Unknown Baby

Unknown Baby
Hal Biasa


Suara gerbang dibuka, mobil memasuki halaman rumah langsung ke garasi. Yuno buru-buru menghabiskan susu di botol lalu turun dari kursi. Dia berlari ke depan rumah. Ketika pintu rumah dibuka langsung menampilkan sosok pria yang menjadi tulang punggung keluarga.


Memakai kemeja putih dengan jas putih yang ditaruh di bahu. Ia juga membawa tas hitam di tangan kiri.


"Assalamualaikum," ucapnya.


"Waalaikumsalam," jawab Myesha dari arah dapur. Wanita itu kembali memotong kacang panjang. Tak menyambut Faiq karena tugas itu kini sudah digantikan putra kecilnya.


"Ayaaa ...." Yuno berlari menghampiri Faiq.


Segera pria itu menunduk dan memeluk bocah kecil itu, menggendongnya dengan sekali angkat. Membawa masuk batita itu ke dalam rumah.


"Yo ain." Yuno menunjuk pistol yang baru dibeli. Tergeletak di samping robot. Tak jauh dari televisi dan aquarium tempat tinggal Cucut.


"Nanti ya, Ayah mau mandi dulu." Faiq mengusap rambut hitam Yuno sembari tersenyum.


Senyum di bibir mungil batita itu memudar, berganti dengan cemberut. Dia tidak suka ditolak setelah seharian menunggu kepulangan Faiq.


"Mas, mandi sekalian mandiin Yuno, ya." Saran Myesha. Matanya melirik jam di dinding. Sudah setengah 5 dan dia belum masak. Terlalu sore jika harus memandikan Yuno juga.


Faiq mengangguk. "Mau mandi bareng Ayah?" tanya Faiq kepada anak yang tengah digendongnya. Dengan riang Yuno mengangguk setuju.


Tak ada yang spesial hari itu, mereka seperti keluarga pada umumnya. Makan malam bersama lalu bermain dengan Yuno sementara Myesha menganggambar di lantai atas. Menidurkan Yuno di ranjang utama setelah Faiq memberikan dongeng.


Sekarang tanpa Myesha pun Yuno bisa tidur lelap, cukup dengan Faiq bercerita. Yuno akan selalu antusias. Setelah anak itu tidur Faiq berjalan ke lantai atas.


Memeluk Myesha dari belakang dan merasakan aroma wangi di leher wanita itu, mengecup ringan.


"Aku ganggu, ya?" tanya Faiq. Merasa bersalah tapi juga tidak melepaskan diri dari Myesha.


"Nggak kok." Myesha mengusap pipi pria itu.


"Kalau gitu anu-anu yuk, mumpung Yuno udah tidur." Ajak Faiq. Kembali mencium leher Myesha.


Anggukan setuju datang dengan malu-malu, wajah wanita itu tersenyum. Ia meletakkan kacamata di samping tablet kemudian berdiri.


Mereka berhadapan dan saling memandang, ciuman datang di bibir wanita itu disertai pelukan yang membuat tubuh mereka menempel. Semakin intens dan menuntut.


Tangan Faiq mulai membuka kancing baju Myesha, menjatuhkannya di lantai tanpa peduli kotor atau tidak. Faiq mengangkat wanita bertubuh ringan itu ke dalam gendongannya. Masih belum mau melepas ciuman hingga sampai di depan ranjang lantai atas.


"Apa hari ini Yuno rewel?" tanya Faiq sembari menidurkan Myesha di kasur.


"Dia semakin akrab dengan Yuriel."


Dibanding kata akrab Yuno lebih banyak bertengkar dan berebut mainan dengan tetangganya itu. Namun bagi Myesha, Yuriel adalah teman pertama Yuno sejak mereka belum bisa berjalan. Jika sehari tidak bertemu Yuriel maka Yuno akan merengek minta diantarkan ke rumah Yuriel.


"Baguslah kalau mereka jadi temen deket," ucap Faiq. Dia mengusap kepala Myesha yang berada di bawahnya. Ciuman lembut datang di bibir wanita itu, membuatnya terpejam menikmati setiap sensasi yang Faiq berikan.


.


.


bersambung