Unknown Baby

Unknown Baby
Es Teh


Angin semilir seolah me-nina bobokan bayi mungil yang kini tidur di kereta bayi setelah menangis kencang. Myesha benar-benar menunggu Bu Warsih di kursi yang lumayan jauh dengan gerombolan ibu-ibu. Dia tidak ingin berbaur karena nada bicara mereka yang keras dan kadang tak ia mengerti.


Gadis itu meminum es teh yang dia beli di warung samping rumah ini, cukup untuk mengurangi dahaga di udara yang sangat panas. Keringat bercucuran dari pelipisnya, ia mengibaskan tangan di udara mengurasi hawa panas tersebut. 


Rumah bercat biru ini bersebelahan dengan klinik, tempat praktek Bu Warsih yang seorang bidan. Ada plakat lumayan besar di pinggir jalan, tepat di depan klinik. Kata Tina, Bu Warsih memiliki dua orang anak. Yang pertama adalah Halima, ia seorang suster. Dan satu lagi anak laki-laki bernama Dafa yang kini duduk di bangku SMP.


Sampai pukul satu siang Myesha menunggu, ia lapar dan akhirnya membeli roti di warung samping. Tina dan Bu Warsih masih berbincang, ntah apa. Myesha hanya meliriknya sebentar.


Pukul setengah dua Bu Warsih selesai dan posyandu itu sudah sepi, hanya ada Tina, Bu Warsih dan Myesha. Tina masih mencatat sesuatu di buku jurnal besar berwarna biru.


Sedangkan Bu Warsih sudah sendirian setelah minum air putih di botol. Myesha segera menghampirinya sembari mendorong kereta bayi yang di dalamnya ada Yuno.


"Bu, bisa bicara sebentar?" tanya Myesha.


"Oh ya, maaf tadi lupa kalau kamu mau konsul. Ada keluhan apa?" tanya Bu Warsih. 


"Itu, sebenernya ...." Myesha tak tahu harus memulai bertanya dari mana.


Ia ingin tahu tentang kejadian malam itu, ketika para warga mendatangi rumah dan menuduhnya kumpul kebo. Kata Tina orang yang melaporkan dirinya dan Faiq adalah Bu Warsih. Tetapi Myesha takut menyinggung dan dianggap asal tuduh.


"Tentang cara merawat bayi setelah imunisasi? Bukannya suamimu dokter. Pasti dia tahu." Tebak Bu Warsih setelah melihat Myesha tak kunjung bicara. 


"Bukan itu, sebenernya saya mau tanya. Tentang malam itu, ketika warga nuduh saya dan Mas Faiq. Saya dengar Bu Warsih yang melaporkan. Kenapa Bu Warsih melaporkan saya dan Mas Faiq mau membuang bayi, apa Ibu melihat sendiri?"


Mendengar pertanyaan itu Bu Warsih terkejut. Wanita berusia 46 tahun itu diam sejenak. Ia tak menyangka Myesha berani menanyakan langsung padanya. Tatapan mata gadis di hadapannya sangat ingin mendengar penjelasan.


"Anu ... sebenernya itu saya cuma denger dari Halima. Katanya saat pulang kerja dia lihat kamu dan Faiq mau buang bayi. Kata Halima juga dia sering denger suara bayi dari arah rumah kalian, tapi dia nggak berani ngomong ke Lurah jadi saya yang lapor."


Bu Warsih menghindari tatapan Myesha.


"Kenapa Halima nggak tanya dulu ke saya atau Mas Faiq?"


"Halima bilang dia nggak berani."


Myesha memejamkan mata, ia sangat emosi saat ini. Akibat Halima, dia dituduh dan digrebek warga. Suara bayi? Selama menggambar Myesha sering memakai headset jadi dia tak tahu apakah benar ada suara bayi atau tidak.


Myesha memandang wanita itu dengan tatapan nanar, "mau pulang ke mana? Ini kan rumah anda."


Myesha menunjuk pintu rumah Bu Warsih yang hanya beberapa langkah dari mereka. Posyandu ini memang diadakan di depan rumah Bu Warsih yang memiliki teras luas.


Terlihat betul bahwa wanita separuh baya itu ingin menghindari Myesha. Tak ingin memberikan jawaban lebih dari itu hingga beralasan tak masuk akal.


"Oh iya lupa, anu saya mau ke kamar mandi. Itu pintu gerbangnya di sana." Tunjuk Bu Warsih seperti hendak mengusir Myesha.


Myesha segera berdiri, jika berlama-lama di sini ia tak yakin bisa mengontrol darah tingginya. Sekarang tinggal ke Halima. Apakah dia berbohong atau tidak. Apakah benar dia mendengar suara bayi? Dari mana?  Apa dia hanya mengada-ngada? Atau mereka bersekongkol? berbagai pertanyaan terus berputar di otak Myesha.


Gadis itu mendorong kereta bayi keluar dari halaman rumah Bu Warsih, Tina berkata bahwa dia masih banyak pekerjaan jadi tidak bisa pulang sekarang. Alhasil, Myesha dan Yuno pulang sendiri.


Ketika di jalan gadis itu melihat warung bakso, aromanya yang sedap mengundang gadis itu untuk membeli. Sudah lama dia tidak makan bakso. Sekalian mengalihkan pikiran sejenak dari praduga, prakira dan suuzon yang terus terngiang di kepalanya.


Warung bakso bertenda biru itu tak jauh dari rumah, hanya satu belokan. Walaupun begitu Myesha tidak pernah beli di sini.


"Mang, baksonya dua dibungkus." Pesan Myesha sembari duduk di kursi kayu panjang.


Warung bakso ini sepi, hanya ada pakde penjual bakso dan wanita sepatuh baya yang sedang mencuci piring di samping tenda. Kipas angin menyala mengurangi hawa panas di dalam tenda.


"Tunggu bentar, Neng."


Asap menguap setelah Pakde Bakso membuka panci, memasukan beberapa bakso dengan ukuran besar. Kemudian mengambil plastik untuk racikan bakso di dalam mangkok bergambar ayam jago.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa vote buat dedek Yuno.