
"Mas Faiq!" Panggil Myesha keras.
Sella dan Faiq segera menoleh, menghentikan obrolan mereka. Melihat ke sumber suara. Ada Myesha merah padam di sana. Wanita itu melepaskan ikat rambutnya dan menaruhnya di kantung celana. Mengibaskan rambut sebelum berjalan masuk ke ruangan Faiq.
"Sha, kok nggak ngabarin dulu mau ke sini?" tanya Faiq heran.
"Emang harus ya ngabarin dulu buat nemuin suami sendiri?"
Nada marah dari Myesha membuat Faiq bingung.
"Nggak sih, tapi kalau seumpama kamu ke sini pas aku lagi keluar kan jadi sia-sia."
"Kalau Mas nggak ada ya aku pulang, kok repot." Sewotnya.
Faiq semakin bingung, apa salahnya sampai Myesha terlihat marah. Ia melirik ke Sella. Menebak apa yang dipikirkan Myesha.
"Oh ya, kenalkan dia Dr. Sella. Sahabatku sejak SMA."
Sella tersenyum dan mengulurkan tangan. Dengan ragu Myesha menyambutnya.
"Saya datang loh ke pernikahan kalian."
"Terima kasih, aku Myesha istri Mas Faiq."
"Kamu author komik Yusha sang pangeran, 'kan? Saya sangat suka baca komik kamu dan nggak sabar nunggu karyamu yang lain."
Wajah Myesha berubah cerah, dia memberikan rantang ke Faiq dan mendekat ke Sella.
"Tapi banyak yang nggak suka Yusha, makasih ya Dokter Sella suka komikku. Jangan lupa kasih bintang penuh, like dan juga komen."
"Siapa yang nggak suka? Aneh kalau orang nggak suka sama komik sebagus itu. Apalagi adegan waktu Yusha menyelamatkan kekaisaran dari Iblis Ibony, menurut saya itu keren banget."
"Aku juga suka banget adegan itu," sambut Myesha.
Kini Faiq merasa ter-kacangkan. Dua perempuan itu asik bercengrama mengobrolkan sesuatu yang tidak dia mengerti. Obrolannya pun melebar ke mana-mana.
"Sha, ini rantang apa?" tanya Faiq.
"Oh itu aku masak buat makan siang Mas. Dimakan ya."
"Kita makan bareng yuk?"
"Mas makan duluan aja, aku mau periksa ke Dokter Sella dulu."
"Emang kamu sakit apa? Kenapa nggak cerita ke aku?"
"Biasalah masalah perempuan."
"Ayo ke ruangan saya, hari ini saya tidak banyak pasien."
Myesha mengangguk setuju, dengan senyum cerah berjalan mengikuti Sella menuju ruangannya. Faiq hanya mengangkat bahu melihat mereka pergi.
Faiq duduk di kursinya, ia membuka rantang pemberian Myesha. Aromanya sedap. Ada ayam, nasi dan sayur. Ia mencicipi sayur kacang, rasanya pedas manis. Enak. Tidak sia-sia ibunya di rumah selama satu minggu ini.
"Sebenarnya komik seperti apa yang dibuat Myesha?" Gumamnya penasaran.
Faiq pernah melihat berbagai sketsa komik Myesha di lantai dua. Tapi tidak kepo sedikitpun tentangnya. Ia meraih ponselnya lagi, mendownload aplikasi berwarna hijau tempat komik Myesha dipublikasikan.
Sembari makan dia membaca komik Yusha sang pangeran. Ternyata sangat menarik untuk orang yang tidak pernah membaca komik sepertinya.
Sementara itu di ruangan Sella, Myesha sedang berkonsultasi tentang hubungan suami istri. Ia membahas bahwa apakah menggunakan pil KB aman di saat dia belum pernah melahirkan. Dan bersyukur Sella mengetahui masalah itu.
"Kalau kamu sendiri, sebenarnya sekarang pingin punya anak sendiri atau nggak?" tanya Sella.
Myesha terdiam sesaat kemudian menembuskan napas berat.
"Sekarang aku masih fokus ke Yuno. Aku pingin nunda punya anak sampai Yuno balita, tapi nggak tau Mas Faiq setuju atau nggak."
"Faiq sangat mencintai kamu, saya percaya dia akan setuju. Saya sudah lama mengenal Faiq, dia tipe orang yang sulit jatuh cinta. Tapi sekali jatuh cinta dia akan melakukan apapun untuk orang yang dicintai."
Mendengar itu Myesha tersenyum. Dia juga merasakan cinta Faiq untuknya sangatlah tulus. Tak rewel dan menerima dia apa adanya. Ternyata Dokter Sella adalah orang yang baik. Dia menyesal sempat khawatir. Mereka berbincang cukup lama sampai jam 1 setelah itu Myesha memutuskan untuk pulang.
Sesampainya di rumah Myesha terkejut melihat ibu mertuanya tergeletak di lantai, ia segera menggoyangkan tubuh wanita separuh baya itu panik.
"Ibu! Ibu bangun!" tetap tak ada sautan. Ia mengecek napasnya. Masih bernapas, itu berarti ibu mertuanya hanya pingsan.
Ia teringat Yuno, segera Myesha berlari ke kamarnya. Melihat keadaan bayi mungilnya di dalam box bayi. Yuno tidak ada. Menghilang.
Seketika itu tubuh Myesha bergetar. Ia berlari ke lantai atas dan ke setiap sudut ruangan. Akan tetapi, tak menemukan bayi jabrik kesayangannya.
"Yuno!" Myesha berteriak panik.
Matanya panas, ia meraih ponsel dan segera menghubungi Faiq. Tangannya bergetar dan air matanya menetes tanpa henti.
"Hallo, Sha?"
"Yuno hilang, Mas! Dia nggak ada di rumah. Ibu pingsan," ucap Myesha sesenggukan.
"Aku akan segera pulang." Jawaban dari seberang sebelum ponsel ditutup.
Dunia Myesha serasa runtuh, bayi kecilnya hilang. Anak yang dia rawat sepenuh hati selama 4 bulan ini. Dia tak pernah membayangkan akan perpisahan dengan Yuno. Bagaimana keadaan anak itu sekarang? Pasti ketakutan.
Tak lama kemudian Faiq sampai ke rumah, menemukan ibunya terbaring di karpet lantai. Sementara Myesha menangis di sampingnya.
Faiq segera memeriksa keadaan ibunya, tidak apa-apa. Hanya pingsan. Lalu memeluk Myesha dan mencoba menenangkan wanita itu.
"Ini salahku, seharusnya aku tidak meninggalkan Yuno." Ia menangis sesenggukan.
Faiq mengusap rambut wanita itu, kemudian menepuk punggungnya.
"Tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Kita pasti bisa menemukan Yuno."
Walaupun berkata demikian nyatanya Faiq sama cemasnya, dia sudah menghubungi detektif Dito. Beliau dalam perjalanan ke sini bersama para rekannya.
.
.
.
Bersambung
Bentar lagi season 1 tamat dan hiatus ya.
jangan lupa votenya ya, makasih.