Unknown Baby

Unknown Baby
Senter Ponsel


Perasaan tidak nyaman dan gelisah menghantui Faiq, dia buru-buru memandikan Yuno ala kadarnya dan segera meraih ponsel untuk Menghubungi Tina.


"Hallo, Tin. Bisa tolong jaga Yuno bentar nggak? Aku mau jemput Myesha."


Suara dari seberang terdengar berisik. Tina membesarkan volume ponselnya.


"Apa? Nggak denger?"


"Ke sini jaga Yuno, nanti aku kasih pulsa." Faiq mengeraskan suaranya.


"Oh pulsa? Siap. Otw ke rumah Pak Dokter."


Faiq mengembuskan napas berat setelah mematikan telpon. Ia melihat ke Yuno yang belum memakai baju, kemudian ke sekeliling kamar yang berantakan. Kini, dia tahu perjuangan  Myesha mengasuh Yuno ketika dia tidak ada. Dibanding khawatir jawaban Dhamar tentang perasaan Myesha, Faiq lebih khawatir terjadi hal buruk pada gadis itu.


Faiq segera memakaikan baju kepada bayi mungil itu. Kemudian menunggu Tina datang lima menit kemudian.


"Jaga Yuno ya."


"Aku udah kayak pengasuh, deh." Keluh Tina.


"Mau pulsa nggak?"


"Aku lebih mau dikenalin ke dokter ganteng."


Faiq terdiam kemudian teringat koas laki-laki yang menjadi asisten Sella.


"Nanti aku kenalin."


"Serius?"


Faiq mengangguk, "kalau kamu jaga Yuno dengan baik nanti aku kenalin."


"Siap Pak dokter! Yuno bakal aman terkendali."


Mendengar itu Faiq segera mengambil kunci mobil. "Aku pergi dulu."


"Hati-hati."


Faiq berlari menuju garasi dan masuk mobilnya, keluar rumah sembari terus mencoba menelpon Myesha. Tetapi gadis itu tak bisa dihubungi. Faiq segera mengegas mobilnya dengan kecepatan tinggi melewati SD tingkat dan berbelok. Langit semakin gelap. Berharap tidak terjadi apapun dengan Myesha.


Setelah melewati kampus teknik UNILA, Faiq mencoba menghubungi Myesha lagi. Memintanya jangan lewat Tri Kora hingga dia sampai. Tetapi masih sama, Myesha tak bisa dihubungi. 


Matanya melirik ke samping, ada kuburan China dan lambang PSHT. Dia pernah ikut PSHT dulu, tetapi semenjak kerja sudah tidak ada waktu lagi dan hanya menghadiri beberapa kali acara PSHT. Dulu, Faiq sempat menjadi pelatih waktu masih SMA. Dan juga ikut kejuaraan di Bandar Lampung.


Sesampainya di Suka Damai, tak jauh dari patung jagung di pertigaan. Suara azan terdengar. Hatinya semakin risau dan memacu kendaraan kencang.


Suara azan dari pondok Ismailyun terdengar jelas. Faiq menjawab azan dengan jantung berdebar. Ia takut, cemas. Apalagi sekarang tidak bisa ngebut karena banyak orang di jalan. Terlebih kondisi jalan yang masih dalam perbaikan.


"Harusnya Myesha sudah sampai sini." Faiq melihat ke depan, mencoba mencari motor matic berwarna pink dan pemiliknya. Tetapi tak ada satupun. Hatinya cemas. Kenapa Myesha belum sampai?


30 menit kemudian Tri Kora sudah ada di depan mata, langit gelap dengan sedikit remang-remang cahaya sisa fajar. Kabun karet yang lebat. Padahal, jika. siang hari tempat ini sangat cantik seperti berada di Jepang dengan dua sisi ranting yang membentuk seperti gua di sepanjang jalan.


Ada motor ambruk di depan sana. Tetapi tak ada orang satupun. Faiq keluar dari mobil dan memastikan motor itu. Benar, motor warna pink itu milik Myesha. Ia memandang sekeliling, tak ada siapapun.


"Tolong!" Teriakan datang dari dalam kebun karet.


Faiq segera berlari sekencang mungkin dengan menggunakan senter ponsel. Menghindari pohon karet yang menjulang tinggi. Ia yakin bahwa itu suara Myesha.


Tepat di depannya ada dua orang pria bertindak tak senonoh. Faiq segera menendang punggung salah satunya sampai terjungkal ke depan.


Sementara yang satunya mengayunkan celurit ke Faiq, segera pemuda itu menghindar dan menendang kaki begal itu hingga berlutut kemudian mematahkan tangannya yang membawa celurit sampai celurit itu terjatuh.


Myesha mengambil celurit itu dengan tangan bergetar. Ia ingin melindungi dirinya.


"Aaakk, sakit!" Teriak begal yang tangannya dipatahkan Faiq, ia meringkuk kesakitan. Faiq menendangnya lagi dan mematahkan kakinya sampai begal itu pingsan.


Kini, Faiq berhadapan dengan begal satunya. Hanya mengandalkan cahaya dari ponselnya yang terjatuh.


Faiq menghajar begal itu tepat ke ulu hati, membuat lumpuh tak berdaya dan pingsan. Kemudian ia mematahkan tangan dan kaki begal seperti yang dia lakukan kepada begal yang lain. Itu adalah hukuman supaya mereka tidak bisa berbuat jahat lagi.


Myesha masih menangis sembari membawa celurit, Faiq melepas jaket yang mereka beli di pasar malam dan memakaikannya ke Myesha.


"Puas ngeyelnya?" tanya Faiq sembari berjongkok. Napasnya terengah-engah setelah menghadapi dua begal.


"Maaf, hiks." Myesha menangis sesenggukan. Perlahan Faiq menepuk punggung Myesha supaya tenang. Faiq mengambil celurit yang Myesha pegang dan menaruh di tanah.


Kaki gadis itu masih gemetar belum bisa berdiri. Cukup lama sampai nyamuk memakan mereka.


"Banyak nyamuk, ayo pulang. Aku akan menelpon polisi."


Faiq membantu Myesha berdiri. Gadis itu menghapus air matanya, berhenti padahal baru beberapa langkah berjalan.


"Hiks, bentar." Myesha meraih ponsel Faiq yang digunakan sebagai senter.


Kemudian berbalik menuju dua begal yang tengah pingsan, Myesha meraba dompet mereka dan mengambil semua uang yang ada di sana.


"Kamu ngapain, Sha?" tanya Faiq bingung.


"Hiks, motorku lecet hisk. Mereka harus bayar biaya perbaikannya, hiks." Myesha masih sesenggukan.


Myesha mengantongkan kembali dompet itu ke mereka.


"Kamu ngerampok perampok?"


Dengan jalan pincang Myesha berjalan kembali ke arah Faiq, "bukan, ini cuma ganti rugi hiks, ayo pulang hiks."


Malam itu dua begal ditangkap polisi dan motor Myesha dibawa ke bengkel terdekat. Sementara Myesha mengantongi uang 2 juta 300 ribu yang diambil dari begal.


.


.


.


.


.


.


..


.


..


Bersambung