
"Sha, kita udah telat." Gerutu Faiq. Berusaha menjauhkan Myesha dari Aslan.
"Iya, Mas. Saya pergi dulu ya, jangan lupa dukung komik saya terus. Pencet bintang, subscribe, share dan komen."
Myesha melangkah meninggalkan Aslan dan mengikuti Faiq yang berjalan duluan.
"Siap, Author," jawab Aslan bersemangat.
Myesha meninggalkan Aslan di parkiran yang memandangnya sampai masuk ke dalam rumah sakit. Bertemu dengan beberapa suster. Faiq masih diam dengan muka kesal. Bibir pria itu juga manyun.
"Mas cemburu, ya?" tanya Myesha sembari menoleh ke samping. Mereka berjalan beriringan menuju kamar rawat inap.
"Nggak!" Jawabnya ketus. Tangannya dilipat di dada.
"Dia cuma penggemar," kata Myesha lagi.
"Emang kamu sering ya bertemu penggemar kayak gitu?"
Myesha menggeleng. "Nggak kok. Jarang ada yang kayak gitu."
"Jangan ladenin penggemar model kayak gitu bisa nggak?" tanya Faiq lagi. Lebih terang-terangan.
"Harus ramah sama penggemar, Mas. Tanpa mereka komikku nggak bisa berkembang."
Faiq mengembuskan napas berat, dibanding Myesha yang posesif dengan rekan kerjanya, dia yang malah bersikap kekanak-kanakan.
Langkah mereka terhenti di depan pintu kamar yang dihuni ayah Myesha. Ada 4 pasien di sana beserta keluarga yang menemani.
"Ayo masuk," ajak Faiq ketika Myesha menghentikan langkah.
"Gendong Yuno, Mas." Pinta Myesha.
Tanpa bertanya Faiq mengambil Yuno dari gendongan Myesha dan memberikan plastik berisi buah kepada Myesha. Bayi itu anteng dengan mainannya. Sesekali melihat ke arah Myesha dan Faiq bergantian.
"Tha ja ta dha." Tangan bayi itu terus bergerak. Memukul ke udara kosong dengan mobilan kecil kesayangannya.
Perlahan Myesha memasuki ruangan, semua pandangan tertuju padanya. Bahkan dari pasien lain yang tak dia kenal.
"Assalamualaikum," sapa mereka.
Ibu Tuti duduk di samping ayahnya yang berbaring, mata mereka bertatapan. Tuti segera menghampiri putri tirinya tersebut.
"Kalian akhirnya datang." Tuti tersenyum cerah.
"Jadi ini anak pertama yang selalu dibilang kaya raya sama Bude Tuti." Celetuk seorang keluarga dari pasien lain.
"Menantu saya ini dokter, uangnya banyak." Tuti menoleh ke arah sumber suara.
"Uangnya banyak kok mertuanya bukan dirawat di ruang VVIP?" Sindir yang lain.
"Mereka kan baru datang, nanti kami juga pindah ke ruang VVIP." Tuti membela lagi.
Faiq hanya diam, menunggu reaksi Myesha yang merah padam menahan emosi akibat perbuatan Tuti yang seenak jidat.
"Saya akan membayar operasi Ayah, tapi Bunda sama Mas Faiq tolong keluar. Saya ingin bicara berdua dengan Ayah."
Tak ingin terpancing dengan Tuti, Myesha memilih menahan diri dan seperti rencana awal yakni mengatakan semua yang dia rasakan kepada ayahnya. Rasa sakitnya selama ini, perasaan dibuang dan kesedihannya.
"Tentu, cepat temui ayahmu. Dia udah kangen banget sama kamu." Tuti memegang tangan Myesha. Menepuknya seolah mereka akrab.
"Aku bawa Yuno keluar, kalau sudah kamu bisa telpon." Faiq berbisik kepada Myesha dan dibalas anggukan.
Tuti dan Faiq keluar dari ruangan, kini mata Myesha hanya tertuju kepada ayahnya yang terbaring lemah di ranjang. Mata mereka bertemu, tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
Perlahan Myesha duduk di kursi tepat di sebelah kanan ranjang pasien. Masih menatap ayahnya yang kurus kering. Tak ada kegagahan yang dulu menggendongnya. Tangan yang dulu dia genggam sekarang diinfus.
"Myesha ...." Kalimat ayahnya tercekat.
Myesha masih diam, menahan diri. Emosi dan rasa kasihan bercampur menjadi satu. Membuat wanita berkacamata itu sulit mengungkapkan yang dirasa.
....
bersambung.
Hargai aku lewat like, komen, vote dan share.
visual ada di IG @Ka_umay8