahari pagi menyinari mereka, menghangatkan tubuh seakan memberi energi.
"Kasihan Yuno, pasti nasibnya akan sama seperti Bang Faiq."
Tatapan mata Nara memelas. Merasa kasihan kepada bayi mungil yang kini berada di pangkuannya.
"Maksudnya dituntut sukses?" tanya Myesha.
Gadis itu menggeleng hingga rambut sebahunya bergoyang, bando warna pink di kepala terlihat manis dan sangat cocok dengan wajahnya.
"Bang Faiq tidak dituntut sukses, tapi sebagai anak laki-laki satu-satunya dia harus menanggung tekanan. Bukannya Mbak juga tahu gimana Bang Faiq kalau di depan Bapak?"
"Iya, aku tahu." Myesha mengalihkan pandangan ke bawah.
Hidup di antara perempuan, walaupun terlihat harmonis bukan berarti tidak ada masalah. Semua kakak Faiq memang sudah menikah dan tinggal jauh. Myesha sempat bertemu ketika acara yang dilaksanakan beberapa hari yang lalu.
Bapak mertuanya terlihat sangat membanggakan Yuno, pasti hal yang sama terjadi ketika Faiq lahir. Bagaimana Faiq menghadapi sikap cemburu para kakak perempuannya sedikit membuat Myesha merasa ngeri.
"Oh ya kapan kamu kembali ke Bandar Lampung?" tanya Myesha.
"Besok, sekalian sama temen yang mau SBMPTN di kampusku."
"Adikku juga ingin ke UNILA, kalau kamu senggang mungkin bisa nemui dia."
"Namanya siapa?"
"Fifi Cantika, baru naik kelas 3. Tahun besok katanya ingin daftar ke UNILA. Bisa satu kampus sama kamu."
"Ah ... tahun depan aku udah skripsi. Nggak jamin bisa ketemu."
Nara menyayangkan hal tersebut. Setelah lulus sepertinya dia akan langsung melamar bekerja. Berbeda dengan Faiq yang memilih menjadi dokter. Nara malah mengambil jurusan kimia murni.
"Nggak papa. Nggak jamin juga Fifi bisa nembus UNILA, tahu sendiri tesnya susah."
Mendengar itu Nara hanya diam. Dia sendiri bisa ke UNILA dengan mudah lewat jalur rapot. Teman-temannya lewat jalur mandiri pun tidak bisa ke UNILA.
"Tapi nanti kalau senggang aku ke Metro. Nemuin si baby Yuno, hehe."
"Beneran loh ya."
"Insyaallah."
Pagi itu mereka berbincang banyak hal. Cerita tentang jaman Myesha kuliah hingga bisa menjadi komikus muda. Tetapi Myesha tak menceritakan bahwa komiknya hampir dihentikan karena rating yang buruk.
Bersambung.
Kalo suka cerita ini jangan lupa like, komen, vote dan share. Makasih.